Melangkan ke Gaza (1) – Ujian Sabar di Mesir

Perjalanan ke Gaza ini sejatinya sudah dimulai sejak hampir 1 bulan yang lalu,  saat BSMI mengirimkan 2 orang tim aju untuk mengurus segala macam tetek bengek birokrasi diplomatik.  KBRI sudah hampir tiap hari disambangi, demikian juga Bulan Sabit Merah Mesir dan Ikatan Dokter Mesir, serta Kemlu Mesir.  Semua membantu.
Demikian juga di Indonesia.  Dukungan datang  dari ketua DPR, pak Marzuki Alie,  anggota wantimpres, ibu DR. Siti Fadhillah Supari, ibu Menteri Kesehatan, ibu DR. Endang Sedyaningsih.  Semua bergerak dan berkoordinasi.

Dengan sahabat di Gaza pun saya berkomunikasi.  Dan mereka semua mengatakan ” the situation is condusive now.  The best time for you to visiting Gaza”. Hambatannya paling listrik yang padam setiap delapan jam, selama delapan jam pula.  Tapi justru karena situasi normal itulah, maka urusan jadi panjang.  Ini sangat berbeda dengan kunjungan awal 2009 yang lalu.  Waktu itu situasi emergensi. Beberapa peraturan jadi ‘bisa’ dilanggar, dan itu dimaklumi.

Dokumen terakhir yang kami tunggu adalah surat ijin dari “Security State” Mesir.  Tak ada kata lain kecuali bersabar.  Namun makna sabar tak sama untuk setiap orang.  Demikian juga di BSMI, terjadi riak-riak kecil manakala harus bersentuhan dengan kata ‘sabar’.

Alhamdulillah, surat yang ditunggu-tunggu tersebut akhirnya kami terima juga.
Dan sekarang, setelah menempuh perjalanan selama 12 jam dengan rute Jakarta – Singapura (transit) – Dubai (transit) – Kairo, maka baru saya punya kesempatan menulis catatan ini.  Kami melepas lelah sejenak di Wisma Nusantara, Kairo.  Cuaca di sini lagi sedang di puncak terik.  Empat puluh derajat celsius, membuat kami agak berlari kecil apabila sedang di luar.  Tujuannya supaya segera bisa mendapatkan keteduhan.

Rencananya, semoga Allah memudahkan, beberapa jam lagi tim BSMI akan diterima oleh duta besar RI di Mesir, dan setelah itu kami akan meluncur ke Al Arish.  Itulah kota terdekat dengan Rafah, perbatasan Mesir – Palestina. Sengaja tidak menginap di Kairo supaya tidak terlambat sampai di Rafah.  Tahun lalu, pintu gerbang ditutup jam 4 pm waktu setempat. 

Ya Allah, mudahkanlah kami masuk ke Gaza.(nin)

Menulis sambil menunggu siapnya seluruh anggota rombongan, Wisma Nusantara, Kairo, 26 Juli 2010

Foto : 1. Di Bandara Kairo, Mengurus Barang Bantuan dan Alat Operasi Cukup Menyita Waktu

Foto 2 :  Diterimaoleh Dubes RI untuk Mesir

Foto 3 : Salah satu apartemen kumuh di sudut Kairo

Foto 4 : Alhamdulillah, akhirnya Welcome to Palestine

6 thoughts on “Melangkan ke Gaza (1) – Ujian Sabar di Mesir

    • apanya yang berbeda, mbak Rahma? Secara umum karakter mereka sama dengan orang Arab pada umumnya. Berani, teguh pendirian. Dan untuk orang Gaza yang kaya, standar hidupnya tinggi lho, seperti Eropa. *sama juga dengan Turki, dong*. Bedanya, mereka melawan Israel. Istiqomah sampai sekarang. Sementara tidak ada dari negara tetangganya yang berani membantu mereka secara terang2an. Karena itu mereka sangat menghargai Indonesia, yang meskipun negerinya jauuuh, tapi mau berepot-repot ria membantu dan menyambanginya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s