[ASIX] Berbagi Pengalaman dengan Ibu PNS

Siapa bilang ibu bekerja tak bisa memberikan ASI eksklusif? Berikut ini sharing pengalaman dari salah seorang (mantan) pasien saya yang bekerja sebagai PNS. Hikmah yang bisa diambil :
1. Memang memberikan ASIX di era sekarang tidak mudah dan penuh tantangan. Tapi tantangan tersebut bukannya untuk dihindari, melainkan dicari jalan keluarnya.
2. Kerjasama dan kekompakan dengan suami sangat penting untuk menghadapi badai tantangan itu.

SEMOGA MENGINSPIRASI!

“Saya amat senang menjadi pasien di JIH sejak program kehamilan s/d melahirkan. Sejak hamil, dr.Prita sudah memeriksa payudara saya apakah memiliki puting keluar atau tidak. Sementara di RS lain, teman saya tidak mendapatkan pemeriksaan seperti ini. Awalnya saya tidak tahu sama sekali tentang ASI eksklusif, saya hanya diperingatkan oleh dr.Prita agar TIDAK memberikan susu formula kepada anak saya dan melarang KERAS penggunaan botol dot. Tentu saja hal ini bertentangan dengan iklan tentang susu formula yang sudah sangat populer dan melekat pada masyarakat kita.

Alhamdulilah suami saya sangat mendukung saya untuk program ASI eksklusif ini, dan dialah yang banyak mencari tahu di internet dan majalah tentang ASI eksklusif. Suami saya banyak belajar dari AIMI ASI yaitu Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia yang mana anjurannya sejalan dengan nasihat dari dr.Prita. Dalam komunitas ibu menyusui ini, sangat disarankan (bahkan diwajibkan) untuk melakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini) sesaat setelah lahir. Kemudian dilanjutkan dengan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan. Hanya ASI. Tidak susu formula, air putih, apalagi makanan lainnya seperti pisang dll. Tindakan IMD ini saya dapatkan pada JIH sesaat setelah lahir. Setelah proses melahirkan secara normal yang saya alami, masih dengan dipenuhi darah, bahkan tali pusar antara saya dan anak saya masih belum dipotong, saya langsung dianjurkan oleh dr.Prita untuk meletakkan bayi mungil saya di sekitar payudara. Dan proses ini berlangsung selama kurang lebih 1 jam. Anak saya mendapatkan cairan emas (kandungan kolostrum) pada masa awal pemberian ASI. Sungguh hal ini sangat tidak tergantikan dengan susu formula terhebat sekalipun.

Selanjutnya proses pemberian ASI berjalan normal sebagaimana mestinya. Namun tantangan berikutnya yang saya hadapi adalah saya harus kembali masuk kantor setelah masa cuti saya selesai. Mulailah segala perlengkapan dan pengetahuan kami siapkan. Mulai dari memerah ASI sebulan sebelum masuk kerja. Dan sesuai dengan anjuran dokter dari klinik Laktasi, lebih baik memerah dengan tangan karena dapat langsung merasakan jika ada gumpalan pada payudara. Jika dengan tangan, kita cukup menekan pada “pabrik” nya saja. Berbeda hal nya jika dengan breast pump. Payudara dihisap/disedot hanya dari puting saja. Selain itu, kami mulai belajar bagaimana proses menyimpan ASI perahan. Dari fresh setelah di perah, disimpan pada kulkas biasa (bukan freezer) beberapa saat, kemudian dipindahkan ke freezer. Karena ASI hasil perahan TIDAK boleh mengalami perubahan suhu yang drastis. Misalnya setelah perah, langsung dimasukkan ke freezer. Atau sebaliknya, dari freezer langsung dihangatkan untuk diminum.

Pada awal hari masuk kerja, anak saya di rumah bersama ibu saya. Dan kami sudah mulai melatihnya dengan pemberian melalui Cup Feeder (seperti gelas sloki kecil). Namun anak saya susah dan menangis saat proses minum susu melalui Cup Feeder. Hal ini berlangsung selama sekitar 3 hari. Dan tentu saja, ibu saya mulai putus asa karena tidak ingin cucu kesayangannya kekurangan asupan gizi, dan mulai menawarkan kepada saya agar diberikan melalui dot. Saya dan suami memberikan support pada ibu, dalam hal ini yang mengasuh anak saya ketika saya bekerja. Support ini sangat penting, karena butuh kesabaran yang ekstra untuk memberikan ASI tidak melalui dot. Hingga kami mengganti dari Cup Feeder menjadi Advanced Softcup Feeder. Dengan alat ini, anak saya lebih mudah meminum susu serta ibu saya juga lebih mudah dalam proses pemberian susu. Adapun beberapa alat yang dapat digunakan sebagai alternatif pengganti dot adalah: sendok, pipet, cup feeder/gelas sloki atau softcup feeder.

