Saat Bumil Mendadak Kram

Saat hamil memasuki trimester 2, saat itulah serasa di surga. Selamat tinggal hari-hari mual dan muntah. Perlahan-lahan nafsu makan membaik dan bahkan meningkat. Tiba-tiba lapar mata diikuti dengan lapar perut. Bahkan di malam hari tak jarang terbangun cuma untuk buka-buka kulkas, mana tahu masih ada yang bisa disantap.

Tapi seiring dengan itu, muncul gangguan baru yaitu kaki kram. Kram alias kejang otot memang sangat mengganggu. Rasanya nyeri. Otot betis seperti dijepit dengan puluhan tang atau dibalur kawat berduri, dan jemari kaki biasanya posisi menekuk tak dapat kembali. Pada umumnya gangguan ini terjadi di malam atau dini hari, atau jelang subuh, dimana hawa sedang dingin-dinginnya.

Apa sebetulnya yang terjadi? Kram atau kejang otot terjadi saat otot berkontraksi dan tidak segera relaksasi. Pada ibu hamil kondisi ini dipicu oleh udara dingin dan gerakan peregangan yang berlebihan, misalnya di saat menggeliat atau meluruskan tungkai. Namun ada yang mendasari yaitu kekurangan kalsium. Mengapa sampai bisa kekurangan kalsium? Tentu saja karena kalsium ibu habis disedot oleh janin. Janin perlu kalsium guna pertumbuhan tulang dan giginya. Dan tidak ada sumber lain selain dari ibunya. Maka selain ibu tiba-tiba keropos gigi, patah tanpa sebab, atau ngilu-ngilu di tulang panggulnya, dampak lain adalah munculnya kram otot. Penyebabnya adalah gangguan pada penghantaran listrik untuk energi gerak.

Bagaimana mengatasi kram yang menyakitkan ini? Ada beberapa cara, namun yang sering saya anjurkan untuk para bumil karena mudah adalah seperti pada gambar di bawah ini. Luruskan tungkai yang kram, kemudian tegakkan telapak kaki, lalu dorong telapak ke arah tulang kering. Tahan beberapa saat sampai dirasakan kekejangan mengendor, dan kram pun hilang. Apabila sulit melakukannya sendiri, bisa minta bantuan suami atau orang lain. Mencegahnya adalah dengan meminimalkan dingin. Saat dini hari, matikan AC atau kenakan celana panjang.

cara mengatasi kram secara mandiri. gambar dari [ https://id.wikihow.com/Menyembuhkan-Kram-Kaki-Di-Malam-Hari ]

Perbaiki suplai kalsium dengan jalan mengonsumsi susu dan tablet suplemen kalsium. Makanan yang juga mengandung kalsium kadar tinggi antara lain adalah keju, yoghurt, brokoli, sarden, ikan teri. Bagaimana bila tidak suka dengan rasa dan aroma susu khusus ibu hamil? Jangan khawatir, konsumsilah susu apa saja atau lebih baik lagi susu khusus tinggi kalsium. Tidak masalah apakah berbentuk susu bubuk atau susu cair.

Sedangkan untuk mengetahui status kalsium dalam darah bisa dilakukan pemeriksaan laboratorium. [nin]

Sekedar Penyegar (senyum di akhir tahun)

SEGMEN 4

Jam 2 dini hari saat tugas jaga di bagian IGD Ginekologi….. Baru sekejap memejamkan mata, datanglah pasien seorang wanita setengah baya yang mirip dengan mbok Bariyah dalam cerita si Unyil.  Keluhannya adalah nyeri perut bagian bawah.  Usai melakukan pemeriksaan ia pun saya persilakan kembali ke tempatnya.  Sambil berjalan saya amati sandal jepit yang dipakainya, yang kanan merah dan yang kiri warna biru kusam.

Saya                    :  Mbok…bagaimana sih sampeyan ini.  Pake sandal kok

sisihan seh! Tidak sama tuh warnanya kiri dan kanan

Mbok Bariyah : Looo..tak iyya, tadi saya pake warnanya sama kok,

deeek.

Saya                    : Paling-paling sampeyan keliru pakai di jalan tadi

mbook.

Mbok Bariyah : Terus bagaimana saya ini deek…

Setelah duduk, barulah saya menengok ke kaki saya sendiri. Ternyata sandal jepit yang saya pakai: yang kanan biru kusam dan yang kiri merah… ketuker.com

*&%$#@@*&

SEGMEN 5

Pasien dengan keluhan tidak nyaman saat BAK diminta untuk ke laboratorium guna pemeriksaan urine lengkap. Dokter menjelaskan tentang cara mendapatkan urine porsi tengah.

Dokter               : Bu, sebelum BAK cebok dulu sampai bersih ya. Setelah

itu keluarkan air seni sedikit, baru kemudian

ditampung dengan wadah yang dari laboratorium.

