Archive | September 2012

Batam FF Perjuangan – Menjelang Kelahiran

Ruangan ini kurasakan semakin sempit. Agak menyulitkanku untuk berakrobat sebagaimana beberapa pekan silam.  Itu karena beberapa hari ini terkadang kurasakan tekanan dari dinding ruangan yang menyelimutiku.

Aku terus merasakan tekanan itu.  Bahkan semakin sering.  Dalam kegelapan,  tekanan itu membuat napasku sesak.   Kemudian, bersamaan dengan  semakin derasnya tekanan kurasakan pula sensasi  dorongan.  Lho…apa pula ini? Yang jelas, ini bukan gerakan tubuh ibuku. Guncangan dari tubuh ibu yang kualami selama ini lebih mirip buaian.

Perlu beberapa waktu lamanya hingga aku tiba pada titik kesadaran.  Kesadaran bahwa inilah  saatnya aku harus meninggalkan tempat persemayaman ini. Persemayaman yang hangat dan nyaman, yang telah membesarkanku selama 280 hari.  Perjuangan telah dimulai.  Semenjak Allah SWT telah mengambil janjiku di usia 120 hari dengan firmanNya, “Alastu Birabbikum!”*

Dan aku pun menjawab takzim, “Balaa syahidna”.*

Bukankah Penciptaku telah menawarkan mandat kekhalifahan di muka bumi kepada  berbagai makhlukNya, namun ternyata hanya dari bangsakulah – manusia – yang begitu lugu untuk menerimanya. Maka inilah konsekuensi logis dari penerimaan mandat tersebut.  Hidup di dunia!

Oooh….dorongan dan himpitan itu makin menyesakkan napasku. Jantungku pun makin cepat berdetak.  Kepalaku terasa agak mampat.  Lamat-lamat kudengar pula lantunan dzikir berselingan dengan erangan dan desahan napas yang memburu.  Hei…bukankah itu suara ibuku.  Suara yang biasanya lemah lembut saat menyapa diriku, sekarang sepertinya sedang menanggung nyeri yang amat sangat.  Ah,  ibu pun rupanya sedang berjuang pula sebagaimana diriku.

Tiba-tiba mataku silau oleh cahaya yang sangat terang.  Badanku diterpa oleh rasa dingin yang sangat.  Aku pun bersuara untuk pertama kalinya…menangis! Terus menangis sampai  ayah melantunkan adzan di telingaku.

*Surat Al Isra : 172

NB. Jumlah kata 248 (tanpa judul dan catatan kaki)
Diikutsertakan dalam lomba di sini http://dieend18.multiply.com/journal/item/151

Iklan

[Ramadhan 1432 H] Anak Sakit Ibu Ngaji

Malam ke 29 di bulan mulia.  Karena puncaknya sudah lewat, maka jamaah i’tikaf masjid At Tin sudah tak berjubel seperti 2 hari yang lalu.  Meskipun  demikian tak bisa dibilang sepi juga.

Malam itu sengaja saya banyak berada di posko kesehatan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI).  Berbeda dengan malam sebelumnya dimana saya cuma mampir dan sekedar menyapa  adik – adik sejawat dari cabang Jakarta Timur yang bertugas jaga.

Di meja BSMI pelayanannya adalah konsultasi kesehatan dan pengobatan ringan.  Semuanya bebas biaya.  Selain itu ada pemeriksaan kadar gula darah, kholesterol, dan asam urat.  Nah, 3 pemeriksaan yang disebutkan terakhir ini tentu saja ada tarifnya.

Di meja sebelahnya…terletak beberapa tumpukan leaflet dan majalah untuk dibagikan kepada pengunjung.  Cuma-Cuma.  Ada juga beberapa macam merchandise.  Sisa suvenir Gaza pun turut dipajang.  Yang juga numpang nangkring di meja tersebut adalah buku saya, “Membentangkan Surga di Rahim Bunda”.  Alhamdulillah…15 eksemplar habis di sepanjang 10 hari terakhir Ramadhan ini.

