[Ultah Cambai – Kisah Nyata] Ditolak Masuk Kamar Operasi

Kalau sekarang kamar operasi ibaratnya sudah jadi habitat saya kedua setelah kamar bersalin, maka 24 tahun yang lalu saya pernah mengalami kejadian ditolak masuk kamar operasi!

Tahun 1987….
Malam baru  beranjak.  Dengan bergegas saya kembali ke  kamar bersalin. Tadi saya ijin untuk menunaikan sholat maghrib.  Malam itu memang giliran kelompok kami untuk bertugas di bagian kebidanan dan kandungan rumah sakit umum terbesar di Jawa Timur itu.  Sebagai mahasiswa fakultas kedokteran semester 8, tugas kami hanyalah melihat dan mengobservasi berbagai kasus yang ada di kamar bersalin.
Pasien memenuhi ruangan yang berkapasitas 12 tempat tidur itu.  Suasana agak riuh.  Detik-detik menjelang persalinan sepertinya memang menyakitkan.   Saya langsung menuju bed nomor 4, tempat pasien yang harus saya observasi.  Namun ternyata penghuninya sudah tidak ada.

“Ny. S? Ooh, dia sudah dibawa ke kamar operasi”, ujar teman yang saya  mintai tolong untuk menggantikan sementara saya sholat tadi.
“Sekalian saja kamu ke sana.  Sekarang giliranmu, kan?”sambung teman saya itu.

Tugas di kamar operasi tak berat, hanya menjadi observer.  Ini tugas di kamar operasi kebidanan yang kedua buat saya.  Jadi, saya tak ragu lagi saat membuka pintu kecil yang sebenarnya merupakan pintu tembusan.  Jalan yang terdekat dari kamar bersalin menuju kamar operasi, ya lewat pintu yang terbuat dari besi itu.

Saya langsung menuju ke kamar ganti.  Saya ambil semacam jubah besar dan kemudian mengenakannya di atas seragam jaga.  Kami sebagai observer, memang tak perlu berganti baju.  Konsekuensinya,  pandangan terbatas karena hanya bisa melihat dari jarak tertentu.  Saya masih mengagumi seorang dokter muda perempuan (atau co ass), yaitu mahasiswa yang sudah semester 12.  Tampaknya di mata saya yang culun ini ia begitu gagah dengan gaun operasi warna hijau itu.

Operasi akan dimulai.  Pasien siap dibius. Semua petugas sudah siap di sekeliling meja operasi.  Yang masuk terakhir adalah sang operator.  Dokter residen itu masuk dengan tangan di angkat sampai sedada.  Memang begitu standarnya. Kalau sudah cuci tangan maka diharamkan untuk berlenggang kangkung masuk kamar operasi, sampai kita sudah mengenakan gaun yang lengkap.  Beliau memandang sekeliling, mengamati siapa saja yang hadir pada operasi kali ini.  Dua orang asisten sudah siap di tempat.  Salah satunya adalah dokter muda yang saya kagumi tadi.  Perawat yang menjadi petugas instrumen sudah siap.  Demikian juga dokter anestesi yang sudah dalam posisi membius.  Lalu tibalah pandangan mata sang operator pada diri saya.  Dilihat dari atas ke bawah, lalu dari bawah ke atas.  Ada yang aneh rupanya.

“Heh ! Kenapa kamu pakai baju panjang?” suaranya menggelegar sambil menunjuk gamis saya yang tampak di balik jubah setinggi lutut itu.
Saya langsung mengkerut.  Tapi masih berusaha menjawab.  “Maaf, dok.  Ini memang baju saya”.

“Keluar kamu! Pakai baju yang bener!” untuk kedua kalinya suaranya menggelegar. Saya  tak berpikir dua kali,  langsung beringsut mundur, melepas jubah, menggantungkan di tempat semula, dan langsung melesat kembali ke kamar bersalin.

“Lho, kok cepat? Memang sudah selesai?” teman saya heran.
“Saya gak boleh masuk OK. Soalnya pakai jilbab dan baju panjang. Sudah gantian kamu saja, daripada nanti dicari-cari”, jawab saya.
Alhamdulillah….jaga observer hanya sampai jam 9 malam.  Saya bisa langsung pulang sambil membawa hati yang agak jengkel tapi  tak bisa melawan.

1988 – 1989 ………………
Angkatan saya sudah berhak menggunakan ‘gelar’ dokter muda.  Dengan kewajiban masuk kamar operasi dan menjadi asisten, kami ( mahasiswi berjilbab dan mahasiswa simpati) bergotong royong untuk membuat 10 pasang baju seragam kamar operasi beserta jilbabnya.  Sebuah perjuangan berat untuk bisa melegalisasi seragam ‘made in sendiri’ itu resmi masuk  kamar operasi.  Kejadian ditolak masuk kamar operasi semoga tak terulang lagi.

1995………………
Saya dokter residen obstetri dan ginekologi.  Sudah harus berakrab ria dengan kamar operasi.  Tak nyana…baju bertuliskan nama saya ternyata masih setia menunggu di lemari OK.

Tulisan ini diikutkan dalam lomba yang diadakan khusus untuk kontak Cambai di

http://cambai.multiply.com/journal/item/420

Jumlah kata 598 (nyarisssss…)

Alhamdulillah, dapat menyomot hadiah juara 1 berupa suvenir Palembang yang cantik dan gemerlap.  Terimakasih, mbak Dian

5 thoughts on “[Ultah Cambai – Kisah Nyata] Ditolak Masuk Kamar Operasi

    • tapi, itu kan kondisi di akhir tahun 1980 an, mbak. Dan ceritanya happy ending, kan. Mangkanya, sekarang miris kalau busana muslimah dianggap sekedar mode saja. Padahal sebenarnya dia itu manisfestasi dari ibadah. Inovasi dan kreasi sih boleh, tapi jangan berlebihan.

    • Boleh tidaknya tergantung dari peraturan RS setempat. Tapi standarnya sih kemeja dan celana panjang. Menurut saya juga lebih nyaman, aman dan efisien demikian. Toh semua itu serba longgar dan panjang. Namun pernah juga saya pakai gamis untuk busana saat jaga malam. Lebih sering kena cipratan darah dan ketuban….he..he..Btw, sekarang sudah lulus atau belum, ada dimana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s