Pembelajaran dari Seekor Kucing

Kullu nafsin dzaaiqatul mauut. 
Setiap yang berjiwa akan mengalami mati. 


Setidaknya, nasihat itulah yang bisa kuberikan kepada anak-anak saat kami menjumpai kenyataan bahwa kucing kesayangan keluarga kami telah menemui ajalnya….mati!
Sebuah motor yang ngebut saat berkelok telah menciderai kepalanya.  Ironisnya, sebelum itu mbaknya anak2 sibuk menceritakan betapa Petew, nama kucing kami yang coklat berdada putih itu, menyebabkan seorang pengendara motor terjatuh saat menghindari dirinya.  Dan peristiwa itu terjadi di depan rumah kami.  Tapi kok Petew (nama si kucing) tak kunjung pulang? Padahal jam begini biasanya dia gelosoran saja di sofa.  Jam makan siang pun terlewati…

 

Karena itu seisi rumah gempar saat jasadnya yang sudah kaku ditemukan di halaman depan.  Rupanya sesaat setelah tertabrak kucing itu berusaha pulang dan masuk rumah, tapi tak kuasa.  Anak saya terkecil sesenggukan memberitakan kabar kematian itu.
“Ummi…. Petew meninggal!”,  isaknya sembari tangannya masih menggenggam erat pisang yang tinggal separuh…! Di depan, kujumpai si mbak menangis tersedu-sedu sambil memeluk si pus. Sementara driver keluarga sudah sibuk mencangkul tanah bakal kuburan.  Oooh….!
Petew sebenarnya hanya kucing kampung.  2 tahun yang lalu…tiba2 saja kucing bayi itu muncul di halaman belakang.  Entah yang mana dan dimana induknya.  Perlahan-lahan ia pun mulai jinak dan akrab.  Sampai akhirnya tidurnya pindah di sofa dalam.  Makannya jadi beli di supermarket.  Sepekan sekali dimandikan.  Meskipun setelah besar acap kali ia ‘menghilang’ pada hari mandi.  Apalagi pada musim kawin, kerjanya menghilang dan pulang dengan tubuh luka.  Anak2 juga yang jadi ‘dokter’ nya.  Lukanya dikasih salep dan antiseptik. Walah…jadi kucing ningrat dia.

Dan sekarang Petew tiada.  Dia memang hanya kucing kampung.  Tapi darinya anak2 telah belajar mengasihi hewan, belajar merawat dan memandikan kucing, belajar memberi makan (kalau W—sk-s lagi habis, comot saja ikan di meja makan), bahkan belajar membersihkan kamar mandi kalau Petew BAB akibat kelupaan mengeluarkan saat malam hari.

Terimakasih ya Allah, yang Engkau telah memberikan banyak pelajaran dalam mengasihi sesama makhlukMu kepada anak2.  

 

Gambar : in memoriam Petew, mati pada tanggal 2 Juli 2010

6 thoughts on “Pembelajaran dari Seekor Kucing

  1. si khansa pernah juga pengin kucing, tapi sama emakknya dilarang. takut nanti malah gak bisa telaten meliharanya. apa lagi kucing disini, gak bisa keluar-keluar kalo pengin main🙂

    • Kalau di apartemen memang agak sulit ya. Tapi kucing ras agak kurang suka main. Mereka kebanyakan di kandang, beda dengan kucing kampung. Menurut psikologi anak, baik juga anak seumuran Khansa itu punya ‘pet’, selain untuk belajar bertanggung jawab, juga berlatih memberi kasih sayang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s