Tukang Cuci Istimewa

Kegiatan manusia sehari-hari tak dapat dilepaskan dari aktivitas mencuci.  Sejalan dengan makin beragamnya kesibukan dalam rumah tangga, pekerjaan mencuci biasanya dihibahkan ke orang lain.  Maka ada profesi baru yaitu “tukang cuci”.  Meskipun pada kenyataannya tukang cuci ini dalam menjalankan pekerjaannya juga menggunakan mesin cuci! Tukang cuci ini biasanya hanya datang untuk beberapa jam saja, sekedar menyelesaikan pekerjaan mencuci  sekaligus menjemurnya.  Terkadang ditambah  juga dengan menyeterika.  Karena itu seorang tukang cuci bisa saja mempunyai ‘klien’ lebih dari satu rumah tangga. Meskipun saat ini bisnis jasa laundri sangat menjamur, namun sebenarnya bisnis tersebut tak  lepas juga dari peran tukang cuci.

Baik bekerja di rumah tangga maupun di laundri, pekerjaan mencucinya boleh dikatakan sama saja.  Artinya, yang dicuci kebanyakan adalah pakaian, dan bahan linen lainnya seperti seprei, bed cover, gorden, dsb.  Tingkat kekotorannya juga tak jauh beda.  Kebanyakan debu, atau keringat.  Kalaupun ada noda, paling banter adalah noda makanan atau lipstik.

Lain halnya tukang cuci di sarana kesehatan.  Tidak hanya dituntut membersihkan noda, tukang cuci ini pun harus memahami prinsip-prinsip menyucikan dan menyucihamakan.  Mengapa demikian? Karena tentu saja jenis kotoran di rumah sakit sangat berbeda dengan di rumah tangga.  Contoh yang paling gampang adalah di bagian kamar bersalin, habitat saya sehari-hari.  Kotornya kain alas bersalin tak tanggung-tanggung.  Bukan hanya berlumuran darah, tapi juga (maaf) berlepotan feses, dan guyuran urin.  Air ketuban pun bisa menyumbang kotor, yakni saat konsistensinya  hijau kental.  Belum lagi kalau bayi yang baru lahir itu sudah mengeluarkan feses pertamanya yang disebut mekonium, kotoran lengket hijau kehitaman itu sungguh sulit dihilangkan dari kain.  Baunya…jangan ditanya.  Meskipun saya menganggapnya biasa, bagi hidung orang sensitif sungguh merupakan siksaan.  Sehingga, kualifikasi tukang cuci alias petugas laundri di rumah sakit pun sedikit berbeda.  Tidak hanya mampu mencuci dengan bersih, merekapun harus punya memenuhi satu syarat spesial yakni tidak mudah jijik.  Tak heran, di masa awal membuka lamaran petugas bagian laundri, para calon banyak yang berguguran.  Pasal penyebabnya ya satu itu…mereka jijai dengan darah dan kawan-kawan yang menyertainya.  Bahkan ada yang sampai muntah di kamar cuci!

Masih tentang mencuci.  Pada saat terjadi bencana tsunami di Aceh pada penghujung 2004, saya datang bersama tim Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI).  Pada 4 Januari 2005 (hari ke 10 tsunami), mulailah beroperasional sebuah rumah sakit lapangan yang kami dirikan di sebuah tanah datar bekas lapangan bola.  Rumah sakit lapangan tersebut dilengkapi dengan sebuah kamar operasi yang langsung saja dipenuhi dengan pasien-pasien yang dioperasi secara maraton.  Kebanyakan jenis operasinya adalah patah tulang.  Di hari pertama, seluruh persediaan linen kami langsung terpakai.  Tak ada pilihan, hari itu juga kain-kain kotor itu harus langsung dicuci.  Timbullah masalah baru,  ternyata mencari seseorang yang mau mencuci di daerah bencana sungguh sulit.  Berbagai macam alasan dikemukakan untuk menolak tugas itu.  Sampai-sampai ada yang mengusulkan, “ Sudahlah kubur saja kain-kain kotor itu!” Halah…!

Sampai akhirnya pemilik rumah pondokan kami mengajukan usul yang kelihatannya rasialis, namun realistis juga.  “Bu, coba cari orang (suku) J.  Mereka suka mau kalau disuruh kerja begini”. Begitulah, setelah sesorean kami akhirnya kerja bakti mencuci sebuntal besar kain berdarah campur tanah dan lumpur (maklum bekas luka campur tanah lumpur tsunami), maka pekerjaan baru menanti keesokan harinya yaitu mencari orang (suku) J untuk dinobatkan jadi tukang cuci rumah sakit lapangan.  Ooh,  tukang cuci…sungguh besar jasamu!

(nin)

9 thoughts on “Tukang Cuci Istimewa

  1. Bener Bu, makanya kami sangat menghargai asisten yang ngebantuin di rumah. Tanpa dia pasti saya dan istri kelimpungan luar biasa. Alhamdulillah sudah bertahan tahun ke 3 bersama kami.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s