Pasien yang datang pun silih berganti dengan berbagai macam keluhannya.  Umumnya keluhan ringan semacam sakit gigi, sakit kepala sampai sariawan.  Umumnya juga, yang datang adalah orang dewasa, ataupun kalau anak-anak pasti didampingi orang dewasa.
Tiba-tiba datang seorang anak laki-laki sekitar 8 tahunan. “Kalau minta obat di sini bayar enggak?”, tanyanya.
“Tidak bayar. Gratis. Siapa yang sakit?”
“Adik saya….”, sambil berlari dia menjawab.

Tak lama…datang seorang anak perempuan terengah-engah menggendong adiknya.  Keberatan memang, karena gendongannya berkali-kali melorot.  Wajar, karena usianya baru sekitar 10 tahun.  Sedangkan adiknya, 5 tahunan.  Sementara itu, si anak laki 8 tahun mengiringi.  Kelihatannya mereka bersaudara.  Adik mereka tampak sakit.  Wajahnya sayu, bibirnya kering kemerahan.  Saya raba…demam!

“Dimana orang tuamu?”
“Ada di sana”.  Kakak perempuan menunjuk satu arah.
“Kenapa ibumu tidak kesini? Adikmu ini sakit.  Sejak kapan dia seperti ini?”
“Sejak dari rumah kemarin, dia sudah panas”, kali ini kakak laki-laki 8 tahun yang menjawab.
“Ibu tidak kesini karena masih mengaji”, sahut si anak perempuan.

Sementara itu dokter jaga sudah selesai memeriksa dan kemudian menyiapkan obat.  Radang tenggorokan. Tentu menderita.  Bagaimana sih rasanya faringitis? Mau bicara saja malas karena nyerinya.

Jam sudah tengah malam.  Posko kesehatan tutup sementara.  Istirahat sampai jam 3.  Memang begitu jadwalnya. Tapi saya masih juga terngiang  jawaban si anak perempuan,   “Ibu tidak kesini karena masih mengaji”
(nin)    

[Ramadhan 1432 H] Fenomena I’tikaf

Sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan.  Meskipun tidak setiap hari, kami (saya dan suami) usahakan beri’tikaf.  Tahun- tahun kemarin, ada 2 masjid dekat rumah yang biasa disambangi.  Tapi karena suasana kurang kondusif, tahun ini i’tikaf dilakukan di masjid  At Tin.

Dulu, kami agak malas ke Masjid agung itu.  Bukan apa-apa.  Suasananya yang ramai dan berjubel bak penampungan pengungsi itu kami rasakan kurang pas.  Namun di masjid dekat rumah ternyata ternyata sudah tak menggelar program i’tikaf.  Jadinya, i’tikaf sendirian, suasana remang, gerah dan banyak nyamuk,  ujung-ujungnya jadi cepat ngantuk.  Masjid yang satu lagi, terlalu dekat ke jalan raya.  Deru motor berknalpot sember yang tak henti-hentinya bikin rusak konsentrasi.  Dan menjelang pukul 2, panitia sahur sudah ribut memukul bedug bersahut-sahutan.  Akhirnya, kami mengalah, mengundurkan diri.

Mau tak mau kembali ke At Tin.  Masjid tersebut di malam hari memang benar-benar agung.  Auranya memancar di tengah kegelapan.  Namun, di kurun sepuluh hari terakhir Ramadhan, suasana benar-benar berubah.  Hiruk pikuk.  Di pelataran, penuh berderet para pedagang.  Bukan hanya pedagang makanan – biasanya laris pas sahur – namun juga pedagang baju, pici, sajadah, buku, dan tak ketinggalan mainan kanak-kanak.  Sedangkan di halaman parkir, penuh oleh deretan mobil.  Tidak hanya dari Jakarta, banyak juga mobil bernomor polisi F, yang menunjukkan asalnya dari Bogor.  Mudah dimengerti karena lokasi Pondok Gede sangat dekat dengan tol Jagorawi.

