Archive | Agustus 2012

Acara TV Ilhami Anak jadi Pengemis

Peristiwa ini saya alami saat mengunjungi Jakarta Book Fair 2009 di Istora Senayan yang lalu.  Pengunjung sangat ramai, meskipun tak sampai berjubel  seperti di Islamic Book Fair.  Berbahagialah sopir taksi, karena begitu satu penumpang turun di depan lobi, calon penumpang yang lain sudah berderet menunggu giliran.  Lokasi Istora yang cukup jauh dari jalan raya membuat kendaraan yang tarifnya cukup mahal ini jadi laris manis.

 Kami (saya dan anak2) datang pas adzan dhuhur.  Guna menghindari terlena karena buku, kami langsung menuju mushola yang terletak di lantai 2.  Yang disebut ‘mushola’ ini sebenarnya hanya selasar yang dihamparkan karpet dan tikar di atasnya.  Keuntungannya : kami tidak kegerahan dan pengap di saat sholat.  Namun kok kelihatannya kurang representatif karena hamparan tikarnya tampak asal-asalan dan tidak jelas batas-batas sucinya.  Seusai sholat, anak-anak sudah tidak sabaran untuk segera turun.  Ternyata di tangga turun sudah berkumpul beberapa anak dengan atributnya masing-masing.  Atribut tersebut adalah : kaleng, kotak, amplop, daftar donatur, dsb.  Mafhumlah kita bahwa anak-anak tersebut mencegat jamaah sholat untuk minta sedekah.

Di antara mereka, ada seorang anak perempuan yang cukup gigih mengikuti langkah-langkah kami.  Tapi yang membuat saya terpana bukan kegigihan itu, melainkan kata-kata yang keluar dari mulutnya:

 “ Bu…ibu mau nolong saya gak bu?” 

“Iya bu, ibu mau gak nolong saya?”  “Mau ya bu”. 

Kata-kata itu diucapkan dengan nada dan intonasi yang persis sekali dengan acara reality show (yang paling saya benci)  “Minta Tolong” yang disiarkan di salah satu stasiun TV.  Acara ini memunculkan pelaku utama seorang anak miskin yang mencoba menawarkan barang dagangan yang tampak sepele (ikan beberapa ekor, arang, atau beberapa butir telur), kepada orang-orang yang juga dari golongan ekonomi lemah.  Tentu saja sebagian besar dari orang-orang yang ditawari dagangan itu menolak untuk membeli.  Di samping tidak punya uang lebih, harga yang ditawarkan pun memang aagak tinggi.  Nah, saat sampai di orang yang kebetulan mau membeli, datanglah host acara (tetap saja dengan penampilan dan perilaku yang kontras dengan sekitarnya) untuk memberikan hadiah segepok uang kepada si pembeli tadi.  Reality show yang mendramatisasi kemiskinan ini sudah sering dikritik oleh pemirsa, tetapi toh tetap berjalan dengan lancarnya.  Mungkin KPI belum menemukan celah untuk menggetokkan palunya.

Kembali ke anak perempuan tadi, intonasi minta-mintanya persis sama dengan anak di reality show tersebut.  Bahkan sesaat saya mengira bahwa dia sedang menjalankan peran “Minta Tolong” tersebut.  Saya sempat celingukan mencari, jangan-jangan ada kamera membuntutinya dari belakang.  Setelah yakin tidak ada kamera dan setelah yakin bahwa anak itu hanya menyontek ‘gaya’ minta-minta seperti di TV, segera saya gamit dia.  Saya katakan: “ Kalau mau minta, pakailah gayamu sendiri.  Jangan seperti yang di TV ya”.  Sambil saya selipkan selembar uang ke tangannya.

Namun jengkelnya, seusai acara putar-putar hampir seluruh stand yang bikin kaki rontok, saya berjumpa sekali lagi dengan anak tersebut, dan terdengar lagi nada itu : “Bu, ibu mau gak nolong saya?” “Mau kan, bu…..”

