“Modeblaad” Busana Muslimah

Saat liburan Idul Fitri yang baru lalu, ada waktu 3 hari buat mengunjungi orang tua di Surabaya.  Ternyata saya menemukan 1 buku lama.  Bukan novel atau textbook, tapi modeblaad (buku mode – bahasa Belanda).  Bukan modeblaad lux, hanya fotokopian.  Tapi modeblaad ini cukup bersejarah terutama bagi pengguna busana muslimah di tahun-tahun awal 1980 an. Di tahun-tahun awal dipakainya busana muslimah oleh mahasiswa, belum ada konveksi dan koleksi busana muslimah.  Belum ada pula kerudung yang bisa dibeli jadi, baik segi empat, segi tiga maupun kerudung instan siap pakai.    Model busana muslimah buat mahasiswi atau pelajar enaknya seperti apa? Terserah masing-masinglah.  Kami masih berdasarkan naluri dan panduan fiqih saja.  Yang penting, menutup aurat – termasuk kaki-,  longgar, dan tidak tipis menerawang.

Bahkan, terkadang masih pakai baju-baju lama yang dimodifikasi demi memenuhi syarat syariat. Seperti apa modifikasinya?  Macam-macam.  Bisa dengan membongkar kupnat, maka blus jadi lebih longgar, tidak pas badan.  Keliman rok dibuka demi mendapatkan tambahan panjang beberapa senti.  Bahkan kalau perlu disambung dengan renda atau kain yang lain!

Bagaimana dengan kerudung? Gampang, beli saja kain meteran kemudian dipotong sesuai lebarnya.  Jadilah bentuk bujur sangkar. Tinggal dilipat dua,  jadi segitiga, beres.  Untuk pinggiran bisa dibawa ke tukang neci,  bayar beberapa ratus (harga tahun 1984, lho), maka kerudung buat kuliah pun jadi sudah.  Kalau agak rajin dan telaten maka pinggiran kerudung itu dipasangi renda atau dirajut, lebih indah memang.  Sayangnya, saya tidak termasuk yang golongan rajin telaten.  Maklum, mahasiswi FK…he..he… Atau bisa juga sedikit kreatif dengan menarik benang-benang pada pinggiran kain kerudung, maka jadilah pinggiran yang suwir-suwir! Kalau yang ini, selain kreatif juga irit karena tidak perlu mengeluarkan ongkos merapihkan pinggiran sepeser pun!

Kepingin pakai gamis! Maka, sepulang kuliah kami berkumpul di rumah seorang kawan yang pintar menjahit dan mendapatkan kursus singkat membuat gamis. (terimakasih, dr. Wita, SpOG) Bahkan, kawan yang tidak punya mesin jahit (karena di kos-kosan), cukup rela manjahit gamis dengan tangan! Alhamdulillah, saat itu saya bisa pakai mesin jahit Singer buatan tahun 1920 milik ibu.

Kembali ke Saat liburan Idul Fitri yang baru lalu, ada waktu 3 hari buat mengunjungi orang tua di Surabaya.  Ternyata saya menemukan 1 buku lama.  Bukan novel atau textbook, tapi modeblaad (buku mode – bahasa Belanda).  Bukan modeblaad lux, hanya fotokopian.  Tapi modeblaad ini cukup bersejarah terutama bagi pengguna busana muslimah di tahun-tahun awal 1980 an. Di tahun-tahun awal dipakainya busana muslimah oleh mahasiswa, belum ada konveksi dan koleksi busana muslimah.  Belum ada pula kerudung yang bisa dibeli jadi, baik segi empat, segi tiga maupun kerudung instan siap pakai.    Model busana muslimah buat mahasiswi atau pelajar enaknya seperti apa? Terserah masing-masinglah.  Kami masih berdasarkan naluri dan panduan fiqih saja.  Yang penting, menutup aurat – termasuk kaki-,  longgar, dan tidak tipis menerawang.
Bahkan, terkadang masih pakai baju-baju lama yang dimodifikasi demi memenuhi syarat. Seperti apa modifikasinya?  Macam-macam.  Bisa dengan membongkar kupnat, maka blus jadi lebih longgar, tidak pas badan.  Keliman rok dibuka demi mendapatkan tambahan panjang beberapa senti.  Bahkan kalau perlu disambung dengan renda atau kain yang lain!