Di malam ke duapuluh tujuh, keramaian makin menjadi.  Parkir mobil tidak muat lagi di halaman parkir.  Terpaksa menggunakan halaman gedung di belakang masjid, yaitu Gedung Pewayangan.     Penitipan sandal penuh sesak, bertumpuk-tumpuk.  Untuk tanda titip, petugas terpaksa menyobek saja karton-karton seadanya kemudian ditulis nomor. Hampir tidak ada ruang kosong dalam masjid.  Di saat seperti ini, muncul sifat asli seseorang.  Apakah dia egois, mau menguasai lahan supaya bisa tidur selonjor, atau bersifat penuh keikhlasan, rela bergeser untuk mereka yang baru datang (diantaranya…saya!).  Di tempat wudhu dan toilet…waah jangan dibayangkan.  Di malam ganjil yang lain saja sudah antri berbelasmenit, apalagi di malam 27.  (tips : usahakan selalu dalam keadaan berwudhu.  Sekeluarnya dari toilet segera berwudhu lagi.  Tidak perlu menunggu aba-aba dari panitia, “Sholat tahajud segera dimulai, mohon para jamaah segera berwudhu”) Mendekati saat sahur, pedagang makanan dan minuman asongan sudah berderet memenuhi depan selasar masjid menawarkan berbagai macam dagangannya.

Keadaan yang sangat kontras bisa dilihat di malam genap dan malam ke 29.  Halaman parkir longgar, pedagang jauh berkurang.  Dan, pasar kaget mendadak sirna di malam 29.  Lengang. Di dalam masjid, meski tampaknya penuh, kita masih bisa pilih-pilih tempat yang strategis. Sempat tercetus sebuah idaman, beri’tikaf di sebuah masjid  yang hening, sejuk, namun tetap hidup dan makmur.  Mungkin saya perlu cuti semalam dan mengungsi ke sebuah masjid di Puncak. (nin)

“Apabila tiba Lailatul Qadar, maka Jibril turun ke dunia bersama kumpulan malaikat dan akan berdoa bagi orang yang berdiri sholat malam dan duduk mengingat Allah.  Dan pada hari Idul Fitri, Allah akan membangga-banggakan mereka di hadapan para malaikat” (Hadits Rasulullah riwayat Baihaqi)

foto : dokpri, sebuah masjid di daerah Pekalongan

Saat Ramadhan (1432 H) Diperpanjang Satu Hari

Malam itu, 30 Ramadhan, di pintu rumah, bungsu saya melapor, “Aku belum sholat tarawih!”
“Kenapa? Sekarang kan sudah jam 8 lewat?”, saya agak heran. Maklum baru selesai pekerjaan rutin.
Rupanya mereka sedang mengerumuni  televisi mungil kami.
“Lagi nunggu hasil sidang itsbat, Mi”, ujar kakak-kakaknya.    

Ketika akhirnya diputuskan bahwa 1 Syawal jatuh di hari Rabu, 31 Agustus 2011, barulah mereka beranjak untuk melaksanakan sholat tarawih.  Namun tak urung si bungsu komplain juga, “Huaaah…besok masih puasa, dong!”

Memang, meskipun dikesankan bahwa bangsa Indonesia makin dewasa dengan adanya perbedaan-perbedaan, tak urung perbedaan hari raya sedikit banyak menimbulkan problema juga.  Dari sekedar ketupat dan opor yang sudah terlanjur dimasak dan akhirnya jadi lauk makan sahur, sampai ke masalah undangan halal bil halal padahal yang diundang masih puasa.

Harapan ke depan – semoga tidak tinggal harapan, mengingat peristiwa seperti ini sudah acap kali terjadi – para pengambil keputusan itu mampu bersepakat.  Dalam penentuan tanggal-tanggal penting, seperti 1 Ramadhan, 1 Syawal, dan 10 Dzulhijjah, harus jelas sistim apa yang dipakai, dan siapa yang berhak memutuskan.  Kalau sudah ada yang berhak memutuskan, maka keputusannya adalah tunggal dan mengikat.

