Kemana Buku Sekolahmu?

Tahun ajaran baru, 2006/2007…..hari yang terik.   Saya sedang berkutat di sebuah kios buku bekas.  Saya mencari buku pelajaran Matematika pesanan anak ketiga yang saat itu baru naik kelas 3 SMP.  Dan pesanannya spesial : buku matematika tersebut adanya di kios buku bekas, karena di toko sudah tak dijual lagi.  Ada-ada saja, pikir saya.  Dulu, waktu masih SMA saya memang hobi menelusuri kios buku bekas, tapi itu sudah 20 an tahun yang lalu.  Lha kok sekarang ya masih kebagian juga tugas menelusuri buku bekas.

Tapi tidak apa2, karena saya sekalian nostalgia.  Jadi saat buku yang dimaksud sudah di tangan, saya masih asyik membolak-balik majalah remaja yang dulu saya jadikan rebutan dengan adik-adik.  Masya  Allah … penampilan majalah-majalah ini sudah beralih rupa.  Majalah Gadis, Kawanku, Hai… semuanya serba glamour.  Penuh berita artis, film, pacaran, dan mode.  Kemana artikel iptek yang dulu mendominasi majalah HAI? Kemana cerita anak-anak yang jadi unggulan Kawanku ? Sekedar informasi, majalah Kawanku dulunya adalah majalah anak-anak pendatang baru pesaing majalah Si Kuncung yang sekarang sudah almarhum.  Sedangkan  majalah Gadis, meskipun sejak dulu sudah ada artikel tentang ‘cowok dan dunianya’ , namun yang lebih dominan adalah artikel tentang bagaimana mengarungi hidup di dunia dewasa yang ditujukan kepada para remaja putri.  Ada rubrik Tangan Cekatan, Masak, Etiket, dll.  Wah…rupanya mimpi ya saya sekarang ini.  Namanya jaman sudah berubah.  Dan anak perempuan saya, alhamdulillah tidak langganan Gadis lagi, melainkan Annida.

Namun di pojok sana saya mendengar suara tawar menawar dari seorang remaja.  Meski tak terlalu keras, tetapi cukup jelas tertangkap oleh telinga saya.

“Bagaimana bang, sepuluh ribu ya”, si gadis menawar untuk yang kesekian kali.

Kagak bisa, neng.  13 ribu sudah murah. Sudah gak bisa turun lagi”, si abang pun bertahan untuk yang kesekian kalinya.

Sunyi sesaat.  Dan saya masih membalik-balik majalah Femina (ini majalah kakaknya Gadis, dulu jadi langganan ibu saya).

Saya pikir, si gadis akhirnya setuju dengan harga 13 ribu.  Toh cuma selisih 3 ribu rupiah.  Tetapi, ” Sepuluh ribu, ya Bang”,  terdengar lagi suara itu.

Dan sampai saya meninggalkan kios, proses tawar menawar itu belum selesai.  Saya membayangkan selembar sepuluhribuan tergenggam erat di tangan si gadis.  Selembar sepuluhribuan itu hanya satu-satunya.  Sedangkan buku itu harus ia miliki.  Karena itulah ia harus berjuang untuk mendapatkannya.

Astaghfirullah… sepanjang perjalanan saya menyesali diri yang tidak bisa dan tidak tergerak menolong.   Apa susahnya saya memberikan 3 lembar seribuan kepada si gadis dan mengatakan : “Ini ibu tambahkan dan ambillah buku itu”. Mengapa tidak saya lakukan???

………………………………….Gambar

7 hari yang lalu di sebuah toko buku di sebuah Mal.

Saya sedang menyelesaikan transaksi belanja buku saya.  Hari itu nominal transaksi agak besar dikarenakan beberapa hadiah yang harus saya beli (saya lebih suka memberikan hadiah buku).  Di sebelah saya seorang anak laki 10 tahunan memegang erat buku RPUL kelas 4-6 SD.  Pakaiannya lusuh, alas kakinya sandal jepit berwarna pudar yang kebesaran.  Di sebelahnya lagi seorang ibu menggendong bayi dengan pakaian yang juga lusuh.  Di tangannya tergenggam erat beberapa lembar uang kertas.

“Kamu kelas berapa dan sekolah dimana”, saya bertanya pada si anak yang saya kira sebaya dengan Abdillah, anak saya ke 4.

