Imunisasi……oh, Imunisasi!

Ada beberapa PM yang datang kepada saya mempertanyakan, sejauh mana status wajibnya imunisasi ini.
Beberapa pasangan orang tua juga menanyakan hal yang sama, sambil menggendong bayi mereka yang baru lahir.

Jawaban saya sama,yaitu menganjurkan imunisasi setidaknya yang masuk kategori LIL (Lima Imunisasi Dasar Lengkap), yang terdiri dari BCG, DPT, Polio, Campak, dan Hepatitis B. Masing-masing dengan jadwalnya sendiri.
Jawaban saya ini juga diperkuat oleh pernyataan seorang mantan menkes, yang beliau juga dikenal dengan pendiriannya yang teguh dalam masalah konspirasi global. Namun beliau tetap menganjurkan setiap anak menerima kelima jenis vaksinasi tersebut.

Sekarang,masalah pro kontra vaksinasi merebak lagi sejalan dengan ditetapkannya Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri di Jawa Timur (baca di http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/11/10/11/lswkg3-jatim-klb-difteri-menkes-janji-perbaiki-imunisasi

Memang memprihatinkan wabah difteri ini! Penyakit yang diperkirakan hampir lenyap dari bumi Indonesia ini, secara tiba-tiba membunuh 300 an anak. Masya Allah!
Kalau boleh sekedar bernostalgia…karena mungkin tidak semua teman-teman MP mengalaminya.

• Tahun 1970 saya di TK….saya ingat beberapa teman saya dan juga anak2 lain saya jumpai memakai brace pada kakinya. Mereka itu mantan penderita polio. Mereka berhasil sembuh dengan meninggalkan kecacatan. Disamping itu, entah berapa ratus anak lagi yang tidak terselamatkan dan entah berapa ribu anak lagi yang tetap lumpuh layu karena ketidakmampuan membeli brace.
• Pada sekitar tahun itu juga, saya banyak bertemu dengan orang dewasa dengan keropeng di wajahnya. Keropeng itu menetap. Mungkin kalau jaman sekarang harus menjalani operasi plastik untuk memulihkannya. Keropeng itu bekas penyakit cacar (variola). Penyakit ini sekarang sudah dinyatakan tereradikasi dari bumi Indonesia. Yang masih sering dialami oleh anak2 sekarang adalah cacar air (varicella). Teman-teman yang sudah berusia di atas 40 tahun mungkin masih mengalami divaksinasi cacar, yang meninggalkan bekas di lengan berupa 2 buah goresan. Boleh juga ditanyakan dan dibuktikan kepada orang tua masing-masing.
• Pertengahan 1980 an, saat saya bertugas sebagai dokter muda di rumah sakit umum terbesar di Surabaya, di bangsal anak masih dijumpai pasien difteri, beberapa orang. Mereka yang sudah membaik masih menggunakan tracheostomi (dibuat lubang di saluran napas tembus ke leher) karena plak difteri bisa menyumbat jalan napas. Di UGD anak, masih ditemukan pasien dengan tonsilitis (radang tonsil) berat dan plak putih di amandelnya. Suspek difteri!
• Sekitar tahun itu juga pasien tetanus masih berdatangan. Ada ruangan khusus tetanus yang terisolir dan gelap. Karena mereka bisa kumat kejangnya apabila ada suara gaduh atau cahaya. Tukang sampah keluarga saya meninggal karena tetanus gara-gara tertusuk paku saat membuang sampah. Atau tetanus gara-gara sepele: membersihkan selilit di gigi dengan jepit rambut logam warna hitam (sekarang sudah jadi barang langka, tapi masih ada).