Masya Allah, acara TV “Minta Tolong” ini benar-benar mengilhami anak untuk jadi pengemis!

“Selamat menikmati hari mu, wahai anak Indonesia”

Catatan : tulisan dibuat tahun 2009. Entahlah, apakah acara “Minta Tolong” tersebut masih ditayangkan hingga kini?

Iklan

Ngobrol dengan TKW

Suasana ruang tunggu di gate 7 terminal 2 keberangkatan bandara SOETA amat penuh.  Wajah-wajah lelah dan mengantuk memenuhi seluruh kursi.  Maklumlah hari itu, Senin 4 Mei dini hari, jam 00.30.  Kami menunggu pesawat Emirates yang akan terbang ke Dubai.  Dari Dubai, perjalanan akan dilanjutkan dengan pesawat Emirates yang lain menuju Teheran.  Ternyata saya temukan sebuah kursi kosong. 

“Silakan duduk,” kata perempuan di sebelah kursi kosong tersebut. 

“Mau ke Dubai,bu?”, saya membuka percakapan. 

“Tidak.  Saya mau ke Qatar”, jawabnya.  Teman di sebelahnya lagi menimpali :”Nggak, kok.  Kami memang mau ke Dubai”.

“Eh iya, ya. Betul kami memang mau ke Dubai”, jawab si ibu yang bernama Rasi tersebut.  Sedangkan perempuan lebih muda yang duduk di sebelahnya bernama Aisyah.  Keduanya TKW. “Maklumlah, saya ini tidak tahu nama-nama kota”, jelas Rasi.  Lalu tanpa diminta Rasi dan Aisyah pun bercerita.  “Saya sudah pernah kerja sebelumnya, tapi di Saudi.  Di Riyadh”. 

Gambar

 “Kalau gak jadi TKW mana mungkin orang seperti kami bisa naik pesawat”.

” Memang pekerjaan seperti ini taruhannya nyawa.  Kalo di negeri sendiri, bayarannya sedikit, taruhannya nyawa juga”.

“Pokoknya kalo sudah pernah ngerasakan kerja di luar pasti pingin lagi, pingin lagi berangkat.  Padahal kalo sudah kerja disana bawaannya pingin pulang”.

“Majikan saya di Riyadh dulu sih baik.  Semoga nanti di Dubai bisa dapat yang lebih baik lagi”.

Demikianlah mereka bercerita saling menimpali.

“Ngomomg2, PJTKI nya apa dan kantornya dimana, bu?”, saya bertanya sambil membayangkan kantor PJTKI yang bertebaran di kawasan Condet, tempat tinggal saya.

“Iya, PT Anu, di jalan Munggang”. 

“Lho, itu kan di Condet!”, seruku dalam hati.

Memang, saat praktek, acap kali ada pasien TKW.  Mereka biasanya dirujuk karena ada permasalahan yang tidak bisa ditangani oleh dokter di PJTKI, atau istilahnya TKW yang “medical” nya masuk katagori “Unfit”.  Macam-macam kasusnya, dari perdarahan disfungsi sampai tumor.  Tetapi yang paling sering adalah kehamilan, atau hasil test pack positif padahal “sudah tidak hamil”.  Tentu saja mereka menempuh berbagai cara agar tidak jadi hamil.  Sayang kan, sudah keluar uang untuk   pendaftaran, ternyata tidak jadi berangkat, begitulah rata-rata alasan yang dikemukakan saat saya tanyakan alasan perbuatan menggugurkan kandungannya.  Sedikit dari mereka, setelah saya menasihati panjang lebar, akhirnya ikhlas menerima kehamilannya dan kemudian pulang ke kampung asalnya (semoga demikian).

