Sampah dan Walimah

Ini bukan judul sinetron di TV.  Tapi, memangnya apa hubungan antara sampah dan sebuah acara walimah? Di bulan Dzulhijjah ini (dan tahun-tahun sebelumnya juga) undangan pernikahan bertubi-tubi menghampiri.  Terkadang sampai di 3 tempat dalam sehari.  Dari yang diadakan di gedung mewah dan megah, hotel berbintang, rumah di jalan raya, sampai rumah di gang sempit.  Semuanya, Insya Allah, kami usahakan untuk menghadirinya.  Sebetulnya, ritual menghadiri sebuah acara walimah – di mana pun tempatnya – sama saja, yaitu mengisi daftar hadir ( di buku tamu, tentunya ), dapat cindera mata,  masuk ke ruang/rumah tempat mempelai berada (sekarang yang tempat mempelainya dipisah sudah semakin jarang, setidaknya di Jakarta), salaman (terkadang berfoto), kemudian bersantap, seusai itu langsung pulang (terkadang pamit dulu, tapi ini kebanyakan kalau walimah di rumah kecil.  Walimah di gedung mewah, buat berjumpa mempelai saja mesti antri mengular, jadi untuk menghemat energi kami tidak pamit…)

Saya tidak mempermasalahkan tempat walimah atau hidangan.  Tapi saya selalu melihat hal yang sama, yaitu sampah dan limbah (apa bedanya?)  Begini, kalau walimah di rumah dalam gang atau jalanan sempit, otomatis tamu-tamu duduk di halaman atau di jalan gang yang ditutup.  Sambil duduk menikmati hidangan (enaknya kalau hadir di acara walimah di rumah, tak perlu antri kursi, karena kursi itu kok selalu cukup ya), mata saya menatap ke bawah ke sekeliling saya.  Masya Allah, sampah bertebaran! Dari tisu makan, kulit buah, cup es puter, plastik, sedotan, dan sebagainya.  Sampah-sampah tersebut makin meningkat jumlahnya seiring dengan banyaknya tamu.  Tidak dibersihkan karena setelah acara selesai baru disapu bareng-bareng.  Padahal acara seperti itu terkadang tanpa menyebutkan batas jam.  Di undangan tertulis : jam sekian- sampai selesai.  Kalau kita hadir sore hari sedangkan acara dimulai pagi hari maka bisa dibayangkan bagaimana rupa halaman itu.  Nyaris tidak kelihatan dasarnya, alias tertutup sampah…! Duh

Sehingga saya bertanya-tanya? Kenapa tidak disediakan tempat sampah? Kenapa tidak ada peringatan: “silakan membuang sampah di tempat yang sudah kami sediakan”? Atau kalau walimah dengan catering : kenapa tidak ada petugas yang minimal mengingatkan untuk tidak membuang sampah di lantai/halaman?  Kalau tidak, petugas itulah yang membersihkan sampah secara berkala.

Beberapa tahun yang lalu saya hadir di walimah seorang teman.  Di acara tersebut saya ketemu dengan teman yang baru saya kenal waktu kunjungan ke  Eropa ,  dia sedang pulkam rupanya, sambil bawa anak2nya.  Saya lihat si anak (kira-kira 7 tahun) mondar-mandir dari depan ke belakang, seperti sedang mencari sesuatu.  Tak mendapatkan apa yang dicarinya, akhirnya dia mengadu ke ibunya : “Sudah saya cari, tempat sampah tidak ada, mama!”

Oh, rupanya selama ini dia mencari tempat untuk membuang sampah makanan yang tergenggam di tangannya.  Wah, dengan agak malu (sebagai orang Indonesia…:-(  ) akhirnya saya ‘mengajarkan’ kepadanya bahwa sampah bisa ditaruh di piring bekas makan, dan piring itu kemudian ditaruh di kolong kursi.

“Nanti petugas akan mengambilnya”, kata saya sok yakin. 

Ternyata, membuang sampah di tempatnya maupun yang membuangnya dimana saja bumi dipijak adalah masalah gaya hidup, masalah pembiasaan.  Dan itu mesti dimulai sejak masa kanak-kanak.
Semoga anak-anak kita, yang mewarisi bumi yang makin renta dengan beban sampah dan polutan, semakin berilmu dalam mengelola sampah.  Bukannya tidak ada ajaran seindah Islam, yang memasukkan pendidikan lingkungan ke dalam ajaran agama? Ajaran kebersihan, hemat air, larangan menyisakan makanan,  adalah contoh2nya! (nin)

Gambar : 1. seorang anak berenang di sungai sampah, difoto dari majalah Tempo

2. gundukan sampah di pemukiman belakang terminal kampung rambutan (koleksi pribadi)

13 thoughts on “Sampah dan Walimah

  1. gaya hidup..*.- dı turkı juga kudu terus dıgalakkan nı..kalo udah kumpul2 dı taman..nyampah kuacınya ıtu ga karu2an kasıan petugas kebersıhannya-kl dı bılangın malah ngomong:gpp kan kerjaannya mereka..bersıh2* pemerıntah nya lg gıat2ın buat bersıh2 dı ruang publık..masıh terus ngedıdık warganya juga:D kalo dı walımahan krn bıasanya dı gedung atau umumnya org turkı jarang ada prasmanan..mınım sampah*kl walımahan dı turkı umumnya cm dı suguhkan kue2 kerıng aja dok-.* pulangnya suka laper hehe .: gajı petugas kebersıhan lumayan besar dısını-kalah yg buruh pabrık juga: kalo dı rupıahkan hampır menyentuh 8 juta rupıah*.- krn salahsatu program pemerıntahnya jg buat ngejaga kebersıhan kota2nya: dengan bıaya hıdup yg sebenarnya ga jauh beda sm dı ındonesıa..lumayan gajı segıtu:)

