Korban “Orang Pintar”

Saya tidak anti pengobatan alternatif. Syaratnya, pengobatan tersebut tidak melibatkan pihak ketiga alias jin, tidak mengandung unsur syirik, tidak menipu dengan memanfaatkan kegalauan orang, dan cara pengobatannya dapat diterima logika.

Meski demikian, fanatisme buta dan keyakinan tanpa dasar sering membuat seseorang tetap mendatangi rumah pengobatan alternatif dan menaruh kepercayaan yang besar bahwa dirinya telah ‘diobati’ oleh sang penyembuh.

Buktinya, iklan-iklan di koran kuning tentang berbagai terapi alternatif terus tersaji setiap hari. Iklan-iklan bombastis tersebut bahkan dilengkapi dengan daftar penyakit yang bisa diobati oleh sang terapis. Tidak tanggung-tanggung, boleh dikatakan segala macam penyakit bisa disembuhkan oleh satu orang saja. Dari gatal sampai kanker, dari paru-paru basah sampai kemandulan. Terkadang disertai garansi, kalau tidak sembuh uang kembali!
Salah satu pasien saya telah menjadi korbannya.

Ceritanya, sepasang suami istri datang berkonsultasi karena setelah hampir 2 tahun pernikahan, tapi kok belum dikaruniai kehamilan. Pada pemeriksaan pertama ditemukan kista berdiameter 4 sentimeter di indung telur istri. Karena ukurannya masih di bawah 5 senti dan tidak ada keluhan, maka kista tersebut masih diobservasi dulu. Dilakukan pemeriksaan laboratorium dan dianjurkan datang saat haid bulan depan untuk diperiksa kembali ukuran kistanya.

Dua bulan berselang …………………………….
Suami istri tersebut kembali lagi untuk kontrol. Suami melaporkan bahwa kista tersebut telah dioperasi di sebuah kota di Jawa Barat. Operasi berlangsung di sebuah rumah dan tidak dilaksanakan oleh seorang dokter. Lho!? Namun mereka berdua tetap bersikeras bahwa operasi telah berlangsung dan tumor sudah diangkat. Bahkan,”Saya melihat sendiri tumornya, seperti lendir warna kuning”, ujar istri meyakinkan.


Akhirnya saya periksa di bagian perutnya. Masya Allah…memang ada goresan yang masih terdapat bekas darahya. Tentu saja tidak dibalut. Tapi tunggu dulu! Goresan tersebut ternyata bukan bekas pisau bedah namun lebih mirip goresan jarum atau silet saja. Ya Allah…tega sekali dukun penipu itu! (lihat gambar)

“Bu, ini cuma bohong-bohongan saja operasinya. Mari kita lihat kistanya!” saya mulai memeriksa dengan USG. Betul saja…kista masih bertengger dengan anggunnya di tempat yang sama seperti dua bulan yang lalu. Ukurannya pun masih tetap. Saya tidak terlalu lama memeriksa karena pasien masih merasa nyeri di bekas ‘irisan operasi’nya.

Kejadian yang seperti ini sebenarnya sudah cukup sering. Pura-pura operasi amandel, wasir, dan bermacam-macam tumor. Dan akting si dukun memang cukup meyakinkan. Setelah merapal beberapa mantra, maka ………. abrakadabra! Seonggok tumor tiba-tiba telah berada dalam genggamannya. Lengkap dengan darah-darahnya. Tak lupa pasien diberi kenang-kenangan bekas irisan seperti halnya pasien saya tersebut.

Anehnya sampai sekarang praktek penipuan tersebut masih berlangsung. Pasiennya juga berderet-deret, bahkan antri dan pakai daftar tunggu. Tindakan tersebut juga tidak gratis lho….. Pasien harus membayar mahar yang tidak murah (meski mungkin masih lebih murah dibandingkan dengan operasi secara medis). Tapi sebandingkah dengan hasil yang didapatkan?

Daripada berobat ke ‘orang pintar’ lebih baik ke orang bodoh saja.

