Kenangan Haji – Berbagi Air Zamzam

Ada sebuah kejadian di saat thawaf yang masih membekas hingga kini.  Saat itu kami (saya dan suami) sudah menyelesaikan putaran ke tujuh.  Setelah menunaikan sholat sunnah, kami duduk istirahat sembari menunggu adzan sholat Isya.  Saya keluarkan sebotol air zam-zam dan mengulurkannya ke suami. Beliau menenggak airnya langsung dari botol.  Setelah itu, diangsurkannya botol plastik itu, dan giliran saya menenggaknya.  Juga langsung dari botol.  Melihat masih ada sisa air, suami minta giliran minum lagi.
Namun, baru saja botol diterima dan tutupnya dibuka oleh suami, ada tangan lain yang terulur.  Datangnya dari sisi sebelah kanan saya.  Tak tanggung-tanggung, tangan terulur itu langsung merebut botol  yang airnya tinggal separuh tersebut. Tentu saja saya kaget…air mau diminum kok direbut!?? 
Masih bisa dimengerti kalau minumnya pakai gelas.  Lha ini, bukankah botol itu sudah bekas kami? Saya terpana.  Namun tanpa sadar botol yang sudah di tangan suami itu akhirnya saya angsurkan juga kepada si empunya tangan, yang ternyata seorang perempuan berkulit hitam.
“ Waduh…! Botol bekas suami kok jadi mau diminum perempuan?”, pikir saya agak kurang enak. Tapi ternyata, si perempuan itu mengulurkan botol air kepada orang di sebelahnya kanannya lagi.  Saya sedikit membungkukkan badan supaya bisa jelas melihat siapa orang yang diberi air itu.
Dan … pemandangan yang saya lihat membuat mata saya tergenang dan hati langsung disergap keharuan!
Subhanallah… seorang laki-laki tua dan renta, berkulit hitam, dengan tangan gemetar menerima botol itu.  Dengan tangan gemetar pula ia menuangkan air yang tinggal separuh ke dalam mulutnya.  Dan…Masya Allah…bibirnya juga bergetar!  Usia laki-laki itu –dalam perkiraan saya- sudah di atas 80 an.
Dan mungkin sadar bahwa air dalam botol itu bukan miliknya,  ia tak menghabiskan airnya.  Diserahkan kembali kepada si perempuan, dan oleh perempuan yang mungkin anaknya itu disodorkan kepada saya sambil memandang seolah mengucapkan terimakasih.
Dengan pandangan yang masih kabur akibat air mata, saya menggeleng.  Menyilakan kepada pak tua untuk menghabiskan air itu.  Kalau saja saya punya sebotol lagi, pasti akan saya berikan juga.  Orang tua tentu lebih rawan terkena dehidrasi daripada kami.

Sebait pelajaran yang dapat saya petik dari peristiwa yang hanya berlangsung beberapa menit itu adalah :

”Allah telah memberikan sebuah kisah tentang bagaimana kami harus lebih dan lebih lagi mensyukuri nikmatNya dengan ikhlas”

dan kedua :

“ tidak mendahulukan praduga yang kurang baik terhadap orang lain”

Ah, sayang, saya tak mengenal keluarga itu lebih jauh karena adzan Isya telah berkumandang.  Kami pun segera merapatkan shaf menghadap Baitullah yang tegak di depan mata.
Sampai sekarang saya masih terharu tatkala mengenang peristiwa ini.

(tulisan ini pernah dimuat di Republika. Diposting ulang sebagai memoar kebersamaan Prita dan Basuki selama 23 tahun, 1 Muharram 1432 H

Diposting ulang di WP sehubungan dengan matinya MP

6 thoughts on “Kenangan Haji – Berbagi Air Zamzam

  1. 23thn..usıa pernıkahan..masaalloh…saya dan suamı masıh anak bawang:) harı ını 25 sept baru tepat 1thn setelah ıjab kabul:))) semoga bısa selanggeng bu dokter..dan pergı hajı bareng suamı juga:)

    • Anak bawang yang masih bau kencur ya mbak Rahma :)) Dulu…ditahun 1989 kami juga memperingat setahun usia nikah kok. Sama. Cuma masalah waktu. Aamiin. Kita saling mendoakan ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s