    • ooh…rupanya orang Turki juga suka nyampah, ya. Saya pikir sudah terimbas gaya hidup eropa yang disiplin bersihnya tinggi. Mungkin di Indonesia masih harus menunggu 2-3 generasi lagi untuk mencapai tingkat disiplin kebersihan yang baik. Sayang….padahal “Kebersihan adalah bagian dari iman” berasal dari ajaran Islam. Btw, walimahan di Turki ‘garing’ dong… ^__^

  2. iya, Mba. sedih sering liat orang bergaya necis, buang sampah sembarangan -,-
    insya Allah saya lagi membiasakan buang sampah di dalam tas. nanti kalau sudah penuh saya buang ke tong sampah. jorok sih, tapi daripada buang sampah sembarangan dengan alasan gk ada tong sampah (:

    nice sharing, bu dok…

    • Semoga kebiasaan baik ini terbawa sampai ke masa dewasanya kelak, ya bu. Di lain pihak, kita prihatin juga dengan penyediaan tempat sampah fasum dan fasos yang minim atau kalau pun ada, dalam kondisi yang tidak terpelihara. Terkadang maksud dan niat baik warga terkendala dengan fasilitas yang minim.

  3. Hal kecil yg sering diremehkan oleh penyelenggara walimahan adalah menyediakan tempat sampah di beberapa lokasi. Namun demikian, kalo masyarakat kita tidak menjadikan kebiasaan “membuang sampah pada tempatnya” maka tetap saja akan ditemui adanya sampah bertebaran dimana-mana.

    Betul. Kembali ke soal kebiasaan. Sayangnya hal kecil seperti ini banyak yang tidak menanamkannya sbg kebiasaan yg baik di dalam keluarga. Yang sungguh menjengkelkan adalah ketika tiba-tiba ada sampah yg dilempar keluar dari mobil. Mereka sepertinya tidak merasa bersalah atas hal itu. Sungguh tidak tahu malu.

    • Itulah yang saya soroti, pak Iwan. Penyelenggara itu tidak menyediakan tempat sampah. Paling tidak, kalau sudah ada tempat sampah dimana-mana, kan mengingatkannya enak.
      Pemerintah juga angin-anginan dalam melakukan sanksi terhadap pembuang sampah sembarangan. Balihonya saja gede, bahwa pembuang sampah akan didenda sekian juta rupiah. Penerapannya, nol! Kalau pun memang diterapkan, juga bingung siapa yang bakal didenda karena saking banyaknya sampah….Anehnya, ketikan orang2 Indonesia ini dicemplungkan ke luar negeri, mereka pun mau tak mau dan terpaksa, tapi bisa juga tuh disiplin dalam hal kebersihan dan lain2nya. Jadi memang masalah mental dan lemahnya peraturan!
      Akhirnya kembali kepada disiplin pribadi.

  4. Ibu, masalah sampah ini masalah habit. Semua program pemerintah yang menggelontorkan dana milyaran rupiah demi sampah ini, tetap tak berjalan. Saat ini seorang rekan sdang menggeluti program 3R yg digaungkan pemerintah. Lucunya, pemerintah yg menganjurkan, tapi pemerintah tak pernah memulai utk memberi contoh. Sedih kan bu?
    Mungkin sudah saatnya Diadakan gerakan nasional utk program Indonesia Sadar Sampah.

    • milyaran rupiah yang digelontorkan, milyaran rupiah pula yang ditilep. Program pengelolaan sampah yang saya lihat lebih banyak peran swasta. Sementara, kami di RS juga diberi target untuk bikin pengolahan sampah. Pendidikan untuk mengelola sampah serta penerapan sanksinya juga tak berjalan maksimal. Btw, saya tertarik dengan teman yang menggeluti program 3R itu.Dimana domisilinya? Postingan saya tentang 3R masih di MP belum saya boyong http://drprita.multiply.com/journal/item/39/Tas-Go-Green

  5. kebetulan sedang bantu program cipta karya utk sosialisasi dan sekalian pemberdayaan masy di daerah cileunyi bandung bu. Kalo ibu RS nya mana? siapa tahu bisa dijadikan Tugas Akhir Mahasiswa.🙂

  6. Bicara soal sampah, saya pernah melihat video klip singkat di youtube tentang hal tersebut. Ada orang yang habis piknik di dekat gunung berapi membuang satu kantong plastik penuh sampah ke kawah gunung berapi tersebut dan kantong berisi sampah pun musnah terbakar.

    sebetulnya sebelum menyaksikan video itu pun saya sudah berpikir untuk membuang sampah2 kita yang menggunung itu ke dalam kawah gunung berapi, biar langsung musnah tak bersisa. Tapi saya sendiri tidak tahu apakah hal itu baik untuk dilakukan atau tidak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s