Ihwal anak-anak yang komplain karena masih harus puasa sehari lagi, saya pompa semangat mereka untuk menyelesaikan target tilawah Qur’an masing-masing.  Alhasil, si nomor empat seharian nglembur tilawah sampai akhirnya tercapai khatam menjelang maghrib.  Alhamdulillah…hikmah dari “perpanjangan” Ramadhan.  (nin)

Bernostalgia Bersama Film “Hafalan Sholat Delisa”

Kekhawatiran terbesar menonton film yang diadaptasi dari sebuh novel adalah rusaknya imaji yang sudah terlanjur melekat dalam benak.  Kekhawatiran tersebutlah yang saya rasakan tatkala adegan pertama film “Hafalan Sholat Delisa” (HSD) mulai berjalan.  Tapi toh saya tetap menikmati adegan demi adegan.
Sampai akhirnya…adegan yang saya anggap sebagai klimaks pertama muncul.  Tsunami!! 
Adegan dibuka dengan caption : “26 Desember 2004” Mula-mula gempa.  Gedung (bioskop) ikut bergetar karenanya. Sela waktu antara gempa dengan tsunami yang lama(sesungguhnya) nya sekitar 30 menit  adalah perjalanan Delisa dan ummi pergi ke sekolah, suasana menunggu giliran menghafal, sampai pada Delisa yang sedang menghafal bacaan sholat (doa iftitah) sambil memejamkan mata.  Tsunami tiba saat orang-orang sedang terpaku menyimak Delisa.  Suasana gegap dan kacau.
Naah, ganjalannya ada di sini :
1.      Tsunaminya seperti main-mainan. Saya baca di reviewnya mbak Katerina ( http://katerinas.multiply.com/reviews/item/231 ) bahwa sutradara memang sengaja hanya pakai animasi karena beranggapan bahwa tsunami itu bukan faktor utama. Yang lebih penting adalah drama keluarganya.  Pendapat saya selaku penonton dan penikmat: Kalau memang tujuannya menghemat biaya, bukankah  bisa pinjam film dokumenter atau video amatirnya Cut Putri?  Kedudukan tsunami dalam film ini sangat penting, karena konflik baru terbentuk setelah ada tsunami.  Dan penggambaran tsunami juga tidak bisa asal karena tsunami itu kejadian nyata, dimana orang-orang yang terlibat langsung maupun tidak masih hidup sampai sekarang.  Beda dengan film Titanic, dimana para saksi matanya sudah pada wafat semua.

2.      Saat gempa hebat – ajaibnya- perahu yang tertambat tidak ikut bergoyang! Detil kecil yang luput dari perhatian. 

3.      Penggambaran perjuangan Delisa dalam gulungan ombak tsunami bak orang tenggelam di kolam jernih.  Baju dan rambutnya yang panjang melambai-lambai.  Mungkin lebih dramatis kalau digambarkan kepala dan tangannya timbul tenggelam dalam gelombang air coklat kehitaman.  Karena demikianlah sesungguhnya warna air tsunami menurut saksi mata.

