Cerita Calon Buruh Migran

 

Sudah beberapa pekan saya tak kedatangan pasien buruh migran, yang untuk gampangnya saya sebut dengan TKW.

Daerah tempat klinik saya berada memang gudangnya PJTKI (Pengerah Jasa Tenaga Kerja Indonesia).  Nama PT nya macam-macam, dan keren.  Tapi kalau ada embel-embelnya “labour supplier”, atau “manpower agency”, bisa dipastikan itu adalah PJTKI.  Otomatis di setiap PJTKI, selalu ada asrama TKW nya (namun jarang atau hampir tidak pernah saya temui asrama TKI – pria).  Ciri khas bangunan yang dijadikan asrama TKW adalah pagar tinggi dan tertutup, namun disediakan lubang pengintip di gerbangnya.  Di gerbang itu pula, tertempel papan pengumuman jam besuk.  Lho, memangnya para TKW itu sakit?  Tidak!  Jam besuk adalah jam kunjung bagi keluarga atau kenalan para TKW, yang  tinggalnya  di asrama tersebut bisa sampai berpekan-pekan.  Di hari ahad atau libur, di depan asrama TKW selalu penuh dengan pedagang.  Mereka menggelar aneka dagangannya dan melakukan transaksi dari celah bawah pintu gerbang, celah antara pagar dengan tembok, atau para TKW itu memanjat sesuatu di halaman dalam sehingga kepala mereka bisa melongok keluar.

Kembali ke pasien.  Pasien TKW umumnya tidak datang sendiri, namun didampingi oleh ibu asrama.  Pernah juga ada yang diantar bapak asrama, tapi umumnya tidak ikut masuk ke ruangan kecuali kalau diperlukan keterangannya.  Otomatis yang saya kenal kebanyakan adalah para ibu asrama, karena mereka sering datang mengantar anak asuhnya dengan berbagai masalahnya.

Namun pasien yang datang malam itu sendirian.  Katanya, “Saya baru saja keguguran, bu.  Tolong diperiksa….sudah bersih  belum kandungan saya”. “Kata ibu, harus dipastikan sudah  bersih dulu”,sambungnya, sementara saya masih menghitung-hitung usia kehamilannya.
“Lho, jadi teteh ….. (saya nyebut namanya) ini mau ‘berangkat’ ya.  Keguguran atau digugurkan?” saya mulai ‘ngeh’ bahwa dia TKW, dan menginterograsi. Istilah ‘ibu’ yang baru dia sebut, konotasinya adalah ibu asrama.
“Digugurkan”, ia menjawab dengan yakin.  “Dan saya lihat sendiri, sudah keluar semuanya”, ujarnya memastikan.
“Ooh,  begitu ya! Diapakan saja tuh sama dukun?!” saya agak terperanjat mengingat usia kehamilan menurut perhitungan sudah diatas 12 minggu.

“Dipijat kuat-kuat di perut saya, kemudian dikasih ramuan daun-daunan”, ia menjawab dengan yakin.

“Ya sudahlah….ayo kita lihat sudah bersih belum”, saya mulai menyiapkan USG. Ternyata….di monitor tampak bayangan janin yang bergerak aktif.  Usianya 13 pekan.  Semuanya normal.

Saat saya tunjukkan gambar itu…raut muka si teteh tampak keheranan.

“Saya lihat sendiri, kok, sudah keluar semua.  Jadi, masih ada, yah.  Terus, bagaimana, ya Bu?” perempuan seusia anak saya itu bertanya dengan lugu.

“Bertobat. Istighfar.  Batalkan keberangkatanmu, dan pulang kembali ke suamimu”, saran saya yang kedengaran normatif banget.

“Tapi saya harus bayar 5 juta kalau nggak jadi berangkat, bu.  Darimana uangnya”, ujarnya memelas.

