[Ramadhan 1432 H] Anak Sakit Ibu Ngaji

Malam ke 29 di bulan mulia.  Karena puncaknya sudah lewat, maka jamaah i’tikaf masjid At Tin sudah tak berjubel seperti 2 hari yang lalu.  Meskipun  demikian tak bisa dibilang sepi juga.

Malam itu sengaja saya banyak berada di posko kesehatan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI).  Berbeda dengan malam sebelumnya dimana saya cuma mampir dan sekedar menyapa  adik – adik sejawat dari cabang Jakarta Timur yang bertugas jaga.

Di meja BSMI pelayanannya adalah konsultasi kesehatan dan pengobatan ringan.  Semuanya bebas biaya.  Selain itu ada pemeriksaan kadar gula darah, kholesterol, dan asam urat.  Nah, 3 pemeriksaan yang disebutkan terakhir ini tentu saja ada tarifnya.

Di meja sebelahnya…terletak beberapa tumpukan leaflet dan majalah untuk dibagikan kepada pengunjung.  Cuma-Cuma.  Ada juga beberapa macam merchandise.  Sisa suvenir Gaza pun turut dipajang.  Yang juga numpang nangkring di meja tersebut adalah buku saya, “Membentangkan Surga di Rahim Bunda”.  Alhamdulillah…15 eksemplar habis di sepanjang 10 hari terakhir Ramadhan ini.

Pasien yang datang pun silih berganti dengan berbagai macam keluhannya.  Umumnya keluhan ringan semacam sakit gigi, sakit kepala sampai sariawan.  Umumnya juga, yang datang adalah orang dewasa, ataupun kalau anak-anak pasti didampingi orang dewasa.
Tiba-tiba datang seorang anak laki-laki sekitar 8 tahunan. “Kalau minta obat di sini bayar enggak?”, tanyanya.
“Tidak bayar. Gratis. Siapa yang sakit?”
“Adik saya….”, sambil berlari dia menjawab.

Tak lama…datang seorang anak perempuan terengah-engah menggendong adiknya.  Keberatan memang, karena gendongannya berkali-kali melorot.  Wajar, karena usianya baru sekitar 10 tahun.  Sedangkan adiknya, 5 tahunan.  Sementara itu, si anak laki 8 tahun mengiringi.  Kelihatannya mereka bersaudara.  Adik mereka tampak sakit.  Wajahnya sayu, bibirnya kering kemerahan.  Saya raba…demam!

“Dimana orang tuamu?”
“Ada di sana”.  Kakak perempuan menunjuk satu arah.
“Kenapa ibumu tidak kesini? Adikmu ini sakit.  Sejak kapan dia seperti ini?”
“Sejak dari rumah kemarin, dia sudah panas”, kali ini kakak laki-laki 8 tahun yang menjawab.
“Ibu tidak kesini karena masih mengaji”, sahut si anak perempuan.

Sementara itu dokter jaga sudah selesai memeriksa dan kemudian menyiapkan obat.  Radang tenggorokan. Tentu menderita.  Bagaimana sih rasanya faringitis? Mau bicara saja malas karena nyerinya.

Jam sudah tengah malam.  Posko kesehatan tutup sementara.  Istirahat sampai jam 3.  Memang begitu jadwalnya. Tapi saya masih juga terngiang  jawaban si anak perempuan,   “Ibu tidak kesini karena masih mengaji”
(nin)    

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s