Lomba Cerita Jilbab Berkesan – Kolaborasi Jilbab

“Jadi berapa meter kain yang dibutuhkan?”

“Jenis bahannya sudah dicek belum? Warnanya juga harus sama persis, lho”.

“Bagaimana kalau kita pinjam saja sepasang baju dan celana itu barang sehari?”

“Kamu jadi kan, bicara dengan ibu kepala ruangan kemarin?”

Itulah sebagian kasak kusuk kami, mahasiswi Fakultas Kedokteran semester 9 di sebuah universitas negeri di Surabaya di tahun 1988. Bukan.  Kami bukan teroris yang sedang merencanakan pengeboman.  Tapi merencanakan sebuah kerja besar.  Kerja yang tampaknya mustahil, tapi akan kami coba. Berbekal keyakinan dan prasangka baik saja.

Tahun ini,  tiba waktunya kami masuk ke kamar operasi secara penuh.  Sudah menyandang gelar Dra.Med (sekarang SKed) alias dokter muda (bahasa Belandanya: Co Ass).  Angkatan kami boleh dikatakan adalah angkatan perintis mahasiswi kedokteran berjilbab.  Kakak angkatan, ada juga yang berjilbab, tapi cuma 2 orang kalau tidak salah.  Jadi daya gebraknya tidak bisa besar.  Sedangkan kami bersembilan.  Dan ada banyak kawan mahasiswa yang seide, sejalan, serta siap mendukung perjuangan.

Apa yang hendak diperjuangkan? Dan apa kerja besar itu?
Mungkin bagi sebagian orang terasa sepele.  Yaitu, memasukkan seragam kamar operasi khusus buat yang berbusana muslimah.  Seragam  aslinya adalah kemeja lengan pendek, berleher V yang cukup rendah, dan celana panjang.  Tutup kepalanya  bermodel seperti shower cap.  Sandalnya juga  khusus.  Tentu saja dengan model sedemikian, masih banyak aurat yang terbuka.  Pernah, kami mengenakan jilbab di balik showercap itu.  Baru beberapa langkah memasuki lorong,  semprotan pengawas kamar operasi (yang kamarnya memang terletak di dekat pintu utama) bakal menggema ke seluruh area.  Akibatnya bisa diduga. Tinggal pilih, lepas jilbab atau batal masuk!

Rapat kilat antara grup jilbab dengan rekan mahasiswa yang simpati membuahkan keputusan.  Harus buat seragam sendiri,  dan kemudian didaftarkan jadi inventaris kamar operasi.  Maka dibentuklah beberapa seksi.  Seksi-seksi tersebut meliputi bagian perijinan (pedekate ke kepala ruangan dan merayu bagian perbajuan) , beli kain, dan tentu saja seksi keuangan alias ‘treasury’ . Saya sendiri kebagian seksi penjahitan.  Bukan karena bisa menjahit, tapi karena punya kenalan tukang jahit.  Yang mengharukan, sumbangan dana terbesar ternyata datang dari rekan-rekan mahasiswa simpati!

10 hari kemudian, jadilah 10 set seragam kamar operasi plus jilbab hasil kolaborasi mahasiswi muslimah dan rekan mahasiswanya.  Baju-baju tersebut tetap jadi inventaris  bahkan sampai 6  tahun kemudian  saat saya kembali ke rumah sakit tersebut untuk menempuh pendidikan spesialis.  Tentu saja seragam spesial tersebut sudah beranak pinak dan membentuk tumpukan tersendiri dengan judul “jilbab”. (nin)

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba di sini http://uriagustiono.multiply.com/journal/item/52

Alhamdulillah, menyabet juara pertama dengan hadiah suvenir Aussie. Terimakasih, mbak Uri…

Foto : model busana olahraga muslimah tahun 1980 an rancangan Anne Rufaidah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s