[WKS1] Bertetangga dengan Suku Badui

Sudah lama saya meninggalkan kampung itu.  Tepatnya pertengahan tahun 1994, sejak masa WKS kami dinyatakan selesai.  Dilanjutkan dengan pengurusan administrasi dan test masuk pendidikan spesialis.  Beberapa tahun terakhir ada keinginan untuk napak tilas, tapi selalu ada kendala. Mungkin Allah akan menentukan waktu yang terbaik nanti.

Tapi saat membaca berita di harian Kompas di bawah ini  http://health.kompas.com/read/2012/03/02/09020471/Radang.Paru.Meluas.di.Baduy.Sudah.Lima.Anak.Meninggal saya langsung mengalami deja vu.  Bukan apa-apa, kepala puskesmas yang disebutkan di berita itu, dulunya adalah staf paramedis saya.  Waktu itu dia baru lulus akademi perawat, dan masih pengantin baru pula.  Kalau sekarang sudah menjadi kepala puskesmas, maka berarti jenjang kariernya cukup bagus.

“Deja vu” yang saya maksudkan adalah tempat dinas saya waktu itu, yakni Puskesmas Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Jawa Barat. Setelah provinsi Banten diresmikan, maka Kabupaten Lebak masuk ke provinsi baru tersebut. 1990 , setelah lulus dari fakultas kedokteran – sebagaimana teman yang lain – kami wajib lapor ke Departemen Kesehatan beserta pilihan kabupaten dan provinsi tempat mengabdi.    Kami memilih kabupaten Lebak,  provinsi Jawa Barat, karena – setelah mempelajari dengan seksama –  di kabupaten Lebak terdapat beberapa kecamatan yang masa kerjanya hanya 2 tahun.  Perhitungan lama masa kerja ini dipertimbangkan dari segi keterpencilan lokasi. Misalnya, penempatan di kota besar/sedang di Jawa lamanya 5 tahun, dan itu pun lebih banyak penuh.  Artinya, kalau kita bersikeras bertugas di kota tersebut, maka siap-siap saja hidup freelance selama menunggu. Penempatan di kota besar di luar Jawa, lamanya 3 tahun. Sedangkan kota kecil  di luar Jawa, terutama Indonesia Timur, cuma 2 tahun.  Satu-satunya kabupaten di pulau Jawa yang lamanya 2 tahun ya di kabupaten Lebak ini.

Singkat cerita, akhirnya keluarga kecil kami (waktu itu dengan 2 anak balita yang usianya cuma terpaut 16 bulan) menjadi warga kecamatan Leuwidamar.  Saya bertugas sebagai kepala Puskesmas kecamatan Leuwidamar, sedangkan suami sebagai kepala puskesmas kecamatan Bojongmanik. Jarak antar puskesmas kami 1 jam perjalanan dengan mobil.  Untuk tempat tinggal kami memutuskan menempati rumah dinas saya.  Pertimbangannya, ada listrik.  Meskipun listrik tersebut cuma ada dari jam 6 sore sampai jam 6 pagi.  Maklum tenaganya berasal dari diesel.  Sedangkan di Bojongmanik malahan tanpa listrik sepanjang hari.  Kalau mau ada lampu,  ya pakai genset.  Kedua kecamatan tersebut mengapit sebuah desa yang ditempati oleh suku Badui Dalam, yaitu desa Kanekes.  Istilahnya, Leuwidamar adalah pintu depan perkampungan Badui, sedangkan Bojongmanik adalah pintu belakangnya.  Namun secara administratif, Kanekes masuk ke kecamatan Leuwidamar.

Bagaimana dengan komunikasi? Wartel terdekat ada di sebelah kantor pos di Rangkasbitung.  Jadi kalau mau menelepon kami harus terguncang-guncang di mobil dulu selama 1 jam.  Sampai di wartel, kalau datangnya pas di prime time interlokal yaitu di atas jam 21, maka siap-siap saja untuk antri panjaaang.  Perlu diketahui, jaman dulu telkom memberlakukan peraturan diskon tarif SLJJ sebesar 50% kalau menelepon dari jam 21 – 6 .  Tapi untuk komunikasi melalui pos, alhamdulillah lancar.  Suami salah satu perawat puskesmas adalah pegawai kantor pos. Jadi kalau ada surat buat saya selalu diantar pertama kali!  


