Kehilangan

Kisah Pertama

Alhamdulillah, dompetku sudah ketemu”, anak laki-laki saya melapor saat kami menengoknya di S.  Ia memang sedang menjalani tugas kepaniteraan klinik di kota yang berjarak 80 kilometer dari Jakarta itu.  Dompet berisi ATM, KTP, SIM, dll…dll tersebut jatuh sekitar sepekan sebelumnya.  Di malam hari, dalam perjalanan pulang ke rumah kosnya.  Saya cuma bisa menasihatinya untuk berdoa, agar kalau benda itu (terutama isinya, sih) masih ditakdirkan jadi miliknya maka Allah akan mengembalikannya.  Tentu saja dengan caraNya sendiri.
 

Dan memang, di pagi hari tadi dompet itu terpajang di papan pengumuman barang hilang.  Uang tentu saja raib.  Namun, surat-surat penting tetap utuh. Alhamdulillah!

Bahwa Allah akan mengembalikan barang kita dengan caraNya sendiri, memang sudah pernah saya alami dan buktikan sendiri.  

                                                                    *****


Kisah kedua

Sekitar 20 tahunan yang lalu, untuk pertama kalinya saya kehilangan dompet.  Saat itu keluarga kecil kami (baru punya dua anak) sedang menaiki KA Jayabaya, jurusan Jakarta-Surabaya.  Ini kereta kelas bisnis, yang kedudukannya antara eksekutif (Mutiara dan Bima) dan ekonomi (Gaya Baru).  Ya…kelas menengahlah.   Penumpang naik berdesakan mencari tempat duduk.  Saya menggendong satu anak dan menggandeng satu anak lagi, ikut dalam desakan itu.  Tiba-tiba ayah saya yang mengawal dari belakang menengarai tas cangklong saya yang terbuka tutupnya.  Dan, betul…dompet merah kesayangan sudah raib! Langsung lemes…karena seluruh uang perbekalan ada dalam dompet tersebut.  Tapi toh saya masih bersyukur karena setidaknya masih bisa nyampe ke Surabaya.  Paling-paling tidak bisa jajan sepanjang perjalanan 12 jam lebih itu.  Dan di kursi…..usai memanjatkan doa perjalanan, saya tambahkan doa khusus buat si merah.

Kereta pun berjalan. Selamat tinggal si merah! Penumpang mulai terkantuk-kantuk.  Tak berapa lama muncul pak kondektur disertai 2 stafnya. 

“Tumben, kok sudah pemeriksaan tiket.  Alhamdulillah tiket disimpan di saku, dan tidak di dompet”, begitu pikir saya.
“Kalau  pakai jilbab pasti mudah mencarinya”, saya mendengar suara kondektur itu.

 “Lho kok tidak ngomongin karcis, malah jilbab.  Aneh juga kondektur ini”.

Tiba-tiba pak kondektur sudah berdiri di depan kursi saya.  “Nah, ini kan.  Apa betul ini punya mbak?” tanyanya sambil mengacungkan si dompet merah di tangan kiri dan KTP di tangan kanan.

“Lho…kok tahu, pak?” saya tak kalah heran campur gembira.
“Iya, tinggal menyocokkan saja foto di KTP ini dengan penumpang.  Soalnya kan pakai jilbab jadi gampang carinya.  Dompet ini ada di dalam toilet gerbong depan.  Ditemukan penumpang, terus dilaporkan ke kami”.  Kedua asistennya mengangguk membenarkan. 


Masya Allah….Alhamdulillah.  Surat-surat penting masih utuh dan saya masih ditinggali sebagian harta juga.  Sayang, keinginan saya untuk bertemu penumpang yang menemukan dompet tersebut tak dapat terlaksana karena pak kondektur pun sudah tak terlalu ingat cirinya.
Di masa itu, pemakai jilbab masih beberapa gelintir, jadi mencari yang berjilbab justru lebih mudah!

                                                                  *****

Kisah ketiga.
Kali ini dalam perjalanan dari Surabaya menuju Jakarta.  Saya mengajak 2 dari 3 anak mengunjungi ayah mereka sekaligus menghadiri pernikahan adik ipar.  Di atas kereta, saya menyadari ketiadaan dompet saya di dalam tas.  Lemes sesaat…namun segera teringat bahwa kemungkinan besar dompet tersebut jatuh di dalam taksi menuju ke stasiun.  Mumpung KA belum berangkat, saya turun untuk menelepon perusahaan taksi lewat telepon umum di stasiun (belum ada HP!).  Tak lupa, ibu di rumah juga saya kabari tentang musibah ini.  Siapa tahu dari perusahaan taksi akan mengembalikan dompet tersebut ke alamat KTP.  Alhamdulillah, di taksi tadi saya sempat memindahkan sebagian uang dari dompet ke dalam tas.  Meskipun mungkin perbuatan inilah yang menyebabkan dompet jatuh.  He..he..

Jaman dulu, pesawat masih jadi moda angkutan yang super mewah.  Jadi untuk sekedar berjumpa suami di Jakarta (atau sebaliknya), maka jadwal perjalanannya adalah berangkat Jum’at sore dari Surabaya dan tiba hari Sabtu pagi.  Sabtu sore kita sudah harus di KA lagi supaya bisa tiba di Surabaya Ahad pagi, dan Senin…. sudah fresh untuk kembali bekerja.  Bisa juga sih, memaksakan untuk berangkat Ahad sore dan berdoa sepanjang perjalanan agar KA tiba tepat waktu di subuh hari Senin.  Masuk kerjanya dijamin kondisi fisik agak layu!

Sesudah tiba di Surabaya lagi….Ibu saya bercerita bahwa seorang sopir bemo datang ke rumah mengantarkan dompet!  Pak sopir  mengatakan, dompet ia temukan di bemo saat mau bersih-bersih.  Ibu saya yang ketempuan memberi tip kepada sang sopir baik hati. Uniknya, bemo yang kejatuhan dompet itu rutenya jauh dari rumah.  Dan ia mau bersusah payah mengantarkan ke rumah. Semoga Allah memberinya balasan yang lebih baik!  Alhamdulillah.

                                                                           *****


Kisah keempat
Suami saya pun pernah mengalami kehilangan dompet.  Dalam perjalanan naik KRL, dompet dicopet orang.  Beberapa hari tak ada kabar, akhirnya direlakan.  Namun mendadak ada telepon di asramanya, bahwa dompet ditemukan dalam kotak pos, dan sekarang ada di kantor pos Fatmawati! Masya Allah, betapa panjang perjalanan dompet itu.  Karena diperkirakan dicopetnya di stasiun Cikini.  Saat mengambil, pak pos meminta sekedar uang ‘nemu’ dan kami beri sekadarnya.  Alhamdulillah!

*****

Kisah kelima

Dan, anak saya yang perempuan…terkaget-kaget saat ada anak SMA dari lain RW tiba-tiba ke rumah mengembalikan dompet!  Rupanya dompet itu terjatuh di angkot, sedangkan dia sendiri belum menyadarinya.  Eh…baru tahu hilang setelah dikembalikan.  Sayangnya, si penemu jujur itu bahkan tak mau diberikan sekedar uang lelah.  Semoga kelak anak muda itu jadi pemimpin yang kebal korupsi!

Alhamdulillah…….memang Allah mengembalikan barang kita dengan caraNya sendiri.    

gambar dari http://www.jakartacity.olx.co.id (soalnya dompet merah yang asli sudah pensiun)

 

2 thoughts on “Kehilangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s