KA Sembrani…Romansa Masa Lalu

Awalnya adalah amanah bahwa saya harus memberikan pembelajaran tentang USG kepada dokter umum di Tegal.  Tepatnya, sejawat dokter umum yang sudah komitmen untuk membantu pelayanan di mobil sehat keliling BSMI-Indosat di kabupaten Tegal dan sekitarnya.  Waktu yang longgar bagi kami adalah 24 jam, dari Sabtu sore sampai Ahad sore.  Sehingga diputuskan kami (saya dan suami) menempuh perjalanan dengan kereta api.  Pertimbangannya, naik pesawat turunnya di Semarang (memangnya langsung turun, mendarat dulu kan), sedangkan jarak Semarang – Tegal cukup makan waktu.  Naik mobil, khawatir terjebak macet di daerah Brebes.  Sehingga, yang paling logis adalah KA.  Pilihannya – dari segi jam berangkat dan berhenti di stasiun tujuannya – jatuh ke KA Sembrani.  Boleh juga, sekalian saya ingin merasakan geronjalan KA Sembrani setelah lebih dari 10 tahun tidak pernah merasakannya lagi.

Tiba di stasiun Gambir mepet sekali.  Terdengar lagi bunyi bel ting tong bernada do-mi-sol-do, tanda kedatangan atau keberangkatan kereta.  Saya teringat ucapan anak ketiga (yang sekarang sudah SMA), “Aku sedih kalau dengar suara bel itu, karena itu pertanda umi harus segera berangkat”  Yah, itulah kehidupan saat dia masih kelas 1 SD, dimana saya harus ke Surabaya sepekan sekali sambil menggendong anak terkecil yang masih bayi.  Namanya juga perjuangan menyelesaikan pendidikan….Meskipun saat itu kami hanya membawa 1 buah kopor kecil , tapi kami minta bantuan portir.  Tujuannya, selain membawakan kopor juga untuk menunjukkan arah menuju lokasi parkirnya KA.  Sudah lupa sih dengan kondisi stasiun Gambir

 

Begitu kami mendudukkan tubuh di kursi gerbong, KA langsung berangkat.  Oh, Alhamdulillah sekarang KA berangkatnya tepat, ya.  Udara dalam gerbong sejuk ber AC, Alhamdulillah lagi…. Namun yang baru  adalah, KA Sembrani ternyata berhenti di stasiun Jatinegara! 

“Masya Allah, tahu begitu tadi naik dari Jatinegara, pak”, komentar kami saat kondektur  lewat.

“Ya, ini memang baru uji coba.  Kalau penumpang banyak, berhenti di Jatinegara akan dilanjutkan”, jawab pak kondektur

“Ya sudah, ayo kita menikmati perjalanan ini”, kata suami sambil merebahkan “reclining seat”.  Lho, kok rebahnya g bisa berhenti alias blong?? Rupanya “reclining seat”nya ngadat jadi sandaran kursi otomatis langsung njeplak ke belakang saat kita menyandarkan tubuh.

“Bagaimana kalau kita pindah ke deret belakang ? “

Nah, di deret belakang ini malah sandaran kursi yang 1/2 rebah tidak bisa ditegakkan.  Dan itu pas di kursi yang saya duduki.  Terpaksa diganjal dengan beberapa bantal supaya duduk saya bisa tegak. Saat pramugari yang menjajakan makanan kecil datang menghampiri, ia mengatakan kerusakan-kerusakan seperti itu diadukannya ke bagian teknisi saja . Penumpang di sebelah berkomentar: “Memang kebanyakan kursinya ya begitu”.  Memang, sepanjang perjalanan saya melihat dirinya selalu rebahan saja.  Berarti “reclining seat”nya juga blong.

Lho, tempat TV nya kok kosong? Lho, kantung barang di kursi juga lenyap!  Kalau makanan yang diedarkan duluan adalah makanan yang dijual, itu katanya sudah biasa.  Selang beberapa jam, barulah makanan resmi penumpang dibagikan. Sedangkan saat itu mayoritas penumpang sudah beli makanan , alias kenyang.  Tapi melihat makanan resmi penumpang, jadi sedih juga.  Nasinya sangat sedikit, mungkin hanya 5 sendok makan dipadatkan.  Lauknya sayur lodeh, ikan dan krupuk. Buahnya pisang yang bersemu warna coklat. Dan akibat kantung barang yang biasanya menempel di sandaran kursi di depan kita itu lenyap, saya jadi ketinggalan mushaf Qur’an (lho kok jadi nyalahkan Sembrani?).  Padahal itu Al Qur’an kenang-kenangan dari Gaza……………

Bukannya sok elit, tapi dulu…, naik KA Sembrani rasanya sudah mewah sekali (waktu itu KA Argobromo belum diluncurkan).  Ada TV nya, kursinya reclining, kamar mandi bersih. Setidaknya dibandingkan naik KA Jayabaya, apalagi Gayabaru.  Anak-anak (baru 3 orang) sebagian tidur di bagian kaki dengan menggelar selimut.  Makanannya juga enak.  Kemudian Argobromo hadir dengan anggunnya.    Naik KA Argo serasa naik pesawat.  Waktu tempuh lebih pendek, suara mesin lebih halus dan interior KA tampak mewah.  Cuma, biayanya terasa banget mahalnya… waktu itu.

Sepulang dari Tegal, kami bersicepat ke Pekalongan untuk mengejar Argo Anggrek yang datang dari Surabaya.  Ternyata juga jadi sedih… interior tak seindah dulu.  Jendela macet dan berkarat.  Yang masih sama adalah : televisi masih ada, dan pintu yang bukanya pakai tombol juga masih ada ….

Oh, KA ku.  Jadi teringat perjalanan KA dari Hannover ke Amsterdam.  KA meluncur cepat tanpa bunyi, di sepanjang jalan pemandangan indah.  Dalam KA disediakan colokan listrik, bisa untuk charge HP dan laptop. Sesampainya di tujuan, stasiunnya bersih, megah bak bandara.  Mungkin karena itulah maka masyarakat banyak beralih ke transportasi udara yang menawarkan “everyone can fly”

Lho, ternyata sudah sampai di stasiun Jatinegara.  Turun yuk.  Kami berebutan pintu dengan portir stasiun Jatinegara yang bersicepat naik ke KA.  Stasiun padat dengan manusia.  Untuk mencapai pintu keluar, kami harus ‘menyeberangi’ KA lain yang lagi parkir.  Di halaman parkir dipadati oleh manusia dan mobil.  Sopir taksi berdebat dengan seorang bapak masalah tarif borongan.  Sopir yang lain berteriak-teriak mengajak  calon penumpang yang kelihatan bingung. 

Inilah Jakarta, inilah Indonesia.    

(pindahan dari multiply, 4 Juni 2009)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s