Bernostalgia Bersama Film “Hafalan Sholat Delisa”

Kekhawatiran terbesar menonton film yang diadaptasi dari sebuh novel adalah rusaknya imaji yang sudah terlanjur melekat dalam benak.  Kekhawatiran tersebutlah yang saya rasakan tatkala adegan pertama film “Hafalan Sholat Delisa” (HSD) mulai berjalan.  Tapi toh saya tetap menikmati adegan demi adegan.
Sampai akhirnya…adegan yang saya anggap sebagai klimaks pertama muncul.  Tsunami!! 
Adegan dibuka dengan caption : “26 Desember 2004” Mula-mula gempa.  Gedung (bioskop) ikut bergetar karenanya. Sela waktu antara gempa dengan tsunami yang lama(sesungguhnya) nya sekitar 30 menit  adalah perjalanan Delisa dan ummi pergi ke sekolah, suasana menunggu giliran menghafal, sampai pada Delisa yang sedang menghafal bacaan sholat (doa iftitah) sambil memejamkan mata.  Tsunami tiba saat orang-orang sedang terpaku menyimak Delisa.  Suasana gegap dan kacau.
Naah, ganjalannya ada di sini :
1.      Tsunaminya seperti main-mainan. Saya baca di reviewnya mbak Katerina ( http://katerinas.multiply.com/reviews/item/231 ) bahwa sutradara memang sengaja hanya pakai animasi karena beranggapan bahwa tsunami itu bukan faktor utama. Yang lebih penting adalah drama keluarganya.  Pendapat saya selaku penonton dan penikmat: Kalau memang tujuannya menghemat biaya, bukankah  bisa pinjam film dokumenter atau video amatirnya Cut Putri?  Kedudukan tsunami dalam film ini sangat penting, karena konflik baru terbentuk setelah ada tsunami.  Dan penggambaran tsunami juga tidak bisa asal karena tsunami itu kejadian nyata, dimana orang-orang yang terlibat langsung maupun tidak masih hidup sampai sekarang.  Beda dengan film Titanic, dimana para saksi matanya sudah pada wafat semua.

2.      Saat gempa hebat – ajaibnya- perahu yang tertambat tidak ikut bergoyang! Detil kecil yang luput dari perhatian. 

3.      Penggambaran perjuangan Delisa dalam gulungan ombak tsunami bak orang tenggelam di kolam jernih.  Baju dan rambutnya yang panjang melambai-lambai.  Mungkin lebih dramatis kalau digambarkan kepala dan tangannya timbul tenggelam dalam gelombang air coklat kehitaman.  Karena demikianlah sesungguhnya warna air tsunami menurut saksi mata.

Singkat cerita, Delisa akhirnya ditemukan oleh relawan tentara Amerika (prajurit Smith) dan dirawat di rumah sakit.  Dalam cerita novel : dirawat di rumah sakit terapung,  di kapal Amerika.  Sementara itu, Usman, ayah Delisa yang bekerja di perusahaan asing akhirnya mengetahui bencana besar itu dari televisi.  Ia pulang dan berhasil menemukan anaknya di rumah sakit.  Setelah pertemuan ayah dan anak ini, alur cerita berjalan lambat.
Sebenarnya saya menantikan klimaks yang kedua sesuai novel, yakni saat Delisa berjumpa dengan jasad ibunya yang sudah berbentuk kerangka namun di tangannya masih tersangkut seuntai kalung berinisial “D” (Delisa).
Namun, dalam film ini perjumpaan tersebut ada dalam mimpi Delisa.  Ia berjumpa dengan jasad ibunya yang terbaring di pantai dalam kondisi masih membawa kalung.  Sejauh ini saya maklum, karena penggambaran kerangka mungkin akan menimbulkan dampak psikis yang kurang baik.  Namun sayangnya, jasad ibu yang terbaring di pantai itu dalam kondisi cantik dan bersih. Bajunya tampak baru.  Tak ada bekas-bekas tsunami sedikit pun!