“Kalau engkau mau memaksakan bayi yang sudah sebesar ini dikeluarkan, nyawamu ikut terancam, lho!  Hati-hati.  Berbahaya!  Berdoalah dan minta pertolongan kepada Allah SWT.  Kan Allah juga yang menyelamatkan janinmu!”, saya berujar sambil dalam hati merutuki para sponsor yang berkeliaran di desa-desa, mengiming-imingi para wanita muda dengan kehidupan bergaji besar di negeri orang, tapi sekaligus memajaki mereka dengan bayaran tak terjangkau.

Kisah ini menambah panjang daftar aborsi yang berkaitan dengan buruh migran (nin)

(kejadian ini berlangsung di malam 30 April, ditulis saat berlangsung peringatan hari buruh sedunia, 1 Mei 2011)

*foto didapat dari http://www.langitperempuan.com(via google search)

8 thoughts on “Cerita Calon Buruh Migran

    • 1. Para agen2 PJTKI yang bertindak jadi perekrut itu yang perlu dibenahi. Banyak pelanggaran dan pemalsuan di sini. 2. PJTKI harus ada akreditasinya. 3. Syarat standarisasi seseorang bekerja di luar negeri harus ada. 4. Pemerintah (cq menakertrans) harus disiplin. Memang beberapa kali sidak ke asrama TKW, pengusaha ditegur, perusahaan ditutup. Tapi mati satu tumbuh seribu. Karena bisnis ini menggiurkan?

      • nah, masalahnya UUD juga. Ini kan bisnis. Prinsipnya saling menguntungkan. Yang bonyok ya TKWnya. Mereka itu tidak tau apa2. Tidak tau kerja, tidak tau bahasa, pendidikan ngepas. Kalau mau berangkat harus setor sejumlah uang,yang utk mendapatkannya harus hutang/jual barang. Nah, sampai di tempat tujuan, ketemu majikan. Majikan merasa sudah bayar mahal, tapi kok SDMnya tidak memuaskan. Kerja gak bisa, komunikasi gak bisa. Akhirnya cuma marah2, bahkan memukul/tindakan fisik lain.
        Temperamen mereka juga beda sih sama orang kita. Nah, lingkaran setan itu kan harus diputus, dengan cara hanya mengirimkan SDM berkualitas dan legal.
        Huuuft…*gemas kalau sudah mikirkan ini*

      • yaah…selama ini saya cuma bisa dakwahin para TKW itu. Kalau masih ada suami yang punya mata pencarian ya lebih baik kerja di negeri sendiri. Kalau memang hamil ya jangan sampai gugurkan janin demi keberangkatan. Kalau memang mau berangkat ya jangan hamil…..

  1. ibu dokter, saya jadi teringat kembali waktu kerja di PJTKI di daerah tropodo waru. tapi saya bukan ‘produk’nya dok, saya bagian finance-nya. duh, cerita kayak gtu memang bagian dari mereka, trus mereka tuh kya dipenjara aja, soalnya si pengusaha takud mereka kabur. kan data mereka udah dipasarkan di calon majikan di LN, makanya mereka ketati banget di asrama.
    oya, sebelum mereka berangkat, biasanya mereka juga dipekerjakan jadi PRT, uang masuk pengusaha. tuh kan mereka memang jadi objek. kasian.

    jadi ingat juga, para sponsor itu istilahnya PL (Pekerja Lapangan). banyak anak2 lulusan SMA waktu itu yang juga tergiur jadi TKW.

    • wah , mbak Ina pasti lebih tahu dan lebih banyak punya kisah dibanding saya. Pasien saya memang banyak yang pegawai, istrinya pegawai, atau pengusaha PJTKI. Maklum, memang daerah kantong PJTKI. Seperti dipenjara? Itu mungkin istilah yang tepat. Komunikasi dengan dunia luar kalau bukan jam besuk paling cuma lewat sebuah lubang kecil di pagar tinggi. Satu rumah bisa diisi sampai 80an TKW! Kalau rumahnya agak besar bisa 100an. Kalau kamarnya ada jendelanya (masih bagus itu) yang menghadap ke jalan, maka sering tampak jejeran kepala2 melongok keramaian jalan. Sayanya yang jadi miris …… Oya, kalau di Jatim, kantong TKWnya dimana ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s