Pasien                : Oooh….iya, dok.  Tapi nanti sesudah BAK cebok lagi

tidak, dok?

Dokter               : ya iyalaaah )!*&#^%!$*(

Ayah Juga Bisa Memotong Tali Pusat Bayi.

Alhamdulillaaaahhh……. hosh…hosh…..

Setelah melalui perjuangan besar, akhirnya jabang bayi pun lahirlah ke dunia. Perasaan si ibu langsung lega…. Bukan hanya lega secara fisik, karena segunung nyeri yang tadinya merajam tubuh langsung sirna, namun juga lega secara psikis setelah mendengar suara lengking tangis yang didambakan dan terbayang-bayang selama 9 bulan.

Tak lama kemudian, lahirlah plasenta. Yaitu organ menyerupai daging berbentuk bundar mirip piring. Plasenta ini mempunyai fungsi yang sangat penting selama bayi masih bertumbuh di dalam rahim, yaitu sebagai organ penerima dan pengolah nutrisi untuk bayi yang berasal dari ibu, sekaligus sebagai penyaring racun atau zat berbahaya. Kedudukan plasenta menempel di dinding rahim bagian dalam, dan di tengahnya terdapat tali pusat yang panjang menyambung ke tubuh janin. Di dalam tali pusat terdapat 3 pembuluh darah, terdiri dari 2 pembuluh arteri dan 1 pembuluh vena. Pembuluh arteri menyalurkan darah kotor dari janin untuk dibersihkan, dan selanjutnya darah bersih penuh oksigen mengalir melalui vena tali pusat masuk kembali ke dalam tubuh janin. Demikianlah berlangsung sembilan bulan lamanya.

Setelah bayi lahir ke dunia, ia menangis untuk pertama kalinya, dan pada saat itulah oksigen masuk ke paru janin. Paru yang dimasuki oksigen lantas mengembang, mendesak keluar cairan yang selama ini memenuhi paru . Berhentilah fungsi tali pusat dan plasenta. Selesailah tugasnya. Ia beralih status menjadi benda mati.

Tibalah saatnya, memotong tali pusat bayi. Ini sebetulnya pekerjaan rutin dari penolong persalinan. Namun, apa salahnya kalau pekerjaan tersebut dialihkan kepada ayah? Bagi ayah, ini suatu momen yang langka dan tak terlupakan. Ayah pun turut berperan penting. Tidak “hanya” menjadi pendamping ibu, yang tidak turut merasakan hebatnya nyeri persalinan. Ayah, turut serta dalam momen “melepaskan” bayi dari kehidupan dalam rahim, siap menerima tantangan kehidupan dunia!

Tapi, tak jarang ayah merasa takut memotong tali pusat. Perlu dipahami bahwa bayi sama sekali tak merasakan nyeri saat tali pusat dipotong. Lagi pula, bidan akan mendampingi dan membimbing proses pemotongan tali pusat tersebut. Mulai dari mengenakan sarung tangan steril, cara memegang tali pusat, sampai menunjukkan lokasi pemotongan dengan gunting steril.

Bahkan, momen ini bisa diabadikan lho….

Fatimah dan Ibunya (flash fiction)

Sudah sepekan ini ibu tampak gelisah dan tak tenang.  Terkadang ia tampak melamun, tapi sesaat kemudian  sudah menyibukkan diri dengan bebenah.  Taplak meja dan tirai jendela diganti.  Langit-langit dibebaskan dari sarang laba-laba.  Tapi yang paling mendapatkan perhatian istimewa adalah kamar kecil di ujung ruang keluarga.  Itu kamar Fatimah, si bungsu yang sudah dua setengah tahun meninggalkan rumah.  Bukan, bukan minggat. Fatimah pergi baik-baik.  Pamitan dengan seluruh  anggota keluarga. Bahkan dengan paman dan budhenya pun ia sempatkan bersilaturahim sekalian berpamitan.

“Terimalah, bu.  Hanya ini yang bisa Fatimah berikan,” tulisan pendek tertera.

Ibu tak kuasa menahan haru.  Sambil terisak, didekapnya buku kecil berwarna hijau itu. Dibolak baliknya lembaran di dalamnya.   Buku tabungan haji  dari sebuah bank syariah.  Isinya sesuai ONH  yang disyaratkan pemerintah.  

Lama ia mengubur mimpinya untuk menunaikan rukun Islam ke lima.  Setelah kematian  suaminya 6 tahun yang lalu hidupnya jadi hampa.  Anaknya yang  6 orang,  semuanya tinggal di luar kota.  Bahkan si bungsu , Fatimah, tinggal di Hongkong sebagai pekerja migran.  Cita-cita berangkat ke tanah suci  kandas setelah suaminya didiagnosa kanker tulang.  Tabungan haji terpaksa direlakan untuk biaya berobat yang tinggi di awang-awang.  Toh, akhirnya suaminya berpulang.  