Saya (dan suami) sebenarnya juga ingin bernostalgia, mengenang saat kami sebagai relawan BSMI tiba di Aceh 5 hari pasca tsunami.  Bagaimana suasana jalan-jalan, perumahan dekat pantai yang rata tanah, penampungan pengungsi,dan rumah sakit lapangan. Semuanya serba riweuh, kotor, bau, tempelan kertas mencari orang hilang dimana-mana, dan para relawan dari berbagai organisasi yang serba sibuk. Namun itu hanya sedikit saja terekam dalam film.
Digambarkan bahwa abi Usman dalam waktu tak lama akhirnya bisa membangun rumahnya kembali. Dari mana bahan bangunannya? Siapa yang membantunya? Dimana ia membangun rumahnya tersebut? Kalau di lokasi lama, seharusnya terlarang untuk dibuat rumah lagi.  Di rumahnya terpasang tirai kerang-kerang.  Siapa yang memasang? Dari mana ia mendapatkan tirai tersebut?  Demikian juga alat memasak dan alat makannya, darimana ia dapatkan?  Pertanyaan-pertanyaan itu terus berseliweran.

Pada kenyataannya, Lhok Nga adalah daerah terparah yang terkena tsunami.  Orang-orang semua tinggal di penampungan pengungsi. Pada awalnya tenda, kemudian jadi barak-barak. Rumah Delisa yang baru rupanya tak jauh dari lokasi pengungsian.  Karena, saat ia ngambek dengan masakan ayahnya, ia berjalan ke dapur umum untuk makan.  Namun, lagi-lagi lucu.  Ia mampir ke rumah koh Acan (pemilik toko emas yang juga jadi pengungsi), dan kohAcan memasak mie untuknya dengan menggunakan kompor gas.  Tidak di dapur umum.

He..he..baiklah, ini kan di film. Dan cerita film punya versi sendiri yang bisa saja berbeda dengan versi buku.  Dalam buku, Tere Liye membius pembaca dengan kekuatan kata-kata.  Padahal, konon beliau belum pernah ke Aceh!  Mungkin ini juga menjadi faktor kenapa saat divisualisasikan kok jadi agak kedodoran.  Namun sekali lagi, karena tsunami Aceh  adalah kisah nyata yang kejadiannya juga belum lama, maka banyak saksi hidup yang berharap penggambaran akan sesuai atau setidaknya mendekati aslinya.

Memang enak kalau cuma cari-cari kekurangan.  Yang saya sukai dari film ini ternyata lebih banyak daripada kekurangannya.  Di antaranya : 1.      Di film ini, pemeran Delisa (Chantiq Schagerl) memang pas karena profilnya cocok dengan paras Aceh.
2.      Demikian juga penggambaran kesibukan di bandara SIM pasca tsunami, sudah mendekati aslinya.  Kenangan saya terbang ke bandara SIM pasca tsunami, yang  lebih kumuh dari terminal bis. Dan yang tak terlupakan adalah tembok-tembok yang penuh dengan tempelan berita orang hilang!
3.      Berseliwerannya para relawan yang hanya berseragam TNI dan PMI juga bisa dimaklumi, supaya tidak terkesan memihak kepada salah satu lembaga.
4.      Timing pemutaran film ini  juga pas. Pas dengan bulan Desember sebagai bulan terjadinya tsunami, dan pas pula dengan liburnya anak-anak.

SELAMAT MENONTON BERSAMA KELUARGA!

2 thoughts on “Bernostalgia Bersama Film “Hafalan Sholat Delisa”

  1. Memang susah ya, menterjemahkan kisah beratus-ratus halaman menjadi tontonan selama 2 jam saja. Apalagi harus memuaskan para pembaca yang rata-rata sudah memiliki imaji sendiri2. Jadi, yang saya kritisi di atas lebih ke arah teknik. Memang dulu juga nonton film ini, pak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s