Tentu kita bertanya, kalau keberangkatan menjadi TKW itu sudah direncanakan, mengapa mereka tidak memakai kontrasepsi? Ada beberapa jawaban : pertama, karena ketidaktahuan (rata-rata TKW berpendidikan rendah ).  Kedua, di penampungan PJTKI mereka yang sedang menggunakan kontrasepsi (susuk, AKDR, dll) diwajibkan melepasnya.  Padahal masa di penampungan itu sangat tidak jelas.  Bisa berhari-hari sampai berbulan-bulan.  Terkadang mereka bisa pulang kampung semasa libur.  Di saat pulang kampung itulah terjadi kehamilan.  Ketiga, sudah tahu akan berangkat, dan sudah tahu bahwa dirinya hamil (terkadang ada pengantin baru yagn belum punya anak, atau pengantin lama yang belum juga dikaruniai hamil… ) tetapi percobaan penggugurannya tidak berhasil.

Sehingga, saat tiba di bandara Internasional Dubai, saya melihat puluhan wajah-wajah Indonesia yang kelelahan dan mereka berhamparan lesehan di lantai ruang tunggu bandara modern itu.  Tanpa sadar saya menarik jilbab sehingga logo merah putih yang menempel di jas saya tertutup.

Memang mereka adalah pahlawan devisa.  Tetapi haruskah Indonesia terus-terusan berpredikat pengekspor tenaga pembantu rumah tangga?  Di balik bisnis TKW, bertaburan berbagai masalah kesehatan reproduksi .

  Catatan tahun 2009

Foto dari : http://www.langitperempuan.com

Kemana Buku Sekolahmu?

Tahun ajaran baru, 2006/2007…..hari yang terik.   Saya sedang berkutat di sebuah kios buku bekas.  Saya mencari buku pelajaran Matematika pesanan anak ketiga yang saat itu baru naik kelas 3 SMP.  Dan pesanannya spesial : buku matematika tersebut adanya di kios buku bekas, karena di toko sudah tak dijual lagi.  Ada-ada saja, pikir saya.  Dulu, waktu masih SMA saya memang hobi menelusuri kios buku bekas, tapi itu sudah 20 an tahun yang lalu.  Lha kok sekarang ya masih kebagian juga tugas menelusuri buku bekas.

Tapi tidak apa2, karena saya sekalian nostalgia.  Jadi saat buku yang dimaksud sudah di tangan, saya masih asyik membolak-balik majalah remaja yang dulu saya jadikan rebutan dengan adik-adik.  Masya  Allah … penampilan majalah-majalah ini sudah beralih rupa.  Majalah Gadis, Kawanku, Hai… semuanya serba glamour.  Penuh berita artis, film, pacaran, dan mode.  Kemana artikel iptek yang dulu mendominasi majalah HAI? Kemana cerita anak-anak yang jadi unggulan Kawanku ? Sekedar informasi, majalah Kawanku dulunya adalah majalah anak-anak pendatang baru pesaing majalah Si Kuncung yang sekarang sudah almarhum.  Sedangkan  majalah Gadis, meskipun sejak dulu sudah ada artikel tentang ‘cowok dan dunianya’ , namun yang lebih dominan adalah artikel tentang bagaimana mengarungi hidup di dunia dewasa yang ditujukan kepada para remaja putri.  Ada rubrik Tangan Cekatan, Masak, Etiket, dll.  Wah…rupanya mimpi ya saya sekarang ini.  Namanya jaman sudah berubah.  Dan anak perempuan saya, alhamdulillah tidak langganan Gadis lagi, melainkan Annida.

Namun di pojok sana saya mendengar suara tawar menawar dari seorang remaja.  Meski tak terlalu keras, tetapi cukup jelas tertangkap oleh telinga saya.

“Bagaimana bang, sepuluh ribu ya”, si gadis menawar untuk yang kesekian kali.

Kagak bisa, neng.  13 ribu sudah murah. Sudah gak bisa turun lagi”, si abang pun bertahan untuk yang kesekian kalinya.

