Jangan Sepelekan TBC!

INDONESIA, KAMPUNG TBC

Tuberkulosa atau biasa kita sebut dengan kependekan TBC, merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis.  Penyakit tersebut menular melalui percikan dahak pengidap TBC.  Sebagian besar menyerang paru, tetapi sejatinya penyakit ini bisa juga menyerang organ tubuh lain seperti kelenjar getah bening, tulang, otak, bahkan bisa berbentuk kista di indung telur dan berbagai tumor lainnya.  Berita buruk lainnya : sampai saat ini Indonesia masih bertahan di peringkat ketiga di dunia dalam hal banyaknya warga pengidap TBC ! .  Dengan medali perunggu tersebut, maka Indonesia menyumbang 5,8% dari total pengidap TB di seluruh dunia.  Juara umumnya dipegang oleh India, disusul negeri China.

Di Indonesia, setiap tahunnya diketemukan sekitar ½ juta kasus baru TB, dan separuh di antaranya menular! Penyakit ini merupakan penyakit infeksi dengan kematian terbanyak, yaitu 100 ribu orang pertahun.  Kondisi ini diperparah dengan adanya fenomena resistensi obat yang terjadi akibat ketidakpatuhan terhadap prosedur pengobatan lini pertama yang memakan waktu 6 bulan tersebut.  Pemberantasan TBC juga dipersulit dengan tingginya kasus infeksi HIV.  Orang yang terinfeksi HIV, daya tahan tubuhnya akan melemah sehingga lebih mudah tertular TBC,  dan dengan demikian ia pun menjadi sumber penularan TBC bagi orang lain.  Dibandingkan dengan HIV maka penularan TBC jauh lebih mudah.

Omong2 tentang penularan TBC, kita perlu tahu kondisi2 yang memudahkan penularan, yaitu : keadaan pemukiman yang padat penduduk, sirkulasi udara dan sinar matahari dalam rumah yang minim, serta perilaku batuk yang tidak sehat.  Lho, jadi batuk ada tata tertibnya juga? 

Ya, dan inilah tata tertib batuk itu :  1) Batuk dengan menutup mulut.  2) Membuang ludah atau dahak tidak boleh di sembarang tempat.  Buanglah dahak di dalam tisu, kemudian dibuang di tempat sampah.  3) Mencuci tangan setelah dipergunakan untuk menutup mulut saat batuk.  4) Ibu yang batuk ,  saat menusui/merawat bayinya harus menggunakan masker.

TBC DAN HAMIL

Kalau dilihat dari gender, sebetulnya tidak ada perbedaan yang bermakna dalam hal menderita TB nya.  Namun apabila ibu hamil menderita TBC maka setelah ia bersalin peluang menulari bayinya akan sangat besar.  Apalagi dengan kondisi bayi baru lahir yang daya tahan tubuhnya rendah.  Karenanya, ibu hamil yang diketahui mengidap TBC perlu segera mendapatkan pengobatan tanpa menunggu proses persalinan.  Obat untuk terapi TBC yang digunakan dewasa ini tergolong aman untuk kehamilan.  Obat tersebut berasa dari golongan Isoniazid, Rifampicin, dan Ethambutol.  Ibu harus mengonsumsinya terus menerus selama 6 bulan dan setelahnya akan dievaluasi apakah pengobatan dipandang cukup sehingga dapat dihentikan atau masih perlu diperpanjang.  Perlu diketahui bahwa mayoritas anak2 dengan TBC memperoleh penyakit tersebut dari orang dewasa di lingkungan terdekatnya.  TBC pada anak bisa menjadi fatal manakala menyerang otak dan/atau selaputnya (meningitis TB) atau apabila kuman Mycobacterium tersebut menyebar secara merata ke seluruh tubuh (TB Miliair)

Bagaimana TBC dapat mengganggu kesehatan reproduksi?  Seperti sudah dikemukakan bahwa TBC tidak selalu berada di paru, maka apabila TBC menyerang tulang maka dapat mengakibatkan kelainan bentuk tulang.  Apabila yang terkena adalah tulang panggul (pelvis), maka dapat menghambat proses persalinan.  TBC yang membentuk tumor dapat berupa massa yang tidak jelas batas-batasnya, berwarna kekuningan seperti keju dan menyerang organ-organ reproduksi.  Ada juga yang berbentuk seperti kista di indung telur.  Apabila sudah diketahui adanya infeksi TBC, maka tumor-tumor tersebut tidak perlu dioperasi. Dengan hanya diberikan terapi TBC, maka tumor akan hilang dengan sendirinya.

DETEKSI TBC

Bagaimana cara mendeteksi adanya infeksi TBC dalam tubuh kita ?  Waspadalah apabila  berat badan tiba-tiba  menurun , nafsu makan menurun, batuk kronis berulang, atau sering demam ringan.  Pada anak-anak ditandai dengan grafik kenaikan berat badan yang mendatar atau menurun, anak rewel, sering sakit.  Segeralah ke dokter untuk memastikannya.  Ada beberapa pemeriksaan laboratorium serta foto ronsen yang perlu dijalani untuk menegakkan diagnosa TBC.  Salah satu pemeriksaan yang mudah dan murah adalah test Mantoux. 

Dan apabila memang ditengarai adanya infeksi tersebut, janganlah ragu untuk memulai pengobatan selama 6 bulan, yang kalau dijalani juga tidak terasa terlalu lama. Dengan berobat teratur berarti kita sudah membantu penyelamatan generasi penerus dari TBC.  Wallahu a’lam.
(nin).

Memperingati hari tuberkulosa nasional, 24 Maret 2010) Bahan : kompas, 20/3/2010, republika 25/3/2010, Williams manual of Obstetrics   

One thought on “Jangan Sepelekan TBC!

  1. terimakasih bu buat artikelnya: untuk gejala2 tersebut saya ga merasakan, demam, batuk, apa kira2 fatih jg kena ya-.- tapi sejauh ini, alhamdulilah semenjak dia lahir blm ngalamin sakit, sempat anget dikit pas imunisasi aja, apa dia termasuk daya tahan tubuhnya kuat*moga2 anak saya ga kena:s* saya merasa lbh cenderung ke lingkungan padat penduduk dan ga sehat di jakarta dulu bu-.-‘ apa dr sana sumber saya kena Tbc kelenjar ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s