[FILM] Menonton Sang Pemimpi, Menonton Semangat Putra Daerah

Gambar

Sejak membaca bukunya, saya sudah melihat aura semangat yang menggelora di dalamnya.  Sampai-sampai buku tersebut saya hadiahkan kepada seorang anak yatim di sebuah desa di Jawa Tengah – yang hanya saya kenal ibunya – agar dia tahu betapa semangat untuk sekolah dan tetap bercita-cita itu harus tetap menyala, bagaimana pun kondisinya.

Seperti pendahulunya, Laskar Pelangi, keindahan alam Belitong – Gantong dan Manggar- tetap dieksplorasi.   Jalan ceritanya flash back, terkadang membingungkan.  Untungnya ada  narasi.  Agak memudahkan untuk mereka yang belum membaca versi novelnya.  Film ini dibuat untuk 13 tahun ke atas, namun apa boleh buat, terpaksa membawa anak bungsu yang masih 71/2 tahun.  Pertama, para pelaku utama (Ikal, Arai, dan Jimbron) memang sudah duduk di SMA.  Kedua, ada bagian kurang baik untuk anak-anak, yaitu saat Ikal cs ingin menonton ‘film dewasa’.  Meskipun tidak lama dan sudah berusaha disamarkan, toh masih kentara juga.  Yang baiknya, hukuman untuk Ikal cs karena ketahuan nonton film ‘haram’ tersebut diperhalus.  Versi buku: mereka disuruh menirukan para pemeran di film itu di depan peserta upacara.  Sedang versi film : hukuman diubah menjadi membersihkan WC sekolah yang sudah terkenal kejorokannya.

Yang saya merasa kurang dari film ini:

1. Meskipun menyoroti perjuangan untuk tetap sekolah, mencapai nilai tertinggi demi menggapai cita-cita melanjutkan pendidikan ke universitas Sorbonne, namun adegan belajar hanya ada satu kali dan itu pun sekilas.  Yaitu saat Arai menegur Jimbron supaya cepat-cepat menyelesaikan makannya, karena meja kecil yang hanya satu-satunya itu akan dipakai buka-buka buku.  Alangkah indahnya jikalau diperlihatkan : betapa tubuh lelah para remaja itu, setelah bekerja sepulang sekolah,  masih harus tegak di malam hari demi mengulang pelajaran.   

2. Tidak ada adegan dimana ayah Ikal berbangga dan bahagia setelah Ikal dan Arai dapat mencapai peringkat tertinggi, setelah semester sebelumnya jeblok.  Di ceritanya aslinya, tahun pertama Arai lebih baik dari Ikal, tahun kedua nilai2 menurun, menyebabkan sang ayah harus duduk di kursi deretan tengah.  Di tahun terakhir SMA, ayah Ikal berkesempatan duduk di kursi deretan depan.  Perlu diketahui bahwa deretan kursi orang tua saat mengambil rapor, mencerminkan perigkat siswa.  Di film hanya ada 2 kali adegan pengambilan rapor, yaitu saat tahun pertama dan tahun kedua.  Di tahun kedua itu, nilai mereka yang menurun menyababkan ayah harus duduk di kursi tengah.  Tapi ayah tetap semangat bersepeda, tanpa kata, tidak ada kemarahan, hanya mengusap kepala, menepuk bahu dan memberi salam.  Mengharukan.  Inginnya sih, tahun terakhir kebahagiaan ayah Ikal dapat duduk di kursi terdepan diperlihatkan juga kepada penonton.

3. Cerita berjalan lamban.  Kurang gesit.  Mungkin karena terlalu asyik mengeksplorasi alam Belitong itu.

Selebihnya, para pemeran bermain cukup bagus.  Terutama Mathias Mucus yang jadi ayahnya Ikal.

5 thoughts on “[FILM] Menonton Sang Pemimpi, Menonton Semangat Putra Daerah

  1. film yang saya tonton hingga 3x. pertama kali, saya sampai terisak-isak, bu :)) sampai-sampai penonton di samping saya menengok. ya, lagi-lagi karena ada beberapa adegan yang menggambarkan diri saya🙂 terutama sewaktu merantau untuk kuliah😀

    • Itu yang kalau anak Jakarta bilang “Gue banget” ya. Sayangnya pemeran Arai dewasa akhirnya harus menghuni sel gara-gara kelakuannya. Meskipun sekarang sudah bebas dan malah menerbitkan buku. Sehingga waktu ke gramedia dan ditawari beli buku tsb oleh mbak pramuniaga, saya bilang saja “Belum sreg untuk beli, mbak”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s