Melangkah ke Gaza (3) – Selingan di Gaza

Alhamdolillah, u didn’t agree to stay in my home because israelis shilled Ansar complex just now. We r OK but afraid of the shock!”

SMS itu saya baca pada pukul 1dini hari waktu Gaza, dan dikirimkan 1 jam sebelumnya oleh sahabat saya, Abeer Barakat.  Masya Allah….begini rupanya!  Kondisi yang nampak tenang dengan segala aktivitas normal masyarakat di Gaza rupanya semu belaka.  Serangan bisa terjadi setiap saat tanpa hujan atau angin.  Tiba-tiba saya merasa tidak nyaman melanjutkan tidur dengan kondisi jendela terbuka  (takut…?!#$).  Sambil menatap kota Khan Jounis yang telah tertidur, saya menutup pintu ke arah balkon.  Akibatnya, hawa gerah langsung menyerbu, dan mau tak mau kipas angin harus dihidupkan.   Penginapan tim BSMI di Europe Hospital di Khan Jounis ini memang dilengkapi dengan kipas angin di tiap kamar.  Maklumlah, sedang musim panas.  Sepanjang malam, bisa lebih dari tiga kali terjadi listrik padam.

Keesokan harinya, baru ada berita yang agak jelas lewat siaran Al Jazeera.  Rupanya Israel menjatuhkan bom di kawasan Daar el Balah yang mengakibatkan 1 orang syahid dan sekitar 20 an orang luka-luka.  Sekedar info, 1 orang yang syahid ini telah kehilangan seorang istri dan 4 anaknya pada agresi Israel 1,5 tahun yang lalu.

Saya menelepon Abeer untuk menanyakan kondisinya.  Semalam Abeer dan suaminya mengantar kami pulang ke Khan Jounis setelah silaturrahim ke rumah mereka di Gaza City.  Ceritanya, sepulang dari mengantar kami, mereka langsung tidur.  Beberapa saat tertidur, terdengar suara ledakan yang sangat keras.

 “Saking kerasnya”, katanya, “kami sampai terloncat dari kasur!”
Saya menukas dengan sedikit was-was : “Tapi hari ini kami masih ada acara di kota (Gaza city).  Apakah cukup aman untuk perjalanan nanti?”
“Tenang saja.  Israel selama ini tidak pernah menyerang di siang hari.  Insya Allah, perjalanan cukup aman”, ia menjawab dengan nada biasa.

 Jadi bagi penduduk Gaza, adanya serangan yang tiba-tiba dan terjadi di suatu tempat entah dimana…sudah menjadi makanan sehari-hari.  Di luar itu, kehidupan berjalan seperti biasa.  Pasar dengan segala aktivitasnya, demikian pula rumah makan, dan toko-toko maupun supermarket. Jalanan juga ramai dengan mobil (jangan harap melihat motor.  Motor adalah barang langka di sini), dan terkadang macet. Sekali-sekali gerobak kecil ditarik keledai turut melintas di jalan raya. 

Pada saat kami datang memang bertepatan dengan liburan musim panas.  Sekolah dan universitas libur, sebaliknya tempat rekreasi penuh orang.  Tempat rekreasi utama bagi warga Gaza adalah pantai.  Sepanjang tepi barat Jalur Gaza adalah laut Mediterania dengan ombaknya yang cukup besar.  Mirip di pantai selatan Jawa. Meskipun tak dapat dikatakan bebas juga, karena 30 mil dari pantai, tentara Israel sangat rajin berpatroli dan tak segan menembaki nelayan yang terlalu ke tengah saat melaut.
Dalam perjalanan pulang pergi Khan Jounis – Gaza City tak jarang kami dilewatkan pantai oleh Abdullah, sopir bis yang setia mengantarkan rombongan BSMI .  Pantai sangat ramai.  Baik yang hanya bermain pasir maupun ber
enang di laut.  Di sepanjang pantai berdiri berbagai macam sarana penunjang wisata seperti pondok-pondok rumah makan maupun permainan anak-anak.