Singkat cerita, Delisa akhirnya ditemukan oleh relawan tentara Amerika (prajurit Smith) dan dirawat di rumah sakit.  Dalam cerita novel : dirawat di rumah sakit terapung,  di kapal Amerika.  Sementara itu, Usman, ayah Delisa yang bekerja di perusahaan asing akhirnya mengetahui bencana besar itu dari televisi.  Ia pulang dan berhasil menemukan anaknya di rumah sakit.  Setelah pertemuan ayah dan anak ini, alur cerita berjalan lambat.
Sebenarnya saya menantikan klimaks yang kedua sesuai novel, yakni saat Delisa berjumpa dengan jasad ibunya yang sudah berbentuk kerangka namun di tangannya masih tersangkut seuntai kalung berinisial “D” (Delisa).
Namun, dalam film ini perjumpaan tersebut ada dalam mimpi Delisa.  Ia berjumpa dengan jasad ibunya yang terbaring di pantai dalam kondisi masih membawa kalung.  Sejauh ini saya maklum, karena penggambaran kerangka mungkin akan menimbulkan dampak psikis yang kurang baik.  Namun sayangnya, jasad ibu yang terbaring di pantai itu dalam kondisi cantik dan bersih. Bajunya tampak baru.  Tak ada bekas-bekas tsunami sedikit pun!

Saya (dan suami) sebenarnya juga ingin bernostalgia, mengenang saat kami sebagai relawan BSMI tiba di Aceh 5 hari pasca tsunami.  Bagaimana suasana jalan-jalan, perumahan dekat pantai yang rata tanah, penampungan pengungsi,dan rumah sakit lapangan. Semuanya serba riweuh, kotor, bau, tempelan kertas mencari orang hilang dimana-mana, dan para relawan dari berbagai organisasi yang serba sibuk. Namun itu hanya sedikit saja terekam dalam film.
Digambarkan bahwa abi Usman dalam waktu tak lama akhirnya bisa membangun rumahnya kembali. Dari mana bahan bangunannya? Siapa yang membantunya? Dimana ia membangun rumahnya tersebut? Kalau di lokasi lama, seharusnya terlarang untuk dibuat rumah lagi.  Di rumahnya terpasang tirai kerang-kerang.  Siapa yang memasang? Dari mana ia mendapatkan tirai tersebut?  Demikian juga alat memasak dan alat makannya, darimana ia dapatkan?  Pertanyaan-pertanyaan itu terus berseliweran.

Pada kenyataannya, Lhok Nga adalah daerah terparah yang terkena tsunami.  Orang-orang semua tinggal di penampungan pengungsi. Pada awalnya tenda, kemudian jadi barak-barak. Rumah Delisa yang baru rupanya tak jauh dari lokasi pengungsian.  Karena, saat ia ngambek dengan masakan ayahnya, ia berjalan ke dapur umum untuk makan.  Namun, lagi-lagi lucu.  Ia mampir ke rumah koh Acan (pemilik toko emas yang juga jadi pengungsi), dan kohAcan memasak mie untuknya dengan menggunakan kompor gas.  Tidak di dapur umum.

He..he..baiklah, ini kan di film. Dan cerita film punya versi sendiri yang bisa saja berbeda dengan versi buku.  Dalam buku, Tere Liye membius pembaca dengan kekuatan kata-kata.  Padahal, konon beliau belum pernah ke Aceh!  Mungkin ini juga menjadi faktor kenapa saat divisualisasikan kok jadi agak kedodoran.  Namun sekali lagi, karena tsunami Aceh  adalah kisah nyata yang kejadiannya juga belum lama, maka banyak saksi hidup yang berharap penggambaran akan sesuai atau setidaknya mendekati aslinya.

Memang enak kalau cuma cari-cari kekurangan.  Yang saya sukai dari film ini ternyata lebih banyak daripada kekurangannya.  Di antaranya : 1.      Di film ini, pemeran Delisa (Chantiq Schagerl) memang pas karena profilnya cocok dengan paras Aceh.
2.      Demikian juga penggambaran kesibukan di bandara SIM pasca tsunami, sudah mendekati aslinya.  Kenangan saya terbang ke bandara SIM pasca tsunami, yang  lebih kumuh dari terminal bis. Dan yang tak terlupakan adalah tembok-tembok yang penuh dengan tempelan berita orang hilang!
3.      Berseliwerannya para relawan yang hanya berseragam TNI dan PMI juga bisa dimaklumi, supaya tidak terkesan memihak kepada salah satu lembaga.
4.      Timing pemutaran film ini  juga pas. Pas dengan bulan Desember sebagai bulan terjadinya tsunami, dan pas pula dengan liburnya anak-anak.

