Kenangan Haji – Pelembab Persahabatan

Kejadian yang juga meninggalkan kesan mendalam adalah saat di Madinah.  Berbeda dengan di Masjidil Haram yang tidak menerapkan batas yang ketat antara jamaah perempuan dan laki-laki, maka di masjid Nabawi sebaliknya.  Di masjid Nabawi disediakan tempat bahkan pintu khusus untuk jamaah wanita. Meskipun sudah terpisah, tetap saja tempat kelihatan penuh. Apalagi kalau jam kedatangan kita sangat dekat dengan waktu sholat. 


Seperti sore itu, saat menjelang maghrib saya baru masuk ruangan wanita.  Kondisinya sudah penuh sesak dan padat.  Sebenarnya menghadapi suasana seperti itu tidak perlu khawatir, karena kepenuhsesakan itu lebih karena jamaah perempuan yang duduk berkelompok, selonjoran, bahkan berbaringan.  Dengan sedikit senyum dan permohonan maaf, Insya Allah akan dapat tempat.  
Akhirnya, saya dapat tempat di sebelah seorang wanita India. Dengan senang hati dia menggeser sedikit tubuhnya sehingga tersisalah ruang kosong untuk saya tempati.  Namun, teman di sebelahnya rupanya tidak berkenan.  Dengan muka masam ia berkata-kata dengan bahasa yang tidak saya mengerti, tapi bahasa tubuhnya menunjukkan ketidaksetujuan atas sikap temannya yang memberikan tempat buat saya.
“Makin sempit nih, tempat kita”, mungkin begitu ucapnya.


Alhamdulillah, si wanita yang memberi tempat ke saya itu cukup sabar dalam mendinginkan hati temannya.  Meskipun masih masam, setidaknya ia sudah tak berkata-kata keras lagi.
Seusai sholat maghrib, saya berkenalan lebih jauh dengan wanita India di sebelah saya itu.  Tentu dengan bahasa tarzan karena ia tak paham bahasa Inggris.  Melihat tungkainya yang kering dan bersisik disertai telapak yang kasar dan pecah-pecah pada bagian tumitnya, saya menawarkan pelembab kulit yang selalu ada dalam tas.    Saya contohkan cara pemakaiannya sembari menunjuk ke bagian-bagian tungkainya yang perlu dilembabkan.  Eh, ternyata dia suka.  Seusai menggosok sekujur tungkai dan tangan dengan pelembab itu, maka dikembalikannya botol disertai pandangan berterimakasih.  


Sambil membaca Al Qur’an saya melirik teman sebelah saya yang sedang mengobrol dengan temannya itu.  Keasyikan tilawah terganggu karena lengan saya ditowel.  Oh, rupanya si wanita India.  Ada apa? Ternyata ia mengatakan (dengan bahasa isyarat, tentunya), bahwa temannya (yang tadi marah dengan saya) ingin juga mencoba pakai pelembab kulit.
Masya Allah… setelah mereka berdua sudah merasakan pelembab kulit,  kemarahan sudah menguap!
Saat selesai sholat Isya, kami berpisah dengan saling berpelukan!  Berkat cairan pelembab? Lebih dari itu! Di tanah suci semua orang adalah bersaudara.    (nin)

“UNTUK MENGHORMATI SAUDARA2 KITA YANG TENGAH MEMPERSIAPKAN KEBERANGKATAN KE ARAFAH…HARI INI”

tulisan dibuat pada September 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s