[Ramadhan 1432 H] Fenomena I’tikaf

Sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan.  Meskipun tidak setiap hari, kami (saya dan suami) usahakan beri’tikaf.  Tahun- tahun kemarin, ada 2 masjid dekat rumah yang biasa disambangi.  Tapi karena suasana kurang kondusif, tahun ini i’tikaf dilakukan di masjid  At Tin.

Dulu, kami agak malas ke Masjid agung itu.  Bukan apa-apa.  Suasananya yang ramai dan berjubel bak penampungan pengungsi itu kami rasakan kurang pas.  Namun di masjid dekat rumah ternyata ternyata sudah tak menggelar program i’tikaf.  Jadinya, i’tikaf sendirian, suasana remang, gerah dan banyak nyamuk,  ujung-ujungnya jadi cepat ngantuk.  Masjid yang satu lagi, terlalu dekat ke jalan raya.  Deru motor berknalpot sember yang tak henti-hentinya bikin rusak konsentrasi.  Dan menjelang pukul 2, panitia sahur sudah ribut memukul bedug bersahut-sahutan.  Akhirnya, kami mengalah, mengundurkan diri.

Mau tak mau kembali ke At Tin.  Masjid tersebut di malam hari memang benar-benar agung.  Auranya memancar di tengah kegelapan.  Namun, di kurun sepuluh hari terakhir Ramadhan, suasana benar-benar berubah.  Hiruk pikuk.  Di pelataran, penuh berderet para pedagang.  Bukan hanya pedagang makanan – biasanya laris pas sahur – namun juga pedagang baju, pici, sajadah, buku, dan tak ketinggalan mainan kanak-kanak.  Sedangkan di halaman parkir, penuh oleh deretan mobil.  Tidak hanya dari Jakarta, banyak juga mobil bernomor polisi F, yang menunjukkan asalnya dari Bogor.  Mudah dimengerti karena lokasi Pondok Gede sangat dekat dengan tol Jagorawi.

Di malam ke duapuluh tujuh, keramaian makin menjadi.  Parkir mobil tidak muat lagi di halaman parkir.  Terpaksa menggunakan halaman gedung di belakang masjid, yaitu Gedung Pewayangan.     Penitipan sandal penuh sesak, bertumpuk-tumpuk.  Untuk tanda titip, petugas terpaksa menyobek saja karton-karton seadanya kemudian ditulis nomor. Hampir tidak ada ruang kosong dalam masjid.  Di saat seperti ini, muncul sifat asli seseorang.  Apakah dia egois, mau menguasai lahan supaya bisa tidur selonjor, atau bersifat penuh keikhlasan, rela bergeser untuk mereka yang baru datang (diantaranya…saya!).  Di tempat wudhu dan toilet…waah jangan dibayangkan.  Di malam ganjil yang lain saja sudah antri berbelasmenit, apalagi di malam 27.  (tips : usahakan selalu dalam keadaan berwudhu.  Sekeluarnya dari toilet segera berwudhu lagi.  Tidak perlu menunggu aba-aba dari panitia, “Sholat tahajud segera dimulai, mohon para jamaah segera berwudhu”) Mendekati saat sahur, pedagang makanan dan minuman asongan sudah berderet memenuhi depan selasar masjid menawarkan berbagai macam dagangannya.

Keadaan yang sangat kontras bisa dilihat di malam genap dan malam ke 29.  Halaman parkir longgar, pedagang jauh berkurang.  Dan, pasar kaget mendadak sirna di malam 29.  Lengang. Di dalam masjid, meski tampaknya penuh, kita masih bisa pilih-pilih tempat yang strategis. Sempat tercetus sebuah idaman, beri’tikaf di sebuah masjid  yang hening, sejuk, namun tetap hidup dan makmur.  Mungkin saya perlu cuti semalam dan mengungsi ke sebuah masjid di Puncak. (nin)

“Apabila tiba Lailatul Qadar, maka Jibril turun ke dunia bersama kumpulan malaikat dan akan berdoa bagi orang yang berdiri sholat malam dan duduk mengingat Allah.  Dan pada hari Idul Fitri, Allah akan membangga-banggakan mereka di hadapan para malaikat” (Hadits Rasulullah riwayat Baihaqi)

foto : dokpri, sebuah masjid di daerah Pekalongan

3 thoughts on “[Ramadhan 1432 H] Fenomena I’tikaf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s