SELAMAT MENONTON BERSAMA KELUARGA!

Hati-hati bila Gadis Kecil Keputihan!

Untuk kesekian kalinya saya kedatangan pasien anak balita. Gadis kecil balita ini, biasanya di antar ibunya, tapi terkadang diantar nenek atau tante/budenya. Pendahuluannya selalu sama, yaitu tidak mau terbuka dalam wawancara pendahuluan dengan bidan. Maunya langsung ketemu saya. Dengan awal yang seperti ini, sudah saya duga arah kasusnya.

Kasus 1.
Gadis kecil itu, kebetulan saya sudah mengenal ibunya. Ia berusia 5 tahun. Tinggal di komplek kontrakan. Beberapa hari sebelumnya ia selalu menolak saat akan diceboki seusai BAK. Umminya curiga. Setelah ditanya dengan pendekatan khusus, barulah buah hatinya mau bercerita. Menurut sang ummi, seorang sopir angkot yang juga tetangganya, telah melakukan pelecehan seksual kepada putrinya tersebut. Akibatnya, saya mendapatkan  infeksi yang menyebabkan nyeri saat buang air kecil. Bahkan ada setitik darah di celana dalamnya.
Memang kontrakan yang masih 1 blok dengan rumah keluarga tersebut dihuni oleh beberapa orang pengemudi angkot. Sebenarnya juga, sudah diadakan bimbingan ruhani untuk para pengemudi tersebut. Tapi hati orang siapa tahu. Karena seringnya bermain dan berinteraksi, maka si anak mau saja saat sang sopir melakukan niat bejatnya.
Keluarga tidak mau meneruskan masalah ini ke polisi. Tapi mereka minta si pelaku segera meninggalkan kompleks itu. Dan keinginan itu didukung oleh para penghuni kontrakan yang lain.

Kasus 2.
Masih menimpa gadis kecil dengan usia sebaya. Saat saya menanyakan keluhannya, ibunya langsung menjawab , “Pelanggaran pasal sekian-sekian UU Perlindungan Anak, dok!”. Wadduuh…!
Rupanya, si ibu sudah membawa kasus pelecehan seksual yang dialami anaknya ke polisi. Pelakunya adalah tetangganya sendiri dan sekarang sudah berada dalam tahanan. Insya Allah dalam waktu dekat akan digelar sidang pengadilannya. Semoga saja kasus ini tidak berakhir dengan “damai”. Para tetangga juga mengkhawatirkan keberaniannya melaporkan kasus ini ke polisi, tapi ia menyatakan, “Saya tidak takut, kok dok”.
Peristiwanya sendiri sudah terjadi lebih dari sebulan yang lalu, dan anaknya pun sudah dinyatakan ‘sembuh’. Tapi, kok masih sering mengeluh gatal? Pada anak yang belum baligh, dimana hormon reproduksi belum bekerja, maka keluhan seringan apa pun sudah seharusnya mendapatkan tanggapan yang serius. Dan ternyata, memang didapatkan tanda infeksi pada kelaminnya.
Kembali ke kasusnya. Seperti yang sudah-sudah pelakunya adalah orang dekat juga, yakni bapak-bapak tetangga sebelah rumah. Rumahnya model kopel, satu dinding dipakai berdua. Kebetulan, anak semata wayangnya itu tergolong ramah dan cepat akrab dengan orang lain. Dari si ummi, saya mendapatkan sebuah modus  yang perlu diwaspadai juga. Caranya, dengan pura-pura mengajari si anak atau membacakan buku. Anak balita dipangku, tangan sebelah membuka buku, mulut mendongeng, tangan sebelahnya lagi bergerilya!