Ternyata perempuan yang menggendong bayi itu (rupanya sang ibu) yang menjawab :”Iya bu, anak saya ini mau naik kelas 5″.

Ingatan saya langsung terlontar ke masa 3 tahun yang lalu di kios buku bekas.

“Jangan sampai terulang lagi”, gumamku dalam hati.

Maka setelah basa-basi sejenak langsung saja kukatakan pada kasir :”Mbak, tolong sekalian buku ini dihitung ya”.

Dan setelah proses pembayaran selesai, kuserahkan kembali buku RPUL itu kepada si anak yang masih terheran-heran.  Saat melangkah keluar pintu, masih kudengar teriakan si ibu : “Bu, terimakasih ya”

Ya, saya tak mau menyesal yang kedua kali.

Harga buku yang terus melambung memang menyesakkan.  Jangan heran apabila kegemaran membaca di Indonesia sangat rendah.  Sementara itu program “bersenang-senang” di televisi tampil dengan kemasan yang sangat atraktif .  Jadi, anak-anak lebih senang memelototi TV daripada membaca buku.  Lihat saja di rumah-rumah sederhana di sudut-sudut Jakarta.  Dalam ruang tamu yang sangat sempit selalu bertengger pesawat televisi warna yang cukup besar.  Jadi TV adalah barang “must have” dibandingkan buku.  Di samping itu, di sekolah, buku – buku selalu harus diganti di setiap tahun ajaran baru.  Hatta jenis bukunya sama, punya kakak tak bisa dipakai oleh adik.  Kenapa?     Karena di setiap pelajaran siswa mengerjakan latihan di buku teks tersebut, tidak di buku tulis.  Otomatis buku tersebut akan tercoret-coret.  Saat saya kemukakan masalah ini kepada guru, beliau menjawab:” Ya bu, kalau menulis di buku lebih praktis menilainya.  Belum lagi tulisan anak-anak terkadang sulit dibaca”.  Oh….

Dengan tetap menghormati dan memberi apresiasi kepada mereka yang telah mendirikan taman bacaan atau mengelola perpustakaan keliling, saya tetap mengharapkan harga buku bisa lebih murah.

Selamat Ulang Tahun Jakarta!

Foto : MP Book Point (koleksi pribadi)

9 thoughts on “Kemana Buku Sekolahmu?

    • ya..mbak Ayana, “Kawanku” itu dulu majalah anak2 untuk tingkatan SD – SMP. Kompetitor dari “Si Kuncung”. Kedua majalah ini banyak melahirkan sastrawan. Salah satu penulis di majalah Kawanku waktu itu adalah Darto Singo (alm) ayahnya penyanyi Anggun C. Sasmi. Dan salah satu penulis di majalah si Kuncung adalah pak Soekanto SA beserta istri beliau bu Soertiningsih WA (almh), beliau berdua ini adalah ortu dari mbak Santi Soekanto yang sekarang jadi pemred majalah AULIA. Lho…lho…kok jadi panjang ceritanya..

  1. Pemerintah Indonesia banyak PR nya bu. Buku sudah dijadikan barang komersil, penerbit (via salesman) memberi komisi khusus buat guru jika target penjualan tercapai dan siswa dituntut untuk membeli. Sepupu saya yg SMU pun jika tak membeli LKS terancam nilainya kecil. Mau tak mau harus BELI 🙂

    • dan salah satu eksesnya adalah adanya kasus LKS yang bermasalah dengan kontennya, karena tidak adanya sensor yang terpadu. Ingat kasus cerita “istri simpanan” ? Sekali lagi murid yang jadi korban. Nanti kalau sudah jadi ortu….harus kritis dengan kasus seperti ini lho

  2. saya berniat untuk berburu majalah SI KUNCUNG, khususnya edisi TUJUH SEKALI PUKUL, barangkali panjenengan mendapat info tentang majalah itu minta tolong untuk diinfokan

    • Terimakasih sudah mampir. Namun sayang sekali saya tidak dapat membantu untuk info majalah si Kuncung itu. Mungkinkah di perpustakaan nasional masih ada arsipnya? Atau mau tanya ke pak Soekanto SA? Beliau sekarang tinggal di kawasan Depok.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s