[WKS1 – Badui] Dari Frambusia sampai Batu Kacang

Sebagai kepala puskesmas Leuwidamar,  wilayah kerja saya meliputi  desa Kanekes, yaitu desa tempat tinggal suku Badui Dalam.  Suku ini – waktu itu – sangat tertutup terhadap intervensi medis dunia luar.  Bahkan dinas kesehatan pun sudah memberikan blok warna khusus untuk desa Kanekes pada peta target cakupan imunisasi, pemeriksaan ibu hamil, maupun P2M (pemberantasan penyakit menular).  Artinya, spesial untuk desa Kanekes, kalau target tidak terpenuhi itu sangat dimaklumi.  Lumayan, mengurangi beban kerja. 

Hanya ada satu penyakit yang membuat suku Badui Dalam mau membuka pintunya untuk pengobatan dari puskesmas, yaitu penyakit Frambusia.  Nama lainnya adalah Yaws, atau Patek.  Teman-teman yang arek Suroboyo pasti familiar dengan ungkapan misuh a la Suroboyo yang ini, “Wis gak pateken aku”.  Arti ‘pateken’ disini adalah kena penyakit patek alias Frambusia.  Penyakit yang disebabkan oleh bakteri golongan Treponema ini awalnya hanya berupa gerombolan gelembung-gelembung di tungkai yang terasa sangat nyeri.  Warna gelembungnya merah, jadi mirip dengan sekumpulan buah Frambozen. Pada stadium lanjut, penyakit bisa merusak tulang dan menyebabkan kecacatan. Ya, mirip kusta, karena bakteri penyebabnya pun masih satu keluarga.  Sebenarnya pengobatannya cukup mudah, yakni dengan pemberian antibiotika golongan Penisillin.  Namun rupanya untuk penyakit yang satu ini suku Baduy belum menemukan obat dari hutannya, sehingga mau tak mau mereka menerima pengobatan medis.

Bicara tentang pengobatan tradisional, memang suku Baduy cukup piawai.  Bahkan untuk penyakit setaraf hepatitis pun mereka mengklaim bisa mengobati sendiri. Seorang pu’un  (dukun) Baduy pernah menunjukkan sebatang kayu warna kuning yang dikatakannya bisa mengobati penyakit kuning (hepatitis).  Sayangnya, saya dulu tak berkesempatan untuk belajar obat-obatan herbal a la Baduy ini.

Baduy Dalam, masih teguh memegang adat istiadat.  Di antaranya adalah, tidak menggunakan alas kaki, pantang naik kendaraan, dan bajunya merupakana tenunan sendiri dan selalu berwarna gelap atau putih.  Warna gelapnya, kalau tidak hitam ya biru tua.   Terkadang, kalau di jalan ketemu orang Baduy dalam kami sengaja menggodanya.   Para petugas puskesmas selalu mengajak mereka yang berjalan kaki itu untuk menumpang mobil pusling (Toyota Kijang tahun 1980 an, yang masih berbentuk persegi).  Tentu saja mereka menolak!  Hatta ke Jakarta pun mereka tempuh dengan berjalan kaki.  Caranya cukup unik, yaitu dengan menyusuri rel kereta api. Dijamin tidak akan kesasar…he..he..he…  Dan hal itu sudah pernah terbukti dengan keberhasilan mereka menjumpai pak Harto,  sang penguasa orde baru di Istana Negara.

Dalam hal menjaga kelestarian lingkungan, Baduy Dalam cukup mumpuni.  Salah satunya yang masih saya ingat adalah tentang sabun mandi.  Mereka menerima keberadaan sabun mandi untuk membersihkan badan, namun yang diperbolehkan hanya yang berwana putih.

Adapun para anggota suku Baduy Luar, menempati desa-desa di sekitar Kanekes.  Beberapa puluh KK bahkan sudah memeluk agama Islam atas binaan dari Muhammadiyah.  Sudah meninggalkan kepercayaan aslinya yang animisme, yaitu Sunda Wiwitan.  Selain bertani, Baduy Luar ini juga berdagang kerajinan seperti tas anyaman, kain tenun, atau golok.  Golok ini asli buatan sendiri.  Mereka menjualnya dari rumah ke rumah.  Pada suatu pagi, saya dikejutkan munculnya seorang laki-laki bersarung dan berserban di ruang makan.  Kontan saya berteriak terkejut!  Bukannya apa-apa, soalnya di pagi hari di dalam rumah, tentu saja saya tak mengenakan jilbab.  Si laki-laki juga terkejut dan bingung dengan teriakan saya.  Setelah tenang baru jelas bahwa dia adalah laki-laki Baduy Luar  yang mau menawarkan golok.  Seusai beli golok, kami diberi bonus sebuah batu kecil berbentuk kacang tanah yang disebutnya ‘batu kacang’, dan sebongkah batu berkilat, bentuknya tak beraturan yang disebutnya ‘batu kaca’.  Sayangnya, batu kacang usianya tak lama karena hilang.  Sedangkan batu kaca sempat menemani kami selama beberapa tahun kemudian.

Waktu pemilu.  Kami para PNS sejak beberapa waktu sebelumnya sudah mendapat briefing tentang target-target perolehan suara.  Maklumlah dulu jaman orba dengan parpol yang hanya 3 biji, dan sudah jelas kalau PNS harus begini dan begitu.  Lalu bagaimana dengan suku Baduy? Ternyata gampang! Seorang staf puskesmas sudah terlatih dalam melaksanakan pemungutan suara di desa Kanekes.  Cukup menanyakan kepada sang jaro (kepala desa), “Mau ikut pemerintah tidak?” “Mau!” sang jaro spontan menjawab.  Karena memang prinsip hidup Baduy adalah tidak saling mengganggu.  Selama mereka bisa hidup tenang dan tidak diganggu maka mereka juga tidak mengganggu program-program pemerintah.  Dengan jawaban ‘mau’ itulah, maka PPS dengan sigap langsung memberikan coblosan pada gambar yang di tengah!  (nin)

gambar : anak-anak baduy dalam, sumber : antara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s