“Dalam waktu dekat”, kata Umar, sang chaperon, “kami akan punya wahana rekreasi air di dekat pantai ini yaitu ’Mad Water’ “.
Awalnya kami bingung juga, apa yang dia maksud dengan ‘air gila’ itu.  Setelah dijelaskan baru paham bahwa ‘mad water’ tak lain adalah ‘water bom’ atau ‘water park’ di Indonesia. 
“Lihatlah dermaga di ujung sana,” kali ini Adham yang bicara.  “Di situlah rencananya Mavi Marmara bersandar”.  “Dulu warga selalu ramai menanti-nanti datangnya kapal tersebut,” sambungnya.

Sedikit cerita tentang sahabat saya, Abeer Barakat.  Perkenalan dengannya dimulai sejak kunjungan ke Gaza pertama kali pada Januari 2009 yang lalu.  Saat itu kami melakukan kunjungan ke UCAS (University College of Applied Sciences), tempat ia bekerja sebagai dosen Bahasa Inggris, sekaligus ketua Bagian Kurikulum.  Semenjak itu komunikasi terus berjalan melalui email maupun SMS. Pernah sekali kami sama-sama online dan menjalin obrolan di dunia maya melalui chatting.  Waktu itu kami mendiskusikan tentang perayaan 1 Muharram di Gaza.  Diceritakannya bahwa warga Gaza tak memperingati secara khusus tahun baru Islam tersebut dikarenakan masih dalam suasana duka akibat agresi Israel, ditambah lagi dengan musim dingin.

Ibu empat anak ini (2 kembar) cukup aktif di kampusnya, dan mempunyai jaringan pertemanan yang cukup luas.  Dialah yang mengusahakan agar kami bisa berkunjung ke Jabaliya, ke sebuah organisasi sosial yang membina para janda dan kaum dhuafa korban perang di sana.  Pada saat berpisah ia berpesan agar saya datang lagi mengunjungi Gaza, namun secara sungguh-sungguh saya katakan bahwa saya tidak mau datang sebagai aktivis kemanusiaan, namun sebagai turis.  “Antar saya mengunjungi berbagai tempat menarik di Palestina ini.  Bukankah saat itu negaramu sudah merdeka?” (nin)

Keterangan foto :

1. Welcome to Gaza, Gapura Selamat Datang ke Gaza dari arah Khan Jounis (selatan)

2. Pemandangan Khan Jounis di Senja Hari dilihat dari balkon penginapan di Europe Hospital

3. Grafiti berisi pesan2 moral dan perlawanan untuk penjajah memenuhi tembok di kota Gaza

4.Jalanan (agak sepi karena pas hari Jum’at) di Gaza City.

5. Pantai Gaza, tampak saat perjalanan dari Khan Jounis ke Gaza.  Saat itu sedang banyak pengunjung karena

bertepatan dengan liburan sekolah

6. Saya memangku Rania, anak bungsu Abeer Barakat. Tampak ibunya (gamis coklat) di belakang

2 thoughts on “Melangkah ke Gaza (3) – Selingan di Gaza

    • betul mbak Rahma, kalau mau ke Al Aqsha harus lewat border Israel. Demikian juga kalau dari Gaza mau ke Al Aqsha, harus lewatin daerah Israel. Sebenarnya sekarang kita juga bisa kalau mau mengunjungi Al Aqsha, bahkan sholat di dalamnya. Tapi, itu sama saja dengan memasukkan devisa untuk Israel (!), demikian kata ust. Yusuf Qaradhawi. Pengalaman dari seorang teman yang tahun lalu ke Al Aqsha, untuk masuk ke masjid itu kita diawasi oleh tentara Israel yang bersenjata lengkap. Padahal, lanjut teman saya, si tentara itu muda dan ganteng lho. Sayang ya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s