• Bayi baru lahir tetanus? Tetanus Neonatorum? Ini yang terbanyak. Bayi imut datang dengan badan kaku bak papan. Cara mengetesnya, kalau kita bisa menyelipkan tangan ke bawah punggung bayi itu tanpa kesulitan, itulah punggung tetanus. Mulutnya mencucu seperti ikan karena trismus (kejang rahang). Itu karena pertolongan persalinan yang tidak higienis sedangkan ibu-ibu mereka tidak divaksinasi tetanus. Sehingga dibuat terobosan. Depkes bekerjasama dengan depag: “mewajibkan CPW (calon pengantin wanita) menjalani vaksinasi TT (tetanus toxoid) saat akan menikah” . Dan saya pun menjadi ‘korban’ dari kebijakan tersebut. 

• Di masa akhir 80 an beredar isu : “Jangan mau vaksinasi TT karena itu sebenarnya bukan vaksin melainkan suntik KB!” Tujuannya agar umat Islam tidak cepat ‘berkembang biak’ (maaf atas istilah yang vulgar ini). Tapi kenyataan menunjukkan bahwa isu itu sekedar isu sesat dari orang-orang yang sedang mimpi. Waktu itu saya balik bertanya, apa tidak begini maksud dari si penebar isu : “Jangan mau vaksinasi TT, supaya bayi2 orang Islam banyak yang kena tetanus dan wafat”

• Campak jaman dulu juga lebih berat. Komplikasi radang paru, kerusakan katup jantung akan menghantui sebagai efek samping serangan yang berat. Vaksinasi campak memang tidak dapat melindungi 100%, tapi setidaknya yang sudah pernah imunisasi, gejalanya akan lebih ringan, Insya Allah.

• Jaman saya balita, saya tidak mengalami vaksinasi LIL tersebut karena memang tidak diprogramkan. Saya mengalami Pertusis (unsur P dari DPT), berupa batuk 100 hari. Bukan batuk sembarang batuk. Batuk sampai terpingkal-pingkal (lho, batuk apa ketawa, sih) menyerang hari-hari bermain saya selama 100 hari alias 3 bulan lebih. Juga pernah kena campak. Juga pernah kena varicella. Tapi, campak dan varicella mengakibatkan kekebalan seumur hidup. Jadi setelah itu tidak perlu lagi vaksinasi.
Penyakit2 tersebut di tahun 2000 an ini sudah amat jarang dijumpai.
Ini fakta dan nyata efek imunisasi. Tapi bersamaan dengan itu berkembang pula pendapat tentang efek-efek negatif imunisasi. Merebaknya di dunia maya, dengan rujukan di dunia barat, dan maya pula. Memang tak disangkal, bahwa imunisasi sebagai salah satu tindakan medis, pasti ada efek samping. Namanya kejadian ikutan pasca imunisasi. Tiap anak berbeda-beda. Dan tidak tiap anak mengalaminya. Namun imunisasi tetap diberikan, karena manfaatnya jauh lebih besar daripada mudharatnya.

Penelitian2 di internet, maaf saya katakan penelitian di internet, karena memang sumbernya adalah situs. Masih perlu dipertanyakan lebih lanjut tentang :
Apakah sudah Evidence Based (penelitian berbasis bukti)?
Dan apakah sudah dibandingkan dengan data2 dari anak yang diimunisasi?
Benarkah merebaknya kasus autis diakibatkan oleh vaksinasi?

Setiap penelitian bisa dianggap sahih dan dapat dijadikan acuan apabila memenuhi syarat-syarat tertentu. Banyak sekali variabel yang harus ikutan diteliti. Teman-teman yang sudah S2 dan S3 dan S… selanjutnya, pasti sudah mafhum mengenai hal ini.
Penelitian tentang vaksinasi banyak sekali tersebar di jurnal2 kesehatan. Manfaatnya juga nyata.

Tulisan ini hanya opini. Pada kenyataannya, saya membebaskan setiap ortu (pasien) untuk menentukan pilihan . Namun, belajar dari kasus KLB difteri dan KLB polio tahun 2000, hendaknya jangan menghalangi atau mempengaruhi para orang tua lain yang mengimunisasi anaknya.

