[Mozaik Blog Competition] Kado Itu…….Ya Buku

Kolom hobi dalam formulir riwayat hidup saya tidak pernah berubah sejak puluhan tahun yang lalu.  Sederhana saja dan tidak neko-neko, yakni ‘membaca’.   Hobi membaca terbentuk sejak saya dilanggankan majalah Si Kuncung oleh ibu pada awal 1970. Inilah majalah anak-anak pertama di jamannya.  Kertasnya koran, tanpa dijilid.  Jadi majalah itu berbentuk lembaran-lembaran saja.  Sedangkan koleksi buku mulai saya lakukan beberapa tahun sesudahnya.

Maka, toko buku adalah salah satu tempat destinasi wisata keluarga di malam minggu yang cukup efektif.  Nah, di Surabaya, kota kelahiran dan kehidupan saya, toko buku pertama dan satu-satunya yang berskala besar saat itu adalah “Sari Agung”.  Lokasinya di jalan Tunjungan.  Saat ini toko itu sudah almarhum. Namun saya masih punya kenangan berupa kertas pembungkus buku beserta struk pembayarannya.  Buatan tahun 1980,  dengan harga buku 264 halaman cuma seribu tujuh ratus lima puluh rupiah.  Yang juga masih saya ingat, harga komik Tintin ukuran besar adalah seribu dua ratus rupiah.  Di tahun 1977-1978 untuk membeli sebuah komik Tintin maka kami (3 bersaudara) mesti patungan uang saku, masing-masing 400 rupiah. Konsekuensinya, di buku komik itu mesti tercantum tiga nama sebagai pemilik.  Hmmm…alangkah bahagianya seandainya buku saat ini masih ‘semurah’ itu.

Singkat cerita, sebagai penggemar buku yang sudah merasakan asam garam manfaatnya, maka saya ingin orang lain juga merasakan hal yang sama.  Awalnya kami bersaudara membuat perpustakaan kecil di rumah dan dikelola bersama. Kemudian seiring dengan perkembangan hidup berkeluarga dengan anak-anak yang sebagian sudah dewasa akhirnya buku-buku kami pindah tangan diwariskan ke anak masing-masing.  Jadi jangan heran apabila di lemari buku saya masih tersimpan buku-buku terbitan Balai Pustaka yang jadul-jadul itu.  Malah ada buku warisan dari ayah saya, antara lain “Di Medan Perang”nya Trisnojoewono dan “Pending Emas”nya Herlina!

Adapun kebiasaan memberikan kado berupa buku, sudah berjalan sekitar sepuluh tahun terakhir ini.  Jadi, acara apa pun – pernikahan, aqiqah, ulang tahun, khitanan, dan lain-lain – kalau saya berkesempatan dapat undangan, maka Insya Allah akan saya beri kado berupa buku.   Tentu saja judul bukunya disesuaikan dengan tema acara dan siapa penerimanya.  Meskipun demikian, hobi memberi kado buku ini sempat terhenti saat para mempelai “demam  minta kado amplop” saja.  Tandanya, di kartu undangan tertera kode gambar celengan.  Kalau ada tanda celengan itu, jengah juga kalau kita datang dengan membawa barang.  Untunglah, demam tersebut hanya semusim. Sekarang tidak pernah lagi saya jumpai kode celengan tersebut.

Seninya memberi kado berupa buku :
1. Kita harus jeli memilih judul.  Kalau judul yang terlalu populer, bukan tak mungkin ada beberapa undangan lain yang memberi kado serupa.
2. Buku-buku referensi yang ber “hardcover”  dan harganya selangit, memang afdol buat dibungkus.  Kesannya bungkusannya besar dan berat, yang bawa jadi pede.  Tapi harus dipertimbangkan apakah referensi itu kira-kira bermanfaat untuk si penerima.
3. Buku tak terlalu tebal, namun isinya sangat bermanfaat dan sesuai dengan profesi serta hobi si penerima, mungkin cocok dibuat kado. Kalau kurang pede karena kadonya kecil sehingga takut terselip lantaran acara diadakan di gedung mewah, bisa memberi beberapa buah atau digabung dengan barang lain.  Atau patungan dengan teman lain, tentu
saja.
4.  Dan ternyata, kado buku itu secara nominal bisa lebih mahal dari kado amplop, lho.
5. Terakhir, beberapa buku yang saya terima sebagai kado pernikahan dulu  (usia pernikahan hampir dirayakan perak),  sampai sekarang masih tersimpan di lemari buku. Tentu saja dengan kertas yang makin menguning……
(nin)

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba

http://mozaikpublishouse.multiply.com/journal/item/17/Mozaik_Blog_Competition_Arti_Buku_Buatku

2 thoughts on “[Mozaik Blog Competition] Kado Itu…….Ya Buku

  1. saya ingin mendapatkan buku bacaan murid SD yang diterbitkan BAlai Pustaka tahun 1970 sampai 1980-an….entah mengapa ada kerinduan yg sangat dalam untuk kembali membaca buku buku tersebut yg bisa membawa saya pada kenangan masa kecil. di mana saya bisa mendapatkannya? misalnya Menanti Hujan Turun, Sang Pedagang, Petani Pepaya dan sebagainya. sudikah bapak/ibu , saudara/i menghubungi saya di nomor 08126351201 (siswati). bantuan bapak ibu, saudara/i sangat saya harapkan. terimakasih.

    • terimakasih atas kunjungan ke blog ini, bu Siswati. Kelihatannya kita sebaya, ya. Semoga saja ada yang merespon harapan ibu. Atau mungkin ibu bisa berkunjung ke perpustakaan daerah setempat, atau jalan-jalan ke pasar buku bekas – semoga saja masih ada pasar semacam ini. Kalau kita berkunjung ke TMII, ada 1 kios yang berjualan buku bekas dan mereka juga ikut berpameran kalau sedang ada book fair. Ibu juga bisa nikmati tulisan saya tentang buku2 lama di sini
      Dan tulisan ini beserta tulisan yang lain insya Allah sudah dibukukan dan akan launching pada 9 Juni 2013 yad di Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s