Kasus 3.
Kali ini gadis kecil usia 5 tahun tersebut diantar oleh bibinya, karena ibunya masih syok. Bibinya juga terlihat masih emosional. Rupanya peristiwanya baru terkuak. Kalau kejadiannya sih, kelihatannya sudah beberapa kali. Pelakunya pemuda anaknya tetangga. Saat baru tahu, kontan mereka melabarak ke tetangganya itu. Tetangganya minta maaf dan berupaya damai.
Datang kepada saya, rupanya mau minta pernyataan terkait selaput keperawanan si anak tersebut. Semacam visum, begitulah. Saya tidak memberikan jawaban secara eksplisit karena sesuai prosedur, yang bisa memberikan visum adalah dokter yang bekerja di rumah sakit pemerintah dan pemberian visum hanya atas permintaan tertulis dari polisi.
Seperti kisah sebelumnya, terkuaknya tindakan amoral tersebut juga berawal dari si anak yang selalu menangis saat buang air kecil. Ibunya juga menemukan noda kotor / keputihan pada celana dalam anaknya.
———————————————————————————————–
Kisah di atas hanyalah 3 dari sekian banyak yang saya temui. Kesamaannya, semua dilakukan oleh orang dekat dan sudah dikenal. Baik oleh korban maupun oleh keluarganya.

Sehingga, pelajaran yang bisa diambil dan selalu saya nasihatkan kepada ibu yang punya gadis kecil adalah :

1. Yakinkan anak selalu dalam pengawasan orang tua atau orang dewasa (perempuan) yang bisa dipercaya.
2. Jangan biarkan anak berakrab ria dengan orang laki yang bukan ayahnya (apa boleh buat, kesannya diskriminatif, tapi begitulah kenyataannya)
3. Anak harus dibekali dengan kemampuan untuk berkata “TIDAK!” terhadap orang yang berusaha menyentuh tubuhnya.
4. Anak harus diyakinkan agar ia mau MENOLAK segala macam pemberian dari orang yang bukan orang tuanya
5. Jangan biarkan anak dengan baju yang memperlihatkan celana dalamnya. Pakaikan celana panjang untuk anak perempuan. Selain untuk pencegahan terhadap pelecehan seksual (na’udzubillah!) juga  untuk mencegah infeksi. Terkadang, secara tak sengaja anak memasukkan sesuatu ke balik celana. Atau, tangan yang habis main tanah tiba-tiba menggaruk area sensitif tersebut.
6. Ciptakan iklim berkomunikasi yang baik di antara anggota keluarga, sehingga anak tidak takut / malu untuk menceritakan kejadian2 yang dialaminya kepada orang tuanya.

Dan, tentu saja penjagaan terbaik adalah dari Allah SWT melalui doa kita, para orang tua. (nin)

 

Keterangan foto : para gadis kecil sedang berlatih menari di Cagar Budaya Betawi, Babakan Setu (koleksi pribadi)

Hamil Tidak Pada Tempatnya

Siang itu tiba-tiba ada pesan pendek masuk ke ponsel saya. Rupanya dari salah seorang kenalan di pulau Dewata. Beliau menanyakan, atau tepatnya berkonsultasi tentang kondisi dirinya yang dinyatakan hamil di luar kandungan dan harus dioperasi hari itu juga. Jauh-jauh dari Denpasar bertanya ke Jakarta, tentu dirinya dalam keadaan kalut. Di satu pihak harus segera mengambil keputusan, sementara di pihak lain masih banyak hal-hal yang masih membuat dirinya bingung. Bingung, kenapa kehamilan yang masih baru berusia 2 bulan harus segera dioperasi? Bertanya-tanya, kenapa kehamilan bisa terjadi di luar kandungan? Apa yang dimaksud dengan di luar kandungan itu? Saya maklum, meskipun pertanyaan-pertanyaan ini sebenarnya bisa ditanyakan langsung kepada dokter yang menanganinya saat itu, tapi tetap saya saya kontak teman saya itu. Tidak melalui SMS karena pertanyaan yang semacam ini memerlukan jawaban yang segera.

