[Idul Fitri 1432 H] Surabaya….Surabaya…oh Surabaya

Setelah meninggalkan Surabaya selama 12 tahun, mata saya jadi lain dalam memandang kota kelahiran ini. Sekarang, perjumpaan dengan Surabaya adalah saat menengok orang tua.  Pastinya adalah saat Idul Fitri, yang lamanya tak lebih dari sepekan. Selain itu, ada saat-saat dimana saya harus menghadiri acara ilmiah atau acara BSMI.  Sedapat mungkin disempatkan untuk singgah.

Kunjungan terakhir saat Idul Fitri kemarin membuahkan tulisan ini:
1.      SURABAYA BERTAMBAH HIJAU
Kalau dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu, kesan bertambah hijau ini semakin nyata.  Mungkin ini dampak dari walikotanya yang seorang ibu ditambah dengan riwayatnya yang mantan kepala dinas pertamanan. (bukan kampanye lho rek, red)


Tapi memang keberhasilan penghijauan ini juga pernah dibahas tuntas oleh surat kabar nasional terbesar di negeri ini.  Bahkan di berita itu ditulis bahwa trotoar pun dipel!  Jadi tidak hanya disapu, tapi dipel.  Saya sih belum pernah melihat pekerjaan mengepel trotoar ini.  Yang sudah saya saksikan adalah betapa rajinnya “pasukan kuning” menyapu jalan dan menyiram tanaman, hatta di hari libur lebaran.  Dampaknya lagi, hawa kota jadi tidak terlalu panas dibanding tahun-tahun lalu.
Dua tahun yang lalu, di hari Jum’at pagi saya juga pernah menyaksikan para PNS yang turun ke jalan membersihkan riool (saluran air) di jalan Tunjungan.

2.      SIOLA SUDAH, KAPAN TUNJUNGAN MENYUSUL?

Masih ingat lagunya Mus Mulyadi, “Rek ayo rek…mlaku-mlaku nang Tunjungan”.  Lagu yang ngetop pada tahun 70 an itu menceritakan tentang ikon belanja kota Surabaya, yaitu kawasan Tunjungan.  Sebenarnya Tunjungan hanyalah sepotong jalan sepanjang lebih kurang 1 kilometer yang membentang dari jalan Genteng Besar sampai pecah menjadi 2, yaitu jalan Embong Malang dan jalan Pemuda (cmiiw ya, takut kadaluwarsa). Jalan Tunjungan menyimpan banyak kenangan masa kecil.  Setiap malam ahad kami sekeluarga berjalan kaki menyusuri jalan ini.  Tak sampai ujung karena keburu cape.
Belum lagi mampir ke toko buku terbesar di kota Surabaya, Sari Agung.  Ada gading Murni, toko ATK mewah, toko sepatu Bata, dan di pangkal Tunjungan ada Siola.  Di ujung seberangnya ada toko Nam, dan toko Metro. Toko-toko itu semua sekarang tinggal nama.  Sebagian, bangkainya masih ada. Sebagian lagi sudah berubah wujud.
Dalam hati saya bergumam, “Mosok sih gak ada investor yang mau peduli dengan aset sejarah seperti ini.  Seharusnya pemkot ambil alih dan dijadikan musium perbelanjaan.  Isinya: etalase kuno beserta isinya.  Ada boneka SPG yang sedang membungkus belanjaan dengan kertas merang kemudian mengikatnya dengan karet”.
Tahun ini, angan itu sedikit terkabul (sedikit saja). Yaitu dengan bersinarnya kembali toko Siola.  Meski berlabel “Matahari Department Store” namun eksteriornya tak berubah.  Sayangnya, baru Siola yang dapat polesan.  Sari Agung (si toko buku bersejarah, saksi bisu kekemarukan saya terhadap buku) masih tetap mangkrak….. (nin)     

Keterangan Foto (dokumentasi pribadi):

1. Para PNS melakukan kerja bakti di hari Jum’at pagi

2. “Siola” semasa mangkrak (2010). Sekarang sudah lebih cantik, meski belum optimal dengan adanya Matahari dan sebuah cafe

2 thoughts on “[Idul Fitri 1432 H] Surabaya….Surabaya…oh Surabaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s