Melangkah ke Gaza (4) – Sebenarnya Gaza Menjerit!

Assalam alykom, brother. Now we need your help to cover the cost of 10.000 euros to buy air conditions for the cancer children in the pediatric specialized hospital.  Is that possible brother ? The children are dying due to the hot wheather and they are already suffer from fever”.

Ini SMS yang baru saja diterima dari dirjen hubungan luar negeri kemenkes Palestina di Gaza.  Di balik ketegaran dan keramahan bangsa Palestina, seperti yang selalu kami jumpai selama di Gaza, sebenarnya kalangan medis menjerit! Mereka menjerit dikarenakan sangat terbatasnya sarana untuk menolong dan memberikan pengobatan bagi para pasien yang dirawat. Tak jarang pasien meninggal selama menunggu ijin dari Israel untuk melakukan pemeriksaan CT Scan di Tepi Barat, atau pasien meninggal selama menunggu proses rujukan yang demikian panjang.  Sementara, banyak alat medis di rumah sakit yang mangkrak dikarenakan rusak atau usia tua.  Tak ada pembaharuan.  (gambar : tirai pembatas pasien di ruang rawat bedah Al Shifa yang diikat seadanya dengan tas kresek!)

 

Mirip dengan peralatan kedokteran yang merana, demikian pula para tenaga medisnya.  Mayoritas tenaga dokter spesialis di Gaza berpendidikan ‘turun temurun’. Bedakan dengan “Al Ilmu Nuurun = Ilmu adalah cahaya.  ‘Turun temurun’ alias ‘nurun’ di sini adalah para dokter spesialis yang beruntung dapat mengecap pendidikan di luar negeri menurunkan/mengajari sendiri para dokter yuniornya sesuai bidang spesialisai yang dikuasainya.  Istilahnya ‘uncertificated’ alias dokter spesialis tak berijazah.


Beruntunglah juga muslimah di Indonesia yang dengan mudah mendapatkan penanganan dari dokter kandungan perempuan.  Di Gaza, hal tersebut sangat langka! Dapat dipahami, karena untuk menempuh pendidikan sampai ke luar negeri adalah hal yang sulit untuk para dokter perempuan di sana. Saat saya diajak keliling Al Shifa Maternity Hospital oleh dokter Ahmed Madhoun, sang kepala bagian, di setiap ruangan yang kami masuki keluhannya adalah “crowded” dan lagi-lagi “crowded”! Sehingga seorang ibu pasca bersalin terpaksa harus dipulangkan setelah 2 – 3 jam.  Masih pucat dan lemas, saat ia harus beres-beres dan meninggalkan rumah sakit!

Hal itulah yang mendasari, mengapa BSMI  mau berepot-repot ria menyekolahkan para dokter Gaza di Indonesia.  Lho, kok dibilang repot? Ya, mengurus dokter asing (lulusan dari FK tak dikenal di Kazakhstan, Khartoum, dll) untuk bisa belajar di universitas negeri terkemuka bukan hal yang mudah.  Membiayai hidup mereka dari rumah tinggal sampai asuransi kesehatan juga membutuhkan biaya tak sedikit.


Tapi, seperti kata Dr. Medhaad dari kemenkes Palestina :”Biarlah mereka tahu bahwa negeri yang jauh seperti Indonesia, ternyata sangat bersemangat membantu kita”.  Dan, bagi kita di Indonesia, inilah sarana untuk mengangkat derajat negeri kita tercinta.  Asal tahu saja, di Timur Tengah orang lebih kenal Malaysia dan Filipina daripada Indonesia. (nin)  

Donasi untuk  Palestina dapat disalurkan ke Bank Syariah Mandiri, rek no 701 115 9548

atau BNI Syariah no rek 0260.260.007,

atas nama Bulan Sabit Merah Indonesia 

Keterangan foto :

1. Bangunan rumah sakit bedah Al Shifa yang mangkrak sejak  7 tahun yang lalu akibat embargo bahan bangunan oleh Israel

2. Kami di depan RS Al Shifa, RSU terbesar di Gaza

3. Di kamar perawatan bedah Al Shifa, gorden disambung dengan tas kresek

4. Gambar dibuat dengan tangan, karena keterbatasan fasilitas. Mengharukan atas semangat belajar yang tinggi

5. Alat-alat medis yang rusak, bertumpukan karena tidak ada suku cadang, apalagi penggantian alat baru

6.Seorang ibu yang bersiap hendak pulang setelah beberapa jam sebelumnya bersalin di maternity hospital. Masih pucat.

4 thoughts on “Melangkah ke Gaza (4) – Sebenarnya Gaza Menjerit!

    • Bulan Juli 2010. Semoga era presiden Mursi di Mesir akan mempermudah keluar masuk Gaza, tapi berita terakhir katanya masih sulit! Silakan berdonasi untuk Palestina lewat rekening di atas. Kami masih diminta oleh kemendiknas untuk mendatangkan beberapa orang lagi, dari bidang non medis. Saat ini yang sudah siap masih untuk mahasiswa kedokteran, yang insya Allah akan ditampung oleh UMJ (univ Muhammadiyah Jakarta)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s