Bagaimana dengan kerudung? Gampang, beli saja kain meteran kemudian dipotong sesuai lebarnya.  Jadilah bentuk bujur sangkar. Tinggal dilipat dua,  jadi segitiga, beres.  Untuk pinggiran bisa dibawa ke tukang neci,  bayar beberapa ratus, maka kerudung buat kuliah pun jadi sudah.  Kalau agak rajin dan telaten maka pinggiran kerudung itu dipasangi renda atau dirajut, lebih indah memang.  Sayangnya, saya tidak termasuk yang golongan rajin telaten.  Maklum, mahasiswi FK…he..he… Atau bisa juga sedikit kreatif dengan menarik benang-benang pada pinggiran kain kerudung, maka jadilah pinggiran yang suwir-suwir! Kalau yang ini, selain kreatif juga irit karena tidak perlu mengeluarkan ongkos merapihkan pinggiran sepeser pun! 


Kepingin pakai gamis! Maka, sepulang kuliah kami berkumpul di rumah seorang kawan yang pintar menjahit dan mendapatkan kursus singkat membuat gamis. (terimakasih, dr. Wita, SpOG) Bahkan, kawan yang tidak punya mesin jahit (karena di kos-kosan), cukup rela manjahit gamis dengan tangan! Alhamdulillah, saat itu saya bisa pakai mesin jahit Singer buatan tahun 1920 milik ibu.

Kembali ke modeblaad tadi.  Saat buku mode karangan mbak Anne Rufaidah itu terbit, kami sungguh sangat terbantu.  Paling tidak secara moril.  Karena, meski tidak ada sepotong pun busana saya yang meniru modeblaad tersebut, tapi wawasan terasa agak luas.  Dan merasa bahwa busana muslimah juga bisa dibuat macam-macam model.  Maka buku tersebut lantas beredar dari tangan ke tangan, dan difotokopi untuk keperluan pribadi.  *maaf mbak Anne, tidak bermaksud membajak* Bahkan saya sampai punya 2 eksemplar.  Karena, selain saya pribadi punya satu, ternyata saat menikah, suami juga punya satu!   *Oalah, jadi kaum ikhwan jaman itu juga merasa harus punya referensi! *
Buku tersebut memuat gambar-gambar rancangan Anne Rufaidah dari pakaian olahraga sampai busana pengantin dan busana daerah, yang diperagakan di Jakarta pada Tahun Baru Hijriyah 1406.

Dilengkapi dengan puisi Taufiq Ismail “Subuh sampai Maghrib, Suatu Hari pada Awal Abad Lima Belas”.  Bahkan foto pernikahan Anne Rufaidah dengan menggunakan busana muslimah merupakan foto yang wajib dimiliki mahasiswi siap nikah. Semua itu tinggal kenangan kini.  Semoga menjadi amal jariyah buat Anne.  Dan semoga mbak Anne tetap konsisten dengan rancangan busana muslimah yang syar’i.(nin)

migrasi MP 20 Sepetember 2010

keterangan foto :

1. Cover modeblaad (fotokopian)

2. Rancangan gaun pengantin muslimah

3. Rancangan busana olahraga muslimah

 

2 thoughts on ““Modeblaad” Busana Muslimah

  1. saya juga kagum dengan Anne Rufaedah yang asal bandung ini, dia itu dulu akhit thn 70-an merupakan finalis putri indonesia kalau gak salah atau apa ya pemilihan putri2an yg di cover majalah femina, kemudian beralih profesi menjadi perancang busana muslimah…..semoga karyanya menjadi amal jariah buatnya, aamiin.
    Mbak Prita dulu saya pakaian nya gak ngikut mode tapi seperti biasa k ebanyakan masyarakat melayu bawahannya sarung atasannya baju kurung (minjam istilah padang) blouse/tunic sepanjang lutut) dan atasnya kerudung biasa yang dililitkan dikepala sehingga menutupi rapat……
    bersyukurlah anak2 jaman sekarang sesuai dengan perkembangan jaman segalanya mudah didapat

    • yang benar, mbak Anne Rufaidah itu dulu pemenang Putri Remaja Indonesia yang diselenggarakan majalah Gadis (adiknya Femina). Sebuah ajang putri2an yang agak nggenah namun sekarang sudah tidak diselenggarakan lagi.
      Sekarang memang banyak mode busana muslimah, mbak. Tapi harus selektif memilihnya, karena sebagian jadi keblinger, jadinya mengabaikan syariat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s