MIRAS itu Dijual di Mini Market

Saat masih hangat berita  hebohnya artis Ahmad Dhani karena anak sulungnya yang berusia 14 tahun kedapatan merokok dan menenggak miras.  Disusul dengan berita yang lebih memiriskan hati yaitu terbunuhnya seorang pelajar SMA akibat pembunuhnya diduga di bawah pengaruh miras.  Sadarkah kita bahwa minuman tersebut sejatinya sangat mudah di akses oleh siapa saja?

Meskipun pemprov DKI sudah berkoar-koar tidak memberikan ijin baru bagi pendirian minimarket baru, namun kenyataannya minimarket-minimarket tersebut terus bermunculan.  Nah, di dalam minimarket yang lokasinya bisa sampai ke komplek-komplek perumahan dan gang-gang tersebut, miras dengan mudah kita jumpai dalam rak penjualan minuman.  Alih-alih diletakkan dalam rak tertutup yang terkunci, pada rak terbuka tersebut miras dijejerkan bersama sirup-sirup untuk konsumsi rumah tangga.  Tidak pula dicantumkan peringatan bahwa minuman beralkohol tersebut hanya boleh dikonsumsi oleh kalangan tertentu, misalnya.

Saya pernah memrotes penjualan miras yang cukup menyolok karena diletakkan pada rak terdepan. Namun jawaban dari mbak kasir cukup bikin miris di hati. 
“Oh, minuman itu sekarang sedang promo. Beli dua gratis satu!”. “Lagipula, penjualan tertinggi juga berasal dari situ”. 

Ada juga  promo yang tak masuk akal yaitu : “Beli miras dapat snack ringan anak-anak!”

Selain itu, tidak ada pengawasan terhadap siapa saja yang membeli miras tersebut.  Ini pun pernah saya protes saat berbarengan ketemu di meja kasir dengan seorang remaja pria yang membeli sebotol Vodka.  Botolnya berwarna biru.  Saat itu saya dan remaja tersebut berbarengan antri di kasir.  Saya pinjam sebentar botolnya untuk memastikan ingredients nya …dan ternyata memang mengandung vodka.  Remaja tersebut berkilah, ia hanya disuruh untuk membeli.  Sedangkan dari pihak toko, dalam hal ini kasir, mengatakan memang tidak ada pembatasan usia untuk pembelian miras.

Kalau begini caranya, bagaimana negeri ini mau diberkahi Allah SWT? (nin)

gambar dari http://m.poskota.co.id/berita-terkini/2011/06/06/dki-bakal-naikkan-retribusi-dagang-minuman-alkohol

Tulisan ini saya kirimkan sebagai surat pembaca di majalah Sabili

Berikut ini adalah komentar2 selama di MP

  1. Filzaizati : aku pernah pulang malam bu dokter, di angkot cuma bertiga dan tiba2 ada org mabuk masuk..hadeh takut bgt, mo turun malam2 angkot susah..yang ada di dalam ketar-ketir aja sendiri..alhamdulillah sih dia ga ngapa2in.
  2. Ummuyusuf24 : yg biru2 vodka y dok?
    D jogja jg ada, cm djual d mini market 24jam
    Ktnya itu minuman kedamaian kyk syair lagu band nasional asal jogja. Sgtunya sm alkohol
  3. Iwan Yuliyanto : Selain menyampaikan keberatan di media, bagaimana kalo kerjasama dg RT setempat untuk menertibkannya bilamana melihat / mene
  4. mui langsung ada minimarket yg menjual bebas seperti itu. Daya rusak miras thd lingkungan setempat sedemikian besarnya.
  5. mawaddah1985 : sebenarnya negara kita peduli gak sih sama generasi muda?
  6. Arfun : Selama rokok masih terjual bebas bak kacang goreng, selama itu ‘teman-teman’-nya satu per satu menunggu giliran untuk dikonsumsi, secara bebas pula.
  7. miapiyik : betul mba Prita, sedih liat anak2 berseragam menenteng vodka😦 di luar negeri setahuku diatas 21 atau 18 thn baru boleh beli miras, menunjukkan identitas
  8. Ummufaishol : ada di 2 minimarket waralaba itu bu?
    saya kmrn penasaran coba cari yg deket2 rmh kok ga ada ya? (bkn mo beli hehe) entah lg kosong ato emang yg disini ga nyetok (moga2 ga nyetok sih) soalnya jadi ragu kalo belanja disitu..
  9. mawaddah 1985 : Kalo Vodka itu termasuk Miras ya??
    Saya lihat di salah satu booklet belanja G*anT ada Promosinya… beli berapa dapet berapa gitu… di halaman2 awal malah…
  10. rifkihasan : iyah… di tempat saya ngajak syaikhan belanja… dijual juga, malahan ada di dua tempat… satu di deket kasir…enggak deket2 banget sih. satunya lagi di pojok
  11. nadareeda : miris .. saya pernah ngantri di kassa pas kebetulan depan saya ngantri bayar jg dgn bawaan vodka, bir, kondom, trus rokok pdhal usianya sekitar 15thn masih kelar 2 smp.. tapi kok jd pemandangan biasa apabial di minimarket *lf* mini or I*nd*m*re* astagfirullahal adzim
  12. ummi2aulya : rumah(mertua) sebagian disewa *l**m*t
    radius 3km kurleb ada 8 minimarket tersebut+3 sainganny

