[the unthinkable thing around us] Penjual Pisang Penunggu Malam


Ada beberapa cara orang berjualan pisang. Pedagang kecil biasanya menaruh   pisang-pisang itu  keranjang lalu dipikul, atau  didorong dengan gerobak.  Sebagai pelindung panas, buah-buah pisang itu ditutup dengan daun pisang kering.  Pedangang yang agak bermodal bisa membuka lapak di pinggir jalan, sehingga tak perlu berpanas-panas menyusuri jalanan. Sedang yang bermodal tinggi, tentu lebih suka membuka kios atau menyewa ruko.  Dan yang disebut terakhir ini dagangannya tidak hanya pisang namun ditambah dengan beraneka buah yang lain.Bagaimana pun caranya, umumnya mereka berjualan pada jam kerja.  Siang sampai sore hari.  Yang punya lapak atau kios bisa  lebih larut, sekitar jam 9 atau 10 malam baru tutup.  Lain lagi dengan pedagang di pasar induk.  Justru di malam harilah mereka aktif.  Karena sebenarnya pedagang di pasar induk ini lebih berfungsi sebagai pedagang grosir atau distributor.Namun ada sesosok penjual pisang yang agak aneh, menurut saya.  Ia laki-laki tua berbadan kurus dan berperawakan kecil.  Pici hitamnya lusuh bertengger di atas kepalanya, dan kemejanya selalu berwarna putih.  Tentu saja putih yang juga tak kalah lusuh dengan sang pici.  Waktunya ketemunya sama, ia selalu saya jumpai pada malam yang larut.  Mendekati tengah malam, bahkan di awal dini hari.  Posisinya juga selalu sama, berjongkok di bawah pohon angsana muda. Menunggui sekeranjang pisang.  Dan,  jenis pisang dagangannya pun selalu sama, pisang susu.  Ia selalu setia di larut yang sama, tempat yang sama. Bahkan di kala rintik hujan  dan berangin.  Dirinya selalu saya jumpai  setiap malam dalam perjalanan pulang ke rumah.

Sekali dua, saya berhenti sejenak membeli sesisir pisang susu.  Saya tak pernah menawar lagi karena ia selalu ‘keukeuh’ mempertahankan harga.  Kesannya, tak butuh barangnya laku. Namun pernah juga saya hanya memberi uang tanpa membeli pisang.  Maklumlah, penggemar pisang-pisangan di rumah hanya anak saya si bungsu.  Lagipula, pisang susu hanya enak dimakan mentah. Tak bisa diolah menjadi makanan lain.  Dan…setelah menerima pemberian uang, ia hanya mengucapkan terimakasih dengan datar-datar saja.  Seolah tak terlalu membutuhkan.

Dan memang sejatinya sayalah yang terkadang membutuhkannya. Bukan hanya untuk pisangnya, tapi juga sebagai lahan pemberian sedekah saya.  Di kala ada persoalan membelit dan belum nampak solusinya, maka saya merasa harus berbagi lebih dari biasanya.  Dan sasaran yang paling mudah adalah pak tua penjual pisang.  Dan bukankah disitu letak keadilan Allah SWT dalam penciptaan alam dan semua penghuninya ini.  DIA ciptakan segala hal berpasang-pasangan demi keseimbangan.  DIA jadikan segolongan kaum menjadi kurang berpunya dan yang segolongan lagi berkecukupan.  Agar kedua golongan tersebut bisa saling memberi manfaat.

Seperti malam ini.  Setelah menghadapi kasus persalinan yang sulit dan berisiko, maka dari balik jendela ambulans mata saya mulai mencari-cari sosok di bawah pohon angsana muda itu.  Lho, kok malam ini dia tidak jualan ya?  Kemanakah gerangan engkau pak tua penunggu malam?

Tulisan di atas diikutkan lomba menulis dengan tema The Unthinkable Things Around Us di http://darnia.multiply.com/journal/item/385

Gambar diambil dari http://www.forum.detik.com

Alhamdulillah, tulisan ini mendapatkan juara ke 3, dengan hadiah sehelai kain sasirangan… 

7 thoughts on “[the unthinkable thing around us] Penjual Pisang Penunggu Malam

    • iya, mbak. Tuh, ibu juri Yana sudah komen duluan. Baru tau cara olah pisang susu ini, mbak. Kalau digoreng, dipotong-potong atau dibiarkan utuh? Pakai tepung atau model pisang raja yang cukup dengan mentega?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s