Sunyi sesaat.  Dan saya masih membalik-balik majalah Femina (ini majalah kakaknya Gadis, dulu jadi langganan ibu saya).

Saya pikir, si gadis akhirnya setuju dengan harga 13 ribu.  Toh cuma selisih 3 ribu rupiah.  Tetapi, ” Sepuluh ribu, ya Bang”,  terdengar lagi suara itu.

Dan sampai saya meninggalkan kios, proses tawar menawar itu belum selesai.  Saya membayangkan selembar sepuluhribuan tergenggam erat di tangan si gadis.  Selembar sepuluhribuan itu hanya satu-satunya.  Sedangkan buku itu harus ia miliki.  Karena itulah ia harus berjuang untuk mendapatkannya.

Astaghfirullah… sepanjang perjalanan saya menyesali diri yang tidak bisa dan tidak tergerak menolong.   Apa susahnya saya memberikan 3 lembar seribuan kepada si gadis dan mengatakan : “Ini ibu tambahkan dan ambillah buku itu”. Mengapa tidak saya lakukan???

………………………………….Gambar

7 hari yang lalu di sebuah toko buku di sebuah Mal.

Saya sedang menyelesaikan transaksi belanja buku saya.  Hari itu nominal transaksi agak besar dikarenakan beberapa hadiah yang harus saya beli (saya lebih suka memberikan hadiah buku).  Di sebelah saya seorang anak laki 10 tahunan memegang erat buku RPUL kelas 4-6 SD.  Pakaiannya lusuh, alas kakinya sandal jepit berwarna pudar yang kebesaran.  Di sebelahnya lagi seorang ibu menggendong bayi dengan pakaian yang juga lusuh.  Di tangannya tergenggam erat beberapa lembar uang kertas.

“Kamu kelas berapa dan sekolah dimana”, saya bertanya pada si anak yang saya kira sebaya dengan Abdillah, anak saya ke 4.

Ternyata perempuan yang menggendong bayi itu (rupanya sang ibu) yang menjawab :”Iya bu, anak saya ini mau naik kelas 5″.

Ingatan saya langsung terlontar ke masa 3 tahun yang lalu di kios buku bekas.

“Jangan sampai terulang lagi”, gumamku dalam hati.

Maka setelah basa-basi sejenak langsung saja kukatakan pada kasir :”Mbak, tolong sekalian buku ini dihitung ya”.

Dan setelah proses pembayaran selesai, kuserahkan kembali buku RPUL itu kepada si anak yang masih terheran-heran.  Saat melangkah keluar pintu, masih kudengar teriakan si ibu : “Bu, terimakasih ya”

Ya, saya tak mau menyesal yang kedua kali.

Harga buku yang terus melambung memang menyesakkan.  Jangan heran apabila kegemaran membaca di Indonesia sangat rendah.  Sementara itu program “bersenang-senang” di televisi tampil dengan kemasan yang sangat atraktif .  Jadi, anak-anak lebih senang memelototi TV daripada membaca buku.  Lihat saja di rumah-rumah sederhana di sudut-sudut Jakarta.  Dalam ruang tamu yang sangat sempit selalu bertengger pesawat televisi warna yang cukup besar.  Jadi TV adalah barang “must have” dibandingkan buku.  Di samping itu, di sekolah, buku – buku selalu harus diganti di setiap tahun ajaran baru.  Hatta jenis bukunya sama, punya kakak tak bisa dipakai oleh adik.  Kenapa?     Karena di setiap pelajaran siswa mengerjakan latihan di buku teks tersebut, tidak di buku tulis.  Otomatis buku tersebut akan tercoret-coret.  Saat saya kemukakan masalah ini kepada guru, beliau menjawab:” Ya bu, kalau menulis di buku lebih praktis menilainya.  Belum lagi tulisan anak-anak terkadang sulit dibaca”.  Oh….