Rumah dinas kami terletak persis di sebelah puskesmas.  Ada 3 kamar tidur.  Yang kami pakai hanya 1 kamar, sedangkan kamar yang lain dipakai untuk praktek sore, serta ada 1 kamar yang dibiarkan kosong sebagai tempat main anak-anak sekaligus kamar tidur tamu.  Lantai rumah berupa ubin yang warnanya hitam dan lembab.  Demi kesehatan, dengan biaya sendiri kami tutup seluruh lantai rumah dengan karpet plastik.  Beres. Di rumah dinas inilah anak-anak tumbuh besar.  Saat jam kerja, mereka bebas bermain.   Baik di rumah maupun di puskesmas.  Berinteraksi dengan berbagai macam orang sakit pengunjung puskesmas.  Kondisi itu tak urung membuat kami was-was juga dengan risiko penularan penyakit.  Namun, Alhamdulillah, mereka sehat-sehat saja sampai masa dewasanya sekarang.

Sekali waktu ada kunjungan ke desa-desa.  Baik untuk memantau posyandu, menghadiri undangan, atau mengecek puskesmas pembantu.  Tentu saja kedua balita saya selalu turut serta.  Alhamdulillah mereka tidak rewel saat diajak ke berbagai kunjungan tersebut.  Cuma kalau sedang bertamu di rumah penduduk dan disuguhi minuman, mereka selalu protes, “Umi! Kok minumnya gak manis, sih?”  He..he…maklumlah kebiasaan suku Sunda kalau minum teh selalu tawar.  Belakangan, kebiasaan minum teh tawar ini saya adopsi dengan pertimbangan kesehatan.  Atau saat berada di posyandu desa yang agak ke daerah Badui.  Tiba-tiba salah satu anak ingin BAB atau BAK.  Mana ada WC di rumah penduduk! Adanya sungai.  Diajak ke air, anak menolak.  Diajak ke hutan malah menangis.  Duuh….

Musim kemarau tiba.  Sumur sebagai sumber air bersih andalan pun kering.  Tetangga yang saya minta bantuan mencuci membawa baju-baju kami ke sungai.  Seorang tetangga yang lain minta ijin untuk mengajak anak-anak mandi di belik (sungai kecil).  Maka saya pun ikut ke belik tersebut untuk memastikan kondisinya aman dan airnya cukup bersih buat mandi.

Sekali waktu, saya menginap di rumah dinas suami di Bojongmanik.  1 jam perjalanan dengan jalan berbatu-batu cukup melelahkan.  Namun sesampainya di sana,  capek-capek pun sirna karena diterpa dengan udara yang cukup sejuk bahkan terkadang membuat saya kedinginan.  Suasana di Bojongmanik lebih sepi, pasien pun lebih sedikit.  Malam tanpa listrik. Genset yang bergemuruh hanya cukup untuk 3 lampu.  Di kamar tidur, ruang tamu dan di teras depan.


Salah satu kenikmatan saat itu adalah ketika musim durian tiba.  Setiap hari suami pulang bawa durian.  Terkadang kalau duriannya cukup banyak (baik beli maupun dikasih), mau bawa di motor susah.  Maka buah-buah berduri itupun cukup dititipkan ke sopir colt (angkot Bojongmanik – Rangkasbitung).  Pas tiba di depan rumah, mereka tinggal menurunkan begitu saja durian-durian tersebut di pinggir jalan.  Teriak ke orang puskesmas, maka mereka pun mafhum, ada durian buat bu dokter.

He..he.. Bagaimana interaksi dengan orang Badui?

Tunggu di tulisan edisi berikutnya ya….

NB. Googling…ternyata foto PKM saya ada! Dulu bentuknya juga seperti ini namun tanpa foyer depan. Rumdis saya ada di sebelah kanannya (tidak tampak)
sumber : http://pkmleuwidamarblog.wordpress.com
Gambar 2 : jalan Leuwidamar – Bojongmanik. sumber : advrider.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s