NB. Foto menunjukkan goresan dari sang dukun alternatif di bagian perut

6 thoughts on “Korban “Orang Pintar”

  1. iya ibu, masih banyak dan terlampau banyak masy kita yg tak teredukasi dengan baik. dukun ponari yang pernah heboh juga salah satunya. hmm… jadi pengen mengoptimalkan fungsi puskesmas nih bu🙂

    • memang banyak dan masih banyak. Gunakan itu sebagai lahan da’wah. Memerangi kemusyrikan adalah jihad. Bagus sekali ide untuk mengoptimalkan fungsi puskesmas. Fungsi yang mana yang mau dioptimalkan?

  2. jika selama ini puskesmas hanya sebatas sarana untuk ‘mengobati’ masyarakat yang sakit, kenapa tak dicoba juga untuk menjadi sarana untuk ‘mencegah’ masyarakat agar tidak sakit. Jika sudah begitu, masyarakat bisa mengakses informasi tentang sanitasi, yang jelas berpengaruh terhadap fisik,kesehatan dan daya tahan manusia-nya. Mencegah kan selalu lebih baik dibanding dengan mengobati.

    Tapi bu, masa namanya jadi Puskesmasling ? alias pusat kesehatan masyarakat dan lingkungan🙂

    • tidak perlu ganti nama atau tambah nama. Di setiap puskesmas pasti ada petugas Kesling (kesehatan lingkungan). Beliau ini yang mengurusi sumber air bersih, MCK, rumah sehat, dll. Di puskesmas jadwal penyuluhan selalu ada. Jadi sebenarnya, semua yang mbak Dezia sebutkan itu sudah jadi tugas puskesmas. Yang perlu adalah revitalisasi. Seperti halnya revitalisasi posyandu. Puskesmas, dokter inpres, posyandu, itu semua program peninggalan orde baru, yang baru terasa manfaatnya di kala tidak ada. Alhamdulillah kesadaran untuk revitalisasi segera muncul.

  3. Mau tanya dok..mau cari 2nd opinion.
    senin, 25 mei 2015 saya merasakan nyeri di perut sebelah kanan yg cukup kerap. Terutama ketika saya berdiri cukup lama.
    rabu akhirnya saya periksa ke dokter kandungan.
    ternyata malah ketemu kista di ovarium kiri saya sebesar 2,9cm.

    sblmnya..saya pernah operasi pd akhir 2013. Sebenarnya operasi itu berdasarkan suspect ca ovarium ( skor ca125 saya 757). Namun ternyata ketika operasi, selain terdapat kista di ovarium kanan saya, dokternya curiga asites di perut saya bukan krn ca. Ternyata benar. Saya terkena TB peritonitis berdasarkan hasil biopsi.

    kembali ke kasus terbaru saya..
    obsgyn saya meresepkan antibiotik dan anti nyeri. Apabila obat habis tp masih nyeri, saya dirujuk utk melakukan appendicogram. Sedangkan kista di kiri di observasi dulu.
    sejak berobat tgl 28 mei sampai kmrn, perut sudah tdk terasa nyeri lg.
    tp hari ini tgl 2 juni..muncul lg. Sebagai info, saya ke kantor naik commuterline yg super penuh itu.

    Nah yg mau saya tanyakan:
    1. Apakah nyeri ini terkait dgn posisi tertentu..sebab awal merasa nyeri memang ketika saya lama berbelanja di pasar.
    2. Apa mempang mengarah ke usus buntu? Sebab saya coba tekuk kaki kanan saya tidak terasa sakit di perut.
    3. Utk observasi kista periksa lagi kapan ya dok? Sebab dokter saya tdk menginfokan

    Jaazakallah..maaf panjang.
    terimakasih atas balasannya

    • 1. Nyeri perut terkait posisi tertentu memang bisa saja. Namun diagnosa tersebut dibuat setelah menyingkirkan diagnosa lain yang lebih serius. Misalnya dalam kasus ini, kecurigaan infeksi appendiks harus terbukti tidak ada. Karena itu setelah selesai mengonsumsi antibiotik sebaiknya kontrol kembali untuk memastikan bahwa infeksi apendiks sudah tidak ada lagi.
      2. Infeksi usus buntuk ada yang akut dan ada yang kronis. Infeksi akut sangat sakit bahkan berjalan pun susah. Namun infeksi kronis terkadang tidak terdeteksi. Sedangkan infeksi kronis terkadang bisa berubah menjadi akut.
      3. Untuk evaluasi kista bisa kontrol 1 bulan lagi saat sedang haid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s