Dengan tetap menghormati dan memberi apresiasi kepada mereka yang telah mendirikan taman bacaan atau mengelola perpustakaan keliling, saya tetap mengharapkan harga buku bisa lebih murah.

Selamat Ulang Tahun Jakarta!

Foto : MP Book Point (koleksi pribadi)

IBU HAMIL, MASIH HARUS NUJUH BULANAN?

Kalau ada usia kehamilan yang paling sering ditanyakan oleh ibu hamil dan/atau ibunya, maka itu adalah usia 7 bulan dan 4 bulan.  Maksudnya, kapan kandungan saya berusia 4 bulan? Dan kapan berusia 7 bulan? Tidak tanggung-tanggung, yang ditanyakan adalah tanggal tepatnya.

Ada apa di balik tanggal-tanggal yang ditanyakan  tersebut?
“Mau adakan pengajian…”
“Ada sedikit syukuran…”
“Kan, harus diperingati, dok?”
“4 bulan itu waktu dimana janin ditiupkan ruh, jadi harus disyukuri”

Kalau 7 bulan?
“Di usia 7 bulan, bayi sudah siap untuk lahir” (malahan ada pendapat di kalangan suku Jawa, bahwa jika bayi lahir di usia 7 bulan itu lebih baik daripada di usia 8 bulan.  Kalau 9 bulan, mah memang sudah waktunya lahir, ya)

Gambar

Ibu, selama menjalani kehamilan ini sudah selayaknya hari-hari kita dan keluarga harus dipenuhi rasa syukur.  Bertambah-tambah rasa syukur kepada Allah SWT apabila secara fisik dan psikis tidak ada keluhan-keluhan atau gangguan yang serius.  Tetapi, apakah rasa syukur harus ditepatkan pada usia-usia tertentu? Nah, inilah yang tidak ada tuntunannya.  Tidak ada ketentuan harus memperingati usia-usia tertentu dari kehamilan.

Karenanya, saya coba memberikan solusi… silakan menyelenggarakan acara syukuran dengan pengajian atau memberi makan anak yatim dan kaum dhuafa… kapan saja selama kehamilan ini.    Dan tidak perlu ada tambahan-tambahan acara tertentu seperti jualan rujak, ganti baju 7 kali, belah kelapa,  dan sebagainya.  Bukankah biaya untuk acara semacam itu lebih baik disimpan untuk persiapan persalinan?

IBU HAMIL, PERLUKAH PAKAI JIMAT?

Saat memeriksa seorang ibu hamil tak jarang saya jumpai sebuah gunting kecil (berkarat lagi…)  menggantung di pakaian dalamnya.  Tak hanya itu, terkadang yang menempel adalah peniti dengan bungkusan kain, atau peniti dengan tancapan bangle.

Gambar

Saat saya tanya untuk apa itu, maka jawabannya macam-macam.  Ada yang karena menuruti anjuran orang tua, tetua, tetangga.  Ada pula yang  dengan yakin mengatakan “agar tak terjadi apa-apa dengan si jabang bayi”.  Golongan yang hanya menurut orang tua terbagi menjadi dua, ada yang percaya sepenuhnya namun ada pula yang ragu-ragu. Percaya gak percaya.

Kepada setiap golongan, selalu saya nasihatkan bahwa apa yang dilakukannya itu adalah hal yang berbahaya? Wah, bahaya apa ya, dok? Wong cuma benda kecil begini kok.

Nah, yang pertama adalah bahaya terluka.  Bayangkan sebuah gunting yang runcing (meskipun terlipat) berkarat itu kalau sampai mengenai kulit.  Atau tiba-tiba jarumnya peniti mencuat lalu menusuk perut!.