Alhamdulillah proses ini berjalan dengan baik, bahkan anak saya tidak suka diberikan minum melalui dot, dan saat ini pada usia 5 bulan, dia sudah bisa minum melalui gelas kecil. Adapun proses memerah ASI ini HARUS dilakukan secara rutin. Tidak menunggu sampai payudara terasa keras, baru mulai memerah. Saya sendiri sebisa mungkin setiap 2-3 jam disempatkan waktu untuk memerah. Hal ini mudah saya lakukan jika di kantor. Kadang di ruang menyusui ataupun di dalam toilet. Bahkan saat di pesawat sekalipun, saya pernah memerah dalam toilet pesawat. Dan dilanjutkan saat pesawat mendarat di toilet bandara. Semakin sering ASI diperah, semakin banyak juga produksinya.

Insya Allah ASI ekslusif dapat berhasil jika mendapat dukungan dan kerja sama yg baik antara suami, istri dan pengasuh. Sebelum diberikan kepada pengasuh, anak HARUS sudah dilatih terlebih dahulu untuk meminum ASI melalui cup feeder, jadi kita tinggal melatih pengasuhnya saja. Proses latihan ini memang tidak sebentar, perlu kesabaran. Namun, Insya Allah usaha dan niat baik akan menghasilkan hasil yang baik.

Sekian pengalaman saya selama 5 bulan ini, semoga bermanfaat bagi yang membaca, saya berharap dapat terus memberikan ASI kepada anak saya sampai usianya 2 tahun, semoga Allah membantu saya dan para ibu menyusui lainnya, amin. “

Cerita lainnya bisa dilihat di sini
http://jih.co.id/testimoni-pasien/?wpcrp=1#hreview-5

Gambar : salah satu slide dari presentasi DR. dr. Utami Roesli pada PIT Fetomaternal, 2011

4 thoughts on “[ASIX] Berbagi Pengalaman dengan Ibu PNS

  1. Assalamu’alaikum dokter.. masihkah memungkinkan untuk bisa melakukan IMD dan penundaan pemotongan tali pusat untuk persalinan sesar??? saya amat sangat ingin melakukan dua proses utama ini dok… tapi sudah divonis dokter untuk sesar karena ketuban banyak dan bayi melintang..

    mohon infonya dok…

    • Peluang ada tapi sangat bergantung kpd kebijakan di ruang operasi yg tentu saja sangat berbeda dgn di kamar bersalin normal. Lagipula di ruang operasi ada lebih dari satu dokter spesialis, yaitu sp. Anestesi dan sp. Anak yg tentunya mempunyaipertimbangan masing2. Mengingat indikasi operasinya kuat (jadi bukan sekedar “vonis” dokter), mohon diterima dan disyukuri saja. IMD pasca operasi hanyalah IMD yg tertunda. Coba buktikan bahwa sekeluarnya dari kamar operasi pun kita masih bisa IMD meskipun masih kliyengan dan kaki masih lumpuh….

  2. saya hanya khawatir jika IMD tidak dilakukan diawal persalinan akan berakibat pada dedek bayi yg tidak mendapatkan haknya untuk mendapatkan ASI tapi langsung diberikan sufor oleh para bidan dan dr.anak (pengalaman teman ada yg seperti ini dok, dengan alasan dedek bayi panas dan harus segera diberikan sufor)..

    Bagaimana dengan penundaan tali pusat bu dokter? saat ini lagi ‘ngetrend’ lotus birth apakah hanya bisa dilakukan dengan persalinan normal?..

    • Utk masalah pemberian sufor, ibu berhak utk menolak hal tsb. Bahkan di tempat saya, utk menolak/meminta sufor hrs pakai tanda tangan di formulir khusus. Terkait dgn hal itu, baca jurnal saya yg berjudul “Penghargaan utk para ibu. Menyusui pun dijamin oleh undang-undang “.
      Utk penundaan pemotongan tali pusat, masih kontroversi. Ada keuntungan dan kerugiannya. Lotus Birth menurut saya tidak sesuai dgn prinsip islam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s