    d rumah satu2ny yg tidak menjual miras atas permintaan keluarga,jg warga komplek

    Alhamdulillah,tahun ini memasuki tahun ke11 n tetap jd tempat favorit pihak perusahaan krn stabil keramaian konsumen ny,meskipun tidak ada miras sprt d tempat tetangga ny^_^

    andaikan bs menolak rokok jg tidak ada disana:-(

  13. enkoos : padahal di westernnya sendiri gak sebebas itu lho mbak.
    Gak sembarang orang bisa membeli minuman keras. Kalau beli, disuruh menunjukkan ID Card (sebangsa KTP). Jangan bayangkan KTP di western (saya ambil contoh Amerika deh, karena saya melihat sendiri sehari hari) sama seperti KTP di Indonesia yang bisa dikloning sebebas bebasnya. Dengan nyogok, bisa dapet KTP banyak. DI Amerika, gak bisa begitu. ID Card bisa berlaku dimana saja. Dengan ID Card tsb bisa akses segala macem.

    Balik ke minuman alkohol tadi, rak display untuk minuman keraspun juga gak diletakkan mencolok, namun susah dijangkau anak anak.
    Itu yang di supermarket.

    Kalau di restoran, apabila ada yang memesan minuman beralkohol, waitersnya memiliki hak untuk meminta si pembeli menunjukkan ID Card. Kalau seandainya waiter tidak menanyakan, dan ada melihat bahwa si waiter gak bertanya, si waiter bisa dilaporkan ke pihak terkait. Buntut2nya restoran tsb bisa diperiksa polisi.

 

12 thoughts on “MIRAS itu Dijual di Mini Market

    • hiyya..memang mbak Evy sudah pernah komen pada tulisan ini. Kasirnya memang ‘asal jualan yang penting laku”, itu betul. Meskipun dari hasil wawancara saya terhadap petugas minimarket ternyata dari mereka ada juga yang merasa gerah dengan kondisi miras dijual sembarangan itu. Di lain pihak, kalau sudah teken kontrak pewaralaba sebuah mini market, khususnya Am dan IM maka itu berarti setuju dengan barang2 yang djual, termasuk rokok dan miras.

      • IM itu Indomaret. Kalau AM opo ya?

        Ya sebetulnya kalau udah teken kontrak jual barang begituan, masih bisa disiasati dengan
        1. Menempatkan barang2 begituan di tempat yang sulit dijangkau dak tidak menyolok.
        2. Screening pembelinya dengan minta KTP.

        Kalau mereka gerah, kenapa mereka gak cari solusinya ketimbang pasrah.

      • AM ya Alfamart (kan baru pulkam, mbak. Ketemu kan sama mereka2 ini?) Jadi kalau pewaralaba memang sampai tata letak barang display pun sudah diatur dari pusat. Mungkin ide skrining pembeli itu bisa diterapkan. Tapi itu juga tergantung dari itikad baik si pewaralaba/owner. Adapun pegawai yang saya jumpai merasa gerah itu cuma seorang SPG…Tak ada hak apa pun kecuali melayani pembeli. Semoga saja dengan seringnya protes dari pembeli, maka kegerahan itu mencapai puncaknya mejadi keringatan dan akhirnya ada perubahan kebijakan. Coba mbak Evy menuliskan tentang hal ini. Dimulai dari kesan2 pas pulkam kemudian bandingkan dengan di AS

  1. mbak Evia mengingatkan saya atas postingan ini setelah berkomentar di jurnal:
    http://iwanyuliyanto.wordpress.com/2013/06/01/catatan-kelam-beritamiras-2013-2/

    Jadi nostalgia karena ternyata saya dulu pernah berkomentar saat jurnal ini masih di Multiply🙂

    Setelah mengirimkan Surat Pembaca ke Majalah Sabili, apakah kemudian sudah mendapatkan respon terutama dari Pemkot DKI?

    Oiya, blog ini kemaren saya promosikan via twitter. Apakah bu Dr.Prita mempunyai akun twitter?

    • Tidak ada respon apa pun. Tapi saya berencana daur ulang surat pembaca ini dan saya kirimkan ulang ke surat kabar. Saya mau lihat apakah gubernur yg sekarang punya kepedulian terhadap moral dan akhlak serta kesehatan anak bangsa. Program kuratif sdh digembar gemborkan. Seharusnya program preventif spt halnya pemberantasan miras inilah yg jadi program unggulan. *dipelototin pengusaha miras*
      Saya tidak punya akun twitter, pak. Terimakasih atas promonya.
      Oya, insya Allah akan diadakan acara bedah buku Membalut Luka Gaza, di Pekanbaru pd 14 Juni yad. Kalau kebetulan lagi ada di kota tsb saya persilakan mampir, pak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s