Wallahua’lam bisshowwab

Beberapa komentar penting semasa di MP

http://akunovi.multiply.com/ : TFS, Bu Dokter

aku masih ingat masa-masa imunisasi sampai usiaku SD.
Seingat saya imunisasi hepatitits atau apa gitu.

Belakangan ramai soal imunisasi mungkin karena banyak kabar soal kandungan imunisasi, dll. Wallahu a’lam
Ketika dokter mengusulkan imunisasi, pasti ada tujuannya kan, ya…

http://bundanyarafi.multiply.com/ : hadeuuh..iya dok..saya termasuk yg dibuat bingung sama pro kontra vaksin..apalagi rame banget tuh dok di rumah sebelah..bikin saya maju mundur mo melanjutkan imunisasi anak ketiga saya..
Bagaimana dgn kandungan vaksin sendiri yg katanya belum halal serta banyak sekali zat2 kimianya?

http://www.ykai.net/index.php?option=com_content&view=article&id=380:telaah-buku-imunisasi-dampak-dan-konspirasi&catid=89:artikel&Itemid=121

http://alnolaselena.multiply.com/ : Tfs bu dokter.
Uwak saya dulu kena polio jd ampe skrg msh pk tongkat (uwak umurnya udh 55an)
Bibi saya kena cacar jd mukanya penuh bekas cacar (bibi umurnya udh 40an)

Tak ada alasan bagiku utk tdk mengimunisasi anakku. Haram/halal itu urusan اَللّهُ. Insya اَللّهُ ini salah satu cara pencegahan utk meraih kesehatan🙂

http://myshant.multiply.com/: perasaan makin kesini makin banyak yg mempertanyakan perlu tidaknya imunisasi ya dok ?
kategorinya hak orangtua untuk memilih yg terbaik buat anak2nya
tapi kebayang sedih aja misalnya ortunya memilih untuk tidak mengimunisasikan anaknya, trus dikemudian hari ditanyakan sama anak2nya “kok aku dulu gak diimunisasi siy buk?”😀

http://nasution09.multiply.com/ : Sepakat bu Prita….
Sekarang ada beberapa oknum yang makin ramai mengkampanyekan Imunisasi haram dengan alasan akan mengurangi kesuburan wanita muslim , sewaktu pernah dipuskesmas, dinas kesehatan juga dibuat jadi susah oleh oknum2 tersebut, saat ditanya buktinya mana imunisasi menjadikan wanita tidak subur, mereka gak bisa kasih bukti…pokoknya imunisasi haram. pemikiran yang sangat picik sekali….
mereka kayaknya lebih tega melihat generasi selanjutnya terkena polio,cacar,campak.pertusi,tetanus…..

ada waktu itu pasien anak2 dengan Bronkopneumoni dibawa ke rumah sakit, tapi sama orang tuanya gak boleh dipasang infus dan obat2 kimia dengan alasan haram, dia cuma ngasih susu kambing…..waduh..ngapain dibawa kerumah sakit. silahkan dibuka Link ini, disini ada beberapa diskusi tentang imunisasi smg bermanfaat
http://www.facebook.com/note.php?note_id=154074107964632

http://zhaaid.multiply.com/: Betul. Akhir-akhir ini ramai sekali tentang informasi kalau imunisasi dipertanyakan kehalalannya. Saya sama suami sih memilih untuk imunisasi lengkap yang diwajibkan pemerintah saja.
Nice info Buuu…makasi yaaa…^____________^

http://titintitan.multiply.com/ : tfs, dokter.. ^,^

pernah dapet selebaran itu juga jaman kuliah. gak boleh imunisasi.
tapi skrg mah udh lebih jelas, nuhuun

http://nunksubarga.multiply.com/ :Segala sesuatu harus berlandaskan ilmu..kalau yang awam bingung,tanya pada ahlinya ya, tfs dok..

