Dewasa Sebelum Waktunya

Sudah pernah saya ceritakan di sini, fragmen-fragmen “remaja yang terpaksa dewasa” sebelum waktunya.   Mengapa saya sebut demikian? Ya, karena mereka – kalau dilihat dari usia – seharusnya masih asyik menuntut ilmu.  Berkutat dengan ulangan, PR, dan seabreg kegiatan ekskul.

Selama ini remaja  terpaksa dewasa yang ketemu saya tersebut berusia sekitar 15-17 tahun.  Maka terkaget-kagetlah saya saat pasien malam itu adalah seorang gadis berusia 13 tahun! Ia datang diantar kedua ortunya.  Atau tepatnya, ia dipaksa ortunya untuk mau menemui saya.

Kata-kata pertama yang terlontar dari bibir sang ibu adalah, “Tolonglah. Kasihan anak saya, masa depannya masih panjang!”

Apa pasal? Si remaja 13 tahun yang masih duduk di kelas 2 i sebuah SMP Negeri tersebut mengaku telah berhubungan seksual dengan pacarnya! Pacarnya bukan teman sekolah sesama anak SMP, tetapi pemuda yang kos dekat rumahnya.    Namun jangan bayangkan anak 13 tahun itu culun (soalnya saya membandingkan dengan anak nomor 4 saya – laki, 12 tahun, kelas 1 SMP – yang masih suka bermanja-manja).  Sosoknya dewasa! Dalam artian, secara fisik si remaja tersebut mungkin akan dikira berusia 17 atau 18 tahunan.

Sementara si ibu bercerita panjang lebar, anak yang sedang dibicarakannya hanya duduk diam.  Tak berkomentar atau protes sama sekali.  Wajahnya kusut, sekusut rambutnya yang dicatok.  Matanya memandang tajam.  Boleh jadi ia marah.

Saat saya katakan bahwa sekarang ini dalam kondisi tidak hamil, ibu si anak menghembuskan napas lega.

“Tapi,” lanjut saya.  “Kondisi ini hanya sementara, setidaknya sampai saat ini.  Kalau perbuatan melakukan hubungan dengan pacar diteruskan ya bukannya tidak mungkin akan segera hamil”. “Yang sudah ya sudah. Kita buka lembaran baru.  Beristighfar dan bertaubatlah, dan kembali jadilah anak sekolah.  Karena apa pun akibat dari perbuatan ini, dampaknya hanya dirasakan oleh pihak perempuan”, demikian sepenggal nasihat saya kepada si anak.

Kepada ibunya saya katakan, “Ibu tak dapat lepas tanggung jawab.  Meskipun kata ibu anak ini diantar jemput untuk ke sekolahnya, tapi kalau sore dibiarkan pergi les naik motor, ya sama saja.  Bukannya dia tidak punya SIM? Mengapa dilepas naik motor?”  Dan seterusnya…dan seterusnya saya jadi sedikit ceramah kepada ibu-anak tersebut.

Namun sampai saat pamitan, si anak tetap berwajah kusut.  Matanya memandang tajam…!

Ya Allah ….ya Rabbi…. inikah dampak media dan hiburan yang lepas kontrol? Kasus ini kan cuma letikan bunga api kecil saja. Sementara sekam terus menyala.  Pornografi sebagai pemantiknya akan terus merajalela.  Heran…masih saja ada yang berkilah pertunjukan dan aksi buka aurat sebagai sebuah seni.  Bagaimana kalau kasus seperti ini menimpa anak mereka?  

4 thoughts on “Dewasa Sebelum Waktunya

  1. Astagafirullah.
    Apa televisi dibumihanguskan saja ya?
    Paling enak memang kalau tinggal di tempat terpencil dimana minim fasilitas dan akses informasi gak sekencang di kota besar.

    Umur 13 tahun bawa motor? Ck ck ck ck ….

    • Yang salah bukan televisinya tapi para produser programnya. Yang dikejar hanya selera pasar tanpa mempedulikan dampak buat anak2 yang menontonnya. Mereka menyalahkan ortu, kok tidak ikut mendampingi nonton TV. Ditunjang dengan kebiasaan di Indonesia, pesawat TV dinyalakan terus baik ada yang nonton maupun tidak….
      Kalau di Jakarta umur 13 tahun bawa motor itu biasaaa, mbak Evy. Bahkan yang lebih muda dari itu pun ada. Ortunya malah bangga! Kebolak balik semua kan??

  2. TV, majalah, komik, game, itu semuanya sebetulnya medianya… Ibarat gelas kosong.. Bisa diisi sirup, kopi, teh, atau bahkan raucn…. Nah yang ngisi itu memang yang gak mikirin efeknya gimana… MAunya untung doang… Memang keterlaluan itu mereka2 yang mengisi media sekarang dengan target kejar rating doang…

    • Setuju. Sebetulnya sudah ada KPI yang sudah cukup aktif, namun rupanya gempuran media yang bak angin puyuh bikin kalang kabut. Kembali kepada ketahanan keluarga dan keberanian menyuarakan kebenaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s