Ayam Afkir

Pembicaraan tentang  perayaman ini bermula saat kami mengunjungi rumah bulik (adik perempuan ayah saya).  Karena ternyata beliau tidak di rumah maka kami jadi ngobrol dengan sepupu.  Tepatnya, suami sepupu saya.  Karena hanya dia sendiri yang jadi penunggu rumah.
Percakapan mengalir kesana-sini sampai akhirnya bermuara di masalah ayam.  Sepupu saya tersebut mempunyai usaha baru, yakni beternak ayam.  Karena usaha baru, maka jumlah ayamnya juga masih ‘sedikit’, yakni sekitar 20 ribu ekor saja.  Walah…20 ribu dibilang sedikit.  Padahal kalau disuruh mengabsen satu persatu ayam-ayam tersebut  pasti dia sudah nyerah duluan!  Memang kalau dibandingkan dengan peternak besar yang jumlah ayamnya mencapai ratusan ribu, angka 20 dengan empat nol itu ya cuma sekelingking.

Tapi saya masih penasaran, “Kok yakin dengan jumlah itu?”
“Ya, karena saya punya 4 kandang, dimana 1 kandang isinya 5000 ekor”, demikian teorinya.

Sebagaimana peternak pemula pada umumnya, ia bekerja sama dengan sebuah pabrik makanan ayam asing yang sudah puluhan tahun malang melintang di Indonesia.  Sistimnya bagi hasil.  Dari pabrik ia mendapat pasokan anak ayam dalam jumlah tertentu yang sudah disepakati.

Peternak berkewajiban memelihara ayam tersebut sampai mencapai berat 2 kilogram dalam waktu 3 bulan, dengan menggunakan makanan produksi perusahaan tersebut.    Setelah sampai masanya, maka ayam-ayam yang sudah ‘dikarbit’ tersebut dijual kembali ke perusahaan.  Saya pakai istilah dikarbit karena peristiwanya mirip dengan pengarbitan pisang atau mangga supaya bisa matang pada waktu yang lebih cepat.  Normalnya, waktu tempuh dari anak ayam sampai mencapai berat 2 kilogram adalah 6 bulan.  Kalau ingin lebih pendek waktunya, ya harus digenjot.  Makanan prima, injeksi suplemen (vitamin dan hormon), serta vaksinasi.  Vaksinasi ini penting, karena ternyata titik lemah dari ayam-ayam ini adalah daya tahan tubuhnya yang rendah, alias gampang mati kalau kena penyakit.  Bandingkan dengan ayam kampung, yang makannya apa saja yang ada disekelilingnya, bebas bergaul dengan siapa saja dan dimana saja, ternyata malah mempunyai daya tahan tubuh yang kuat.  Subhanallah!

Lalu, bagaimana nasib para ayam yang telah lulus uji kualifikasi di perusahaan? Ada beberapa klasifikasi.  Ayam peringkat 1 mendapat gelar ayam potong yang dijual utuh di super/hipermarket.  Ayam peringkat 2, yaitu ayam yang sehat namun fisiknya cacat, tampil sebagai ayam olahan.

Iseng, saya nyeletuk, “Kalau chicken nugget asalnya dari peringkat mana?”
“Oh, itu ayam afkir”, jawab sepupu.

Tak dinyana, si bungsu yang sedari tadi tekun menyimak pembicaraan berbisik memelas, “Jadi selama ini yang aku makan adalah ayam cacat?”

Maklum, dia termasuk penggemar nugget ayam.
Ha..ha…susah payah kami jelaskan bahwa meski cacat, ayam yang dijadikan nugget adalah ayam sehat.  Dan tentu saja halal, karena saya, Insya Allah,  termasuk yang selektif memperhatikan ada tidaknya sertifikasi halal MUI.

Namun bagaimanapun, nafsunya terhadap nugget ayam tetap menurun.  Sampai sekarang.  Dan hal ini jadi bahan ledekan kakak-kakaknya, “Oooh….ayam afkir!”

Ada hikmahnya juga , santapannya sekarang lebih bervariasi.  Tidak melulu nugget.  Alhamdulillah.

Adapun umminya, janji-janji bikin nugget sendiri, cuma tinggal janji! Padahal bahan baku dan buku resepnya sudah mapan tersedia.  Astaghfirullah….maaf ya,nak.  (nin)  

6 thoughts on “Ayam Afkir

  1. Kalau nuggetnya buatan pabrik, mungkin pake ayam afkir. Tapi kalau nuggetnya bikinan sendiri, Insya Allah enggak ya😛
    Bikin sendiri aja mbak, sekaligus bikin banyak untuk persediaan berhari hari. Gampang pula bikinnya.

    Selain ayam peringkat 1 dan 2, apa ada lagi?
    Ayam afkir masuk peringkat mana?

    • ayam afkir masuk ke peringkat 2. Betul, mbak Evy, bikin nugget sendiri lebih praktis, hemat dan sehat. Sekarang si bungsu sedang demam bikin pancake.

  2. Hahaha… bisa aja ngasih istilah… ayam afkir.

    Kalo pengen makan ayam, kami selalu beli ayam yg masih hidup kemudian dipotong di tempatnya saat belanja ke pasar basah. Istriku teringat kisah investigasi yg serem – serem di layar kaca, jadinya cari cara aman & higienis🙂

    • He..he..iya. Mungkin itu istilah di antara para peternak. Subhanallah, salut dengan usaha pak Iwan untuk mendapatkan ayam halal. Kalau saya cukup dengan adanya sertifikat halal dari MUI untuk pemotongannya saja, pak. Sedangkan ayam berwarna kuning dengan kaki terjengkang kaku dan sama sekali tidak dirubung lalat yang dijejerkan di lapak2 pasar, dengan sangat menyesal tidak bisa saya beli…😦

  3. ayam petelur yang sudah ketuaan untuk bertelur juga biasa disebut ayam afkir Bu
    ayamnya sih sehat, cuma sudah alot aja, hehehe jadi ngga laku dijual
    biasanya ukurannya besar, mesti dimasak pakai panci presto biar empuk

    • ooo..ternyata istilah afkir memang sudah jamak di dunia perayaman, ya bu. Dan berlaku baik untuk ayam potong maupun petelur, begitu ya. Ha..ha..berarti beli ayam petelur afkir, alotnya sama dengan ayam jago ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s