SEMALAM DI DURI

Gambar

Setelah menempuh penerbangan dari Jakarta selama satu jam dan tiga puluh menit maka mendaratlah kami di Bandara Sultan Syarif Kasim II di Pekan Baru, Riau.  Tampak baliho besar dengan tulisan “Selamat Datang di Bumi Melayu Lancang Kuning”, menyambut para penumpang yang baru turun dari pesawat.  Cuaca panas.  Di lobi kedatangan, seorang relawan BSMI cabang Pekan Baru sudah siap dengan mobil operasional BSMI.  Mobil KIA Travello ini adalah bantuan dari pemprov Riau.  Rencananya, kami langsung meluncur menuju Duri, tempat diadakannya Bulan Khidmat BSMI oleh BSMI cabang Duri.  Sempat kontak dengan DR. Arisman, ketua BSMI cabang Pekanbaru tersebut yang menyampaikan maaf sehubungan dengan kesibukan beliau di kampus Unri sehingga tak dapat berjumpa.

Perjalanan ke Duri yang berjarak 129 kilometer dari Pekan Baru ditempuh dalam waktu 3 jam.  Badan agak pegal-pegal akibat terguncang-guncang sepanjang perjalanan.  Kondisi jalan yang naik turun dan berkelok-kelok diperparah dengan rusaknya jalan terutama setelah Minas.  Cuaca yang panas sempat sejuk tersiram air hujan, namun ternyata guyuran air tersebut tak berlangsung lama.  Setelah 30 menit, kembali matahari bersinar garang.  Di sepanjang jalan tampak kering, tanahnya berwarna kekuningan.  Tumbuhan yang dominan adalah kelapa sawit.  Tidak hanya yang berupa perkebunan, namun banyak  pula area-area pembibitan bayi-bayi kelapa.  Selain itu yang juga menjadi ciri khas adalah adanya pipa minyak mentah di kiri kanan badan jalan.  Pipa ini ada yang besar maupun kecil meliuk-liuk mengikuti kelokan, turunan dan tanjakan jalan.  Terkadang di beberapa tempat pipa tersebut terhunjam di bumi untuk kemudian muncul lagi.  Demikian seterusnya hingga sampai di Dumai, yang merupakan pelabuhannya, sehingga minyak tersebut meninggalkan Indonesia, meninggalkan bumi yang melahirkannyanya untuk melanglang buana.  Kalaupun kembali, minyak tersebut sudah berubah wujud dan berharga selangit!   Tepatlah jika dikatakan bahwa di bumi Riau  : “Di atas minyak, di bawah minyak” namun ironisnya: “orang miskin di tengah-tengahnya”.  Bahkan, nomor polisi untk kendaraan bermotor di provinsi Riau ini adalah BM (yang diplesetkan jadi singkatan dari : “Banyak Minyak”!

 

Di Minas, kami berhenti sejenak untuk melihat sumur minyak yang pertama kali ditemukan oleh perusahaan Chevron Pacific Indonesia.  Sumur yang sekarang dijadikan monumen ini ditemukan pada 1941 (jauh sebelum saya lahir, bahkan sebelum kemerdekaan NKRI) dengan kedalaman 800 meter!  Dan pada Februari 2007 ladang minyak Minas sudah menghasilkan 4,500,000,000 barrel minyak!  Masya Allah…saya cuma bisa berdecak dalam hati melihat angka-angka ini.  Artinya, dari sekian milyar barrel minyak tersebut, berapa persen yang menetes ke Indonesia? Berapa tetes yang sampai ke rumah-rumah rakyat Indonesia?  Terbayang antrian ibu-ibu berleretan membawa jerigen minyak di negara yang sudah 65 tahun merdeka ini….   

Sampailah kami di Duri, ibukota kecamatan Mandau,  kabupaten Bengkalis.  Uniknya,  ibukota kabupatennya, yaitu kota Bengkalis, terletak di pulau Bengkalis, 4 jam perjalanan dari Duri. Masuk kota Duri, disambut dengan gapura bertuliskan “Minyak Bumi Tuah Negeri”.  Sebuah motto yang sungguh elok, apabila diamalkan dengan benar.  Kenyataannya, suasana kota Duri sungguh muram kalau tidak mau dikatakan kumuh.  Sampah bertebaran, jalanan tanpa trotoar, penataan kota terkesan seadanya. Konon, di daerah pinggiran kota masih dijumpai kasus-kasus busung lapar! Beberapa dari penderitanya yang rata-rata anak-anak tersebut sudah mendapat bantuan dari BSMI cabang Duri, meskipun ada juga yang tidak tertolong lagi.  Sementara, suasana yang sungguh kontras akan kita jumpai apabila masuk ke kompleks Duri Camp (areal khusus untuk karyawan Chevron Pacific Indonesia dan keluarganya).  Bahkan saya sempat menyamakan suasananya dengan kota impian di negeri antah berantah.  Jalanannya  mulus, lebar, dan bersih dengan trotoar yang nyaman.  Pohon-pohon di sepanjang jalan ditanam dengan teratur dan terawat.  Rumah-rumah penghuninya (kok rata-rata sepi,ya?) tanpa pagar, dikelilingi hamparan rumput yang hijau dan terpangkas rapi. Dampaknya, udara terasa sejuk dan bernafas pun lega.  Di taman bermain, beberapa keluarga sedang mengadakan “family gathering”.  Anak-anak bermain dengan riang gembira.  Alhamdulillah, di dalam camp tersebut berdirilah sebuah masjid yang megah, Masjid Agung Ushuluddin.  Masjid yang diresmikan pada 1995 ini konon tiangnya luarnya terbuat dari pipa penyaring minyak! Dan sebuah lembaga pendidikan Islam pun berdiri tak kalah megah.  Sekolah Islam Terpadu Mutiara yang gedungnya terdiri dari 4 lantai ini mempunyai Taman Kanak-Kanak sampai Sekolah Menengah Atas.  Dua buah fasilitas umum ini dapat dinikmati pula oleh warga di luar camp.  Namun, meski keamanan terjamin, batas luar camp yang berupa hutan terkadang masih bisa diterobos oleh gajah! 

Gambar

Kondisi ini sebetulnya kesalahan manusia juga.  Gajah-gajah yang habitatnya terganggu – areal hidup dan tumbuh-tumbuhan yang menyusut – membuatnya harus mencari makan di pemukiman manusia.  Khayalan saya (semoga menjadi nyata) adalah meningkatnya taraf kehidupan dan kesehatan warga Duri pada khususnya dan rakyat Riau pada umumnya.  Alangkah indahnya apabila lingkungan sekitar camp dapat pula ditata dan dihijaukan pula oleh perusahaan yang sudah menyedot 4,5 milyar barrel minyak dari bumi Indonesia itu.  Semoga…  

Catatan 5 Februari 2010

Foto koleksi pribadi

4 thoughts on “SEMALAM DI DURI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s