Dua puluh lima tahun yang lalu…………………..

Sendirian ia berada di ruang praktek dokter kandungan yang dingin itu.  Wajahnya sembab berbekas air mata.  Di hadapannya tergeletak sebuah  test kehamilan.  Hasilnya positif.   Ingin ia melempar kotak kecil itu ke bak sampah.  Hatinya masygul!  Dokter itu menolak keinginannya.  Ia cuma minta kehamilan ini diakhiri.  Tahu apa dokter  dengan kerepotan dan segala beban rumah tangganya.  Anaknya sudah lima!  Dan sekarang ada janin bersemayam di rahimnya.   

Disesalinya dirinya yang abai dengan tanggal  haid yang terlewat.  Menurut dokter, kandungannya saat ini sudah 10 pekan. Wow…tampak janin kecil bergerak lincah di layar USG.  Benarkah kata-kata dokter itu bisa dipercaya?

gambaran USG dari janin usia 10 pekan di dalam rahim

“Bersabarlah, bu.  Siapa tahu anak inilah yang akan memberangkatkan ibu ke tanah suci”.

 Itulah kata-kata dokter yang ia anggap mimpi di siang bolong.  Dan ia pun langsung berbalik, meninggalkan sang dokter tanpa mengucap salam.

……………………………………………………

Janin kecil yang bergerak lincah tampak di layar USG itu, Fatimahlah orangnya.   

NB. kado untuk para jamaah haji, semoga kalian semua mabrur. menjadi lebih baik sekembalinya ke tanah air.

Cox Bazar – Kamp Pengungsi Terbesar di Dunia

Guncangan kendaraan terus mengocok perut sepanjang perjalanan menuju kamp pengungsian di Cox Bazaar, Bangladesh.   Bukan hanya karena jalanan yang bergelombang dan berbatu tapi juga karena sopir yang kelewat lincah meliak-liukkan mobilnya.  Jalan hanya kapasitas 2 lajur mobil, itu harus berbagi dengan autoriksha (kendaraan mirip bajaj di Jakarta), riksha (tanpa kata ‘auto’  maka dijalankan dengan tenaga manusia, mirip becak namun pengemudinya di depan) dan pasar tumpah yang dipadati manusia.  Ditambah dengan suasana panas, kering, dan berdebu serta denyutan klakson yang tak henti-hentinya.  Maka semakin lengkaplah kehangatan suasana siang itu.

Kali ini perjalanan akan menuju ke kamp Thaingkali dimana  organisasi sosial para dokter Bangladesh (CSBD) akan melayani para pasien pengungsi etnis Rohingya.  BSMI bekerjasama dengan CSBD dalam menyalurkan bantuan untuk para pengungsi Rohingya.  Kemarin kami sudah menyerahkan 1 unit mobil ambulans yang akan digunakan untuk mengangkut pasien yang perlu dirujuk ke Rumah Sakit lapangan maupun untuk transportasi para dokter.  Memasuki kawasan pengungsian maka semakin padatlah manusia dan kendaraan.  Berbagai organisasi kemanusiaan mengibarkan bendera dan memasang banner dengan spesifikasi tugas masing-masing.  Ini pemandangan jamak di daerah bencana atau konflik berskala besar.  Adapun masalah Rohingya ini termasuk super besar.  Saat ini sudah sekitar 1,5 juta manusia memadati Cox Bazar. Gelombang eksodus sebenarnya sudah berlangsung lama, bahkan dr. Waliullah, sang spesialis mata yang menyertai perjalanan ini menyebutnya sudah sejak tahun 1976 an.  Namun eksodus terbesar terjadi sejak pertengahan 2017 saat tentara Myanmar secara buas dan keji mengusir rakyatnya sendiri dengan berbagai cara kekerasan.  “Lihat ke arah kanan sana. Dulu bukit itu kosong”, ujar dr. Wali .  Memang saat kami lihat keseluruhan badan bukit itu sekarang berwarna putih dan oranye.  Itu adalah warna atap-atap gubug etnis Rohingya yang terbuat dari plastik.