http://mawaddah1985.multiply.com/ : jadi tenang baca ini…. izin share ya dok…🙂. Buka juga ini http://mawaddah1985.multiply.com/journal/item/288/Bahayanya_Menolak_Imunisasi_by_Agnes_Tri_Harjaningrum

http://luvummi.multiply.com/ : Tadi diskusi sama temen kantor dok,beliau pernah ikut kajian dengan pembicara, jendral amerika yg beragama islam*yg ada bukunyah itu,seinget Diah James Yee*.. Bliau menjelaskan tentang penyebaran virus dan mekanisme pemberian vaksin,di awal yg jadi percobaan itu tentara amerika sendiri. Di ethiopia pernah ada sekelompok masy yg diberi vaksin tapi,beberapa tahun kmudian disitu muncul wabah Aids.. Yg Diah tangkep si,pemberian imunisasi memang mengurangi dampak penyakit yg diimunisasi tapi bisa menimbulkan bibit penyakit lain. Wallahu’alam. Diah juga butuh masukan dan jujur,malah bingung, hahah.

http://simplyndah.multiply.com/ : saya suka menyayangkan mereka yg kontra imunisasi, seringkali mengeluarkan argumen yg penuh emosi. Yaah kalo dibawa emosi susah juga jadinya diberi masukan🙂. Paling ujung2nya saya kembalikan lagi ke si ortu, diimunisasi atau tidak memang pilihan masing2.

Jadi inget sekalian nanya dok, tadi siang Gaza dapat undangan imunisasi campak di Posyandu, tapi karna paginya buang2 air sementara ditunda dulu imunisasinya. Kalo program imunisasi tambahan dr pemerintah seperti bulan ini (campak & polio) itu kira2 bagaimana urgensi nya dok? mengingat anak saya kan dah lengkap LIL nya. menambahi kemarin sempet baca di majalah islami tentang artikel ini juga, sayangnya majalah islami itu kurang detail membahas. Trus dari situ saya situs ini http://sharia4indonesia.com/2011/10/imunisasi-program-kejahatan-wajib-ditolak-dan-tidak-perlu-pengganti/
Bahasa yg digunakan koQ sepertinya provokatif sekali

http://desthaonly.multiply.com/  : sy jg bingung dgn hal ini, karena ada temen sy yg anti dgn imunisasi, tentu dengan data dan fakta sehingga bliau tdk mengimunisasi anaknya. tapi setelah baca artikel ibu, sy jadi gak ragu lagi, Insya Allah pakar lebih tahu =). syukran bu.  baru baca sekilas ttg Telaah buku Imunisasi dampak dan konspirasi. iya itu buku yg ditunjukkan oleh teman saya. bukunya bagus dan terlihat meyakinkan, ternyata isinya belum tentu sahih

 

 

 

 

7 thoughts on “Imunisasi……oh, Imunisasi!

  1. saya dı ımunısası pas kecıl..dulu dı waktu SD jg ada dokter gıtu yang datang. nah masalahnya kemarın sblm menıkah saya ga suntık dok? masalah ga? apa harus tetap menjalanı prosedur suntık sblm menıkah. oh ya saya banyak baca propagnda2 ttg konspırası vaksınası ını dok dı ınternet. katanya ga usah dı vaksın..ıtu kerjaan2 musuh2 ıslam buat mengkontrol ummat ıslam dsb..lalu ada yg bılang krn mengandung unsur haram jg dr babı..macem2

    • suntik sebelum nikah itu vaksinasi Tetanus Toxoid (TT). Tidak masalah kalau belum dilakukan pas mau nikah. Kalau mau menjalani, bisa sekarang atau pas hamil. Kalau sudah tercapai total 5X vaksinasi, maka sudah tercapai kekebalan tubuh permanen, Insya Allah. Adapun isu2 bahwa vaksinasi TT itu dicampur dengan bahan KB sehingga menghambat reproduksi umat Islam, itu isu basi. Sudah ada sejak saya mau nikah dulu, 25 tahun yang lalu! Sampai sekarang tidak terbukti, dan lagi tidak mungkin dikerjakan. Lha wong bahannya saja beda jauh kok…😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s