Bukan FF – Tetap Bertahan

Saat pasien tersebut mendapat giliran masuk ruangan, sudah saya siapkan senyum gembira untuk menyambutnya.  Dari anamnesa (wawancara) awal yang sudah dilakukan oleh bidan, saya tahu bahwa saat ini ia sedang hamil untuk ketigakalinya, setelah sepasang balitanya lahir melalui operasi sesar.  Dan kedua operasi tersebut, saya juga yang melakukannya.

Namun yang  saya jumpai sungguh sangat berbeda! Ia masuk dengan wajah murung, diiringi sang suami dengan wajah tak kalah kusut.  Lho, apa pasal? Apa mereka kelamaan menunggu ya?  Bahkan ucapan salam saya dijawabnya asal-asalan.  Saya tak boleh larut.  Setelah prosedur standar pemeriksaan selesai dilakukan, saya katakan bahwa memang betul ia telah hamil dengan usia 6 pekan.  Kantung kehamilan telah nampak jelas dalam rahimnya, sementara bayangan janin juga tergambar.

Dan di sinilah persoalannya mulai jelas.  Mereka – bukan hanya ibunya, tapi ayahnya juga – tak menghendaki kehamilan ini! Atau jelasnya, “Tolong dikeluarkan saja, dok!”
“Kami belum siap untuk punya anak lagi”, kata suami.
“Kedua anak ini sungguh merepotkan.  Saya lelah mengasuhnya seorang diri”, sambung istri.
Lucunya,  sepasang anak yang dituding jadi biang keladi kerepotan itu justru sedang asyik mewarnai buku bergambar dilantai.  Pas lagi rukun, mungkin.

“Ya Allah, menangkan saya dalam ‘pertandingan’ ini”, demikian saya berdoa.  Bukan apa-apa, memberikan penjelasan kepada pasien yang ‘lagi panas’ begini perlu argumentasi yang tepat dan tentu saja, kepala harus tetap dingin.  Artinya, jangan kita larut dalam emosi karena luapan kemarahan mereka.  Tapi juga jangan ringan tangan mematuhi apapun yang mereka inginkan . Saya selalu mengibaratkan, “ibu sedang bimbang berdiri di pinggir jurang, sudah menjadi kewajiban saya untuk menolong dari kemungkinan jatuh ke dalam jurang. Bukannya malah menjorokkan”.  Namun tak semudah itu mengubah persepsi seseorang yang sedang dalam fase ‘menolak’. 
Akhirnya keluarga tersebut keluar dari ruangan saya dengan muka yang tak berubah.  Masih kusut, dan mungkin tambah kusut karena permintaannya tak dapat diterima.  Sehingga tak heran, saat itu mereka keluar dengan membanting pintu!  Saya pun tak berharap banyak.

Namun siapa sangka, sebulan kemudian mereka datang lagi! Wajah sudah berangsur cerah. Kelihatannya saat ini sudah memasuki fase ‘menerima’.  Saat  saya tunjukkan gambar USG dengan janin kecil bergerak lincah ia pun nampak gembira.  Dan itu berlanjut pada kedatangan-kedatangan selanjutnya.  Meskipun, sesekali ia masih menagih janji, tepatnya mengingatkan saya.
“Nanti setelah kelahiran yang ketiga ini saya tetap disteril kan, dok?” Kali ini jawaban saya terasa ringan karena kalau tindakan yang disebutkannya mempunyai indikasi medis yang jelas.

Peristiwa ini selalu saya ceritakan kembali kepada para pasutri yang berniat serupa di waktu-waktu sesudahnya.

2 thoughts on “Bukan FF – Tetap Bertahan

  1. assalamu’alaikum
    bu,anda dokter kandungan?saya mau tanya..masih adakah harapan saya untuk bisa melahirkan normal setelah dua kali operasi sesar.yang pertama kelahiran harus sesar karena ketuban pecah dan kepala janin sungsang dan masih 35 minggu bb bayi 2470 gr,yang kedua ingin melahirkan normal gak jadi, karena air ketuban sdh pecah ampe 6 jam dilihat belum ada bukaan sama sekali dan sakit sdh takterhankan,akhirnya suami taktega krn saya udh lemes maka sesar yg dipilih.padahal sebelumnya udh berencana ingin melahirkan normal..bayi saya yg kedua lahir kecil hanya 2050 gr usia kehamilan 38 minggu.mohon penjelasan dan saran?saya ingin sekali ingin melahirkan normal…kelahiran kedua masih menyisakan kekecewaan yang ingin lahir normal..

    • wa’alaikum salaam wr. wb. Setelah dua kali persalinan sesar, sebenarnya peluang bersalin normal masih mungkin, namun dengan risiko robek rahim yang lebih besar. Peluang bagi ibu yang sudah pernah melahirkan normal sebelumnya tentu saja lebih besar daripada yang belum pernah sama sekali. Mengingat risiko robek rahim yang morbiditas dan mortalitasnya tinggi baik bagi ibu maupun bayi, maka persalinan pervaginam setelah dua kali sesar hampir tidak pernah disarankan. Mengingat hal tersebut, saya sarankan lebih baik ibu mensyukuri nikmat Allah yang sungguh besar dengan kehadiran 2 anak yang lucu dan sehat ini. Persalinan normal maupun sesar keduanya tetap bernilai ibadah jihad di mata Allah SWT, asalkan dijalani dengan ikhlas. Insya Allah, bila kondisi dinding rahim masih cukup tebal, operasi sesar sampai 4 kali masih dimungkinkan. Semoga Allah memberikan pencerahan atas kondisi ini. Aamiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s