Bahaya yang kedua adalah bahaya yang jauh lebih besar, yakni bahaya untuk akidah.  Si ibu jadi merasa tidak aman, tidak ada yang melindungi kalau sampai jimatnya ketinggalan atau kelupaan habis mandi tidak dipakai lagi.  “Lho…lho… kalau memang untuk perlindungan kenapa tidak sekalian bawa M16 saja?” Begitu saya mencandai para ibu itu.  Akibatnya, si pemakai jimat akan melupakan Allah sebagai Sang Mahapelindung.  Alangkah naifnya, menggantikan Allah SWT dengan sebuah gunting karatan atau sebutir bangle!

Pada akhirnya, dengan sopan, saya minta saat itu juga untuk mencopot jimatnya.

Pemakaian  jimat terkadang baru diketahui pada saat persalinan.  Saat memimpin sebuah persalinan yang sulit, padahal dari pemeriksaan semuanya baik-baik dan normal saja, saya lalu evaluasi : apakah si ibu pakai jimat ? Kalau ya, langsung saja saya suruh copot . Biar doa untuk kelancaran persalinan dikabulkan Allah SWT

gambar : koleksi pribadi, hasil sitaan dari para pemakainya

IBU HAMIL, BOLEHKAH MINUM ES?

“Apakah saya masih boleh minum es, dok”,  seorang ibu 25 tahun yang baru saja terdiagnosis hamil 12 minggu bertanya saat sesi konsultasi.  Ketika saya menjawab ‘ya’, kontan ia menyikut suaminya. “Tuh, boleh kan!”

Atau yang seperti ini :
” Nah apa ibu bilang.  Kamu jangan minum es terus.  Nih, lihat sekarang bayimu kegedean”, komentar seorang ibu kepada putrinya yang sedang hamil tua.

Gambar
Yang saya herankan pertanyaan tentang boleh tidaknya seorang ibu hamil minum es terus mengemuka semenjak belasan bahkan puluhan tahun yang lalu.  Tidak ada perubahan seiring dengan kemajuan teknologi informasi.  Yang ditakutkan adalah, dengan minum es maka si bayi dalam rahim akan jadi gendut sehingga susah dilahirkan.

Sebenarnya, apakah es (batu) itu?
Bukankah es adalah air yang membeku/dibekukan? Dan air adalah minuman yang sama sekali tidak mengandung kalori, alias tidak menyebabkan gemuk.  Kalaupun kita berlebihan minum air es misalnya, maka yang terjadi adalah perut terasa penuh dan kembung.  Untuk mereka yang sensitif terhadap dingin, es membuat pileknya kambuh.  Atau, minum es tidak dianjurkan untuk orang-orang yang sedang flu.

Gambar
Lain halnya apabila es itu diminum dengan campuran seperti sirup, cendol, santan-susu-alpukat-nangka (alias es teler …), kolak bersantan kental, atau es krim.  Bahan berkalori tinggi yang bisa menyebabkan gemuk ada pada campuran tersebut, yaitu gula, lemak santan dan lemak susu.  Kalau bagi seorang ibu hamil tiada hari tanpa sirup atau teh manis misalnya, maka dijamin ia akan gemuk meskipun dikonsumsi dalam keadaan hangat.

Jadi, es tidak menyebabkan seorang ibu hamil menjadi gemuk atau bayi yang dikandungnya tumbuh bak ‘giant’
Nikmatilah kehamilan dengan makanan dan minuman 4 sehat 5 sempurna 6 halal.  Yang menjadi pantangan bagi ibu hamil adalah menjadi pantangan juga bagi orang lain yang tidak hamil yang ingin hidup sehat.  Misalnya, ‘junk food’,  cemilan penuh MSG, makanan olahan dengan banyak bahan kimia.

Ibu hamil boleh saja makan durian atau daging kambing dalam jumlah yang sewajarnya.  Pasalnya, durian dan daging kambing termasuk yang sering disalahartikan sebagai makanan haram untuk ibu hamil.

Jadi, sekarang komentarnya  begini :” Lho kok bayi saya lahirnya besar amat, sampai 4 kilo lebih.  Padahal selama hamil saya tidak pernah minum es, lho!”.