Muhammad, Bayi Gaza yang Lahir di Indonesia

Tadinya sister berharap ia bisa bersalin setelah suaminya menyelesaikan ujian bahasa Indonesia.   Mungkin supaya mereka bisa lebih fokus: belajar dulu, baru urusan bayi.
Saya katakan kepadanya, “Berdoa saja.  Minta Allah memberikan yang terbaik. Meskipun bayi ini lahir sebelum ayahnya ujian”.  Bukannya apa-apa, tanggal taksiran persalinannya memang jatuh beberapa hari selewat tanggal ujian.

Dan Allah SWT memang memberikan kemudahan itu.  Sebuah persalinan yang mudah dan lancar, 5 hari sebelum tanggal ujian.  Bayinya laki-laki, beratnya 3000 gram.  Ibunya pun dalam kondisi yang sehat.  Namun sebelum itu, bidan yang bertugas untuk observasi lebih dari sekali melaporkan bahwa sister berharap saya bisa memberikan tindakan untuk mempercepat proses persalinannya.  Saat itu, saya menolak.


Nah, setelah semua beres, kembali pasangan suami istri tersebut mempertanyakan penolakan saya untuk melakukan tindakan mempercepat proses persalinan.  Saya jelaskan bahwa proses kelahiran anak ke 4 mereka ini adalah normal bahkan singkat.  Tidak ada yang perlu dipercepat atau diakselerasi.  Semua berada dalam batas-batas yang normal.
“Ya, soalnya di negeri kami hal tersebut sudah biasa dilakukan.  Kalau tidak, akan sangat banyak pasien bersalin yang antri”, begitu alasan sang suami yang dokter itu.
“Wah, itu lain masalah.  Negerimu kan dalam kondisi tidak stabil.   Rumah sakit atau klinik terbatas. Akses sulit. Kehidupan pun terancam, “ saya jadi bertutur panjang lebar.  Membayangkan Gaza pas jaman perang.
“Ya.  Memang,  para ibu di Gaza datang ke klinik cuma untuk melahirkan (baca: mengeluarkan) bayi saja.  Setelah itu … pulang”, sambung sang istri.

“OK, sekarang kalian mau pulang berapa jam setelah persalinan ini?” gantian sekarang saya yang ‘menantang’.   “Enam, duabelas, atau 24 jam?”

Is it necessary for me?” sister jadi ragu.
Akhirnya disepakati mereka akan pulang 8 jam pasca persalinan. Sementara istrinya istirahat, sang suami pulang untuk mengurus ketiga anak mereka yang lain.  Anak-anak itu semuanya masih balita.  Anak pertama, Anas, berusia 4 tahun, sedangkan si kembar Shuhaib dan Rahaf berusia 2 tahun.


They made me mad!” begitu komentar ibunya terhadap si kembar yang memang tak mau diam.
Untuk bayi yang baru lahir ini, mereka sudah menyiapkan nama yaitu Muhammad. 

“Ya, cuma Muhammad saja.  Nanti belakangnya pakai nama keluarga, “begitu jawabannya atas pertanyaan saya “apa nama panjangnya?”
Saat saya sebutkan nama anak pertama saya yang juga Muhammad, dia keheranan.  “Wow…panjang sekali.  Berapa kata itu? Oh…sampai 3 kata ya!”


3 hari kemudian ………………………………………………..
Sang suami datang menemui saya sambil membawa sekotak cokelat! Ia datang sendirian sambil menggendong bayinya.
“Hei…hei…apa ini?  Tidak perlu merepotkan diri seperti ini.  Lagipula, mengapa datang sendirian? Kemana ibunya bayi?”
“Di rumah. Dia masih lelah”, jawabnya dalam bahasa Indonesia yang masih kaku.  “Tidak apa.  Kami biasa memberikan cokelat seperti ini di Gaza.  Untuk ucapan terimakasih.  Dan saya juga sudah biasa menggendong bayi seperti ini”.
“Wah, kaum bapak di Gaza selangkah lebih maju, dong daripada di sini. Soalnya, saya belum pernah menemui seorang bapak  gendong bayi sendiri, tanpa disertai istrinya”,  kata saya dalam hati.
“OK, terimakasih.  Sekarang segeralah pulang karena hari mulai maghrib.  Jangan lupa, ingatkan istri untuk kontrol”, ini jawaban saya sesungguhnya.

2 pekan kemudian……………………………….
Kami bertiga (saya,suami, dan anak perempuan) menengok keluarga Gaza itu di rumahnya.  Sekalian bawa kado buat bayi.   Kami agak leluasa ngobrol karena anak2nya sedang tidur semua.  Mula-mula, topiknya tentang khadimah (asisten rumah tangga).  Istrinya menolak karena merasa  masih sanggup menangani rumah tangga sendirian, dan lagipula tidak biasa dengan adanya orang asing dalam rumah.
“Di Gaza, kami sudah biasa menangani pekerjaan rumah tangga dan anak2, sendirian saja”, ujarnya.
Saya cuma berkomentar: “You are super woman, sis”.
Dia cuma tertawa. Topik berikutnya adalah jumlah anak dalam sebuah keluarga.
“Rata-rata enam”, jawabnya.  Lho, angka ini sama dengan yang disebutkan oleh kepala departemen Kebidanan di rumah sakit Al Shifa, yang saya temui  bulan Juli tahun lalu (2010).
(Biar ingat, baca https://drprita1.wordpress.com/2012/09/21/melangkah-ke-gaza-4-sebenarnya-gaza-menjerit/)
“Dan yang lahir kebanyakan anak laki”, sambungnya.  “Mungkin Allah beri ganti karena banyak laki2 yang gugur dalam melawan Israel”

Saya cuma manggut-manggut.  Dan dalam hati berharap, semoga pendidikan dokter spesialis untuk suaminya segera selesai dan mereka dapat berkhidmat untuk memerdekaan bumi Gaza dari penjajahan. (nin) 

Mereka adalah salah satu keluarga dokter Gaza yang menerima beasiswa BSMI untuk menempuh pendidikan spesialis di Indonesia.  Teman-teman yang ingin berpartisipasi  membantu  pembiayaan pendidikan ini akan kami terima dengan tangan terbuka……………….          

https://drprita1.wordpress.com/2012/09/21/melangkah-ke-gaza-5-pendidikan-untuk-warga-gaza/

12 thoughts on “Muhammad, Bayi Gaza yang Lahir di Indonesia

    • Rata-rata 6, mayoritas laki, dan banyak yang punya anak kembar. Itulah kebesaran Allah! Tapi, banyak juga kasus keguguran, yang menurut analisa mereka sendiri adalah karena air, tanah, dan udara tercemar oleh sisa perang serta bahan kimia dari Israel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s