HAMIL DI LUAR KANDUNGAN, APA ARTINYA?
Sebuah kehamilan, normalnya berlangsung di dalam rongga rahim. Apabila hasil pembuahan tertanam di luar rongga rahim, maka disebut hamil di luar kandungan atau dikenal dengan istilah Kehamilan Ektopik (KE).
Yang sering menjadi tempat ‘nyasarnya’ KE adalah di saluran telur (Tuba Fallopii). 90% lebih KE terjadi di saluran telur. Sisanya terjadi di tempat-tempat lain, misalnya di indung telur, dimulut rahim, atau di rongga perut. Karena kehamilan ini berlangsung tidak di tempat yang normal (misalnya di saluran telur), maka saat mudigah makin membesar (biasanya di usia 8 – 10 pekan), maka pecah atau robeklah saluran telur tersebut. Robekan tersebut mengakibatkan perdarahan yang biasanya cukup deras.

Masalahnya, darah tersebut tertampung di dalam rongga perut, tidak keluar melalui vagina. Sehingga, yang tampak dari luar (vagina) hanyalah perdarahan sedikit-sedikit yang merupakan efek perubahan hormonal kehamilan saja.

Sementara itu, darah yang keluar ke rongga perut semakin banyak dan menimbulkan nyeri perut yang luar biasa. Pasien tampak pucat karena kurang darah. Perutnya tegang. Saat diperiksa di laboratorium, kadar hemoglobinnya makin lama makin menurun. Bahkan, apabila tidak segera mendapatkan pertolongan maka bisa terjadi syok yang berakibat fatal. Kondisi kehamilan ektopik yang pecah ini dinamakan KET (Kehamilan Ektopik Terganggu).

BAGAIMANA TINDAKAN SELANJUTNYA?
Pertolongannya tentu saja dengan mencari sumber perdarahan dan menghentikannya. Karena sumber perdarahan ada di saluran telur yang pecah, maka harus ditempuh dengan jalan operasi. Bila terjadi anemia akibat perdarahan yang terlalu banyak maka akan dilakukan transfusi. Jadi operasi KET ini memang masuk kategori operasi mendadak.

Memang, bisa saja KE sudah diketahui pada saat belum pecah. Biasanya secara kebetulan, yaitu kalau ada gejala kehamilan dengan test yang positif, tetapi ternyata di dalam rahim tidak dijumpai kantung kehamilan. Dengan USG transvaginal mungkin bisa ditemukan kantung kehamilan tersebut pada daerah tuba Fallopii. KE yang masih utuh ini tidak harus dioperasi, namun bisa diatasi dengan pemberian injeksi obat sitostatika (methothrexate) yang bertujuan menghancurkan buah kehamilan yang tidak pada tempatnya tersebut.

APAKAH MASIH BISA HAMIL LAGI?
Tentu saja kehamilan berikutnya masih dimungkinkan dengan syarat saluran telur pada sisi sebelahnya masih berfungsi dengan baik.

WASPADA, BILA MENGALAMI :
1. Terlambat haid dan test kehamilan positif
2. Nyeri perut yang menetap
3. Perdarahan sedikit-sedikit dari vagina
Bila terjadi ketiga hal tersebut, segeralah datang ke dokter. Jangan sekali-sekali malahan memanggil dukun urut untuk memijat perut yang sakit. Sering dijumpai KE yang sudah banjir darah dalam rongga perut atau keguguran biasa yang darahnya mengucur deras setelah kena tangan tukang urut.

Maka, saya langsung mengontak teman dari Denpasar tersebut untuk sedikit memberi penjelasan sehingga beliau tidak ragu lagi menjalani operasinya.

(nin)
Keterangan gambar:
1. Lokasi2 yang memungkinkan terjadi kehamilan ektopik.  Sumber : http://www.proprofs.com
2. Kehamilan di saluran telur (tuba Fallopii) yang masih utuh. Sumber : http://www.nlm.nih.gov