Bersama anak2 Rohingya di ambulans sumbangan BSMI

Memasuki Thaingkali,  angin akhir Januari bertiup sejuk.  Sebenarnya masih termasuk musim dingin.  Namun tanah kering ini mengandung debu yang dengan cepat menyelimuti tubuh.  Dan kami mulai berjalan menuju klinik di dalam kamp.  Karena ini di bukit maka jalanan tanah itu menanjak.  Tak terbayang bila turun hujan.  Anak-anak kecil berkerumun dan mengajak kawan-kawannya.  Beberapa dari mereka menggendong adiknya meski taksiran usianya baru sekitar 8 tahunan.  Di beberapa tempat terdapat pompa tangan untuk mengalirkan air bersih.  Dan ada juga unit-unit toilet sederhana berdinding plastik biru.  Tentang kode warna ini sudah ketentuan yang disepakati.  Bahwa untuk rumah plastiknya warna putih atau oranye, plastik biru untuk fasilitas MCK, dan plastik hijau untuk madrasah dan mushola.

Lokasi yang dijadikan klinik atau tepatnya pos kesehatan adalah sebuah madrasah.  Kerumunan orang sangat padat.  “Dalam sehari bisa sampai 300-400 orang pengunjungnya”, kata seorang dokter lokal.  Dia berbicara bahasa Inggris sambil tangannya sibuk menulis hasil pemeriksaan.  Usai diperiksa pasien segera menuju meja farmasi untuk mendapatkan obat.  Hari ini  BSMI  akan membagikan Horlics, yaitu sejenis sereal bergizi.  1 kemasan berisi 500 gram bubuk yang nanti mesti diseduh dengan air hangat.  Kami utamakan membagi untuk ibu hamil, anak-anak, dan lansia.  Seorang tua dengan luka terbuka di kakinya datang untuk diperiksa.  Dokter Basuki yang ahli bedah segera merawat luka tersebut sembari mengajarkan kepada para dokter yang ada di klinik tersebut.  “Jangan lupa untuk selalu menyediakan madu,” terang beliau.  Madu yang memang sudah difirmankan Allah sebagai obat bagi manusia merupakan penyembuh luka yang baik.

Ternyata ada alat ultrasonografi juga di sebuah ruangan tertutup.  Ibu hamil diperiksa dengan USG dan diberikan foto hasil pemeriksaan.  Beberapa ibu hamil sempat juga saya periksa dan lakukan USG.  Diperkirakan mereka akan bersalin di akhir bulan februari.  “Semoga pas ada bidan yang membantu mereka”, demikian Tahmina, sonologis muda yang menemani saya.  Pemeriksaan tak dapat berlangsung lama karena deretan antrian bumil masih panjang.  Tahmina lincah saja memeriksa tekanan darah sambil mengisi rekam medik yang cukup panjang.  Saya di bagian USG.  Semoga sedikit meringankan.

Perjalanan meninggalkan Thaingkali kami lalui dengan lelah yang puas.  Berhenti menyegarkan diri sejenak di pantai Cox Bazar yang merupakan pantai terpanjang di dunia.  Semoga segera ada solusi untuk para pengungsi ini agar mereka dapat hidup layak sebagai manusia.  Dan ucapan terima kasih melayang bersama doa untuk para dermawan di Indonesia, negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia.  [nin]

20180127_063751

Aku Tidak Mau Pulang – Tatkala Mereka Harus kembali

Keluarga dokter Gaza

Keluarga dr. Mueen saat baru tiba di Indonesia.

“Iya..iya…aku mau kok ke Gaza.  Tapi nanti yaaa.  Sekarang aku mau di sini dulu”, rajuk Aya (14) dengan bahasa Indonesia berlogat Jawa.

“Waduh, nanti di Gaza banyak bom, lho!” timpal Zaina (11), adik Aya.  Logat Jawanya lebih kentara lagi.

“Saya doakan…..Ya Allah, semoga Palestina segera merdeka”, saya berharap dalam haru, setelah mendengarkan ucapan dua gadis kecil asli Palestina tersebut.

“Sabar, bu. Kita mesti sabar”, tukas Samah sambil menggendong Muhammad (5 bulan).  Samah adalah ibu Aya dan Zaina.  Sedangkan bayi 5 bulan dalam gendongannya adalah anaknya yang ke tujuh.  Sekaligus merupakan anak ke empat yang lahir di Indonesia.

2010 – Delapan tahun yang lalu….

Aya, Zaina, dan si kecil Mariyam pertama kali menginjakkan kaki di bumi Indonesia.  Datang bersama sang ibu menempuh perjalanan sulit menembus pintu Rafah, menyusul ayah mereka dr. Mueen Al Shurafa yang sudah terlebih dahulu berada di Yogyakarta melanjutkan studi pasca sarjana anestesi di Universitas Gajah Mada. di kota budaya itu, berbaur dengan teman sebaya di SD membuat mereka cepat sekali menguasai bahasa Indonesia serta lancar pula berbahasa Jawa.  Bahkan lagu kebangsaan Indonesia Raya dinyanyikannya dengan penuh percaya diri.  Di kota itu pula  satu demi satu adik-adiknya lahir.

R. Wisuda dr. Moin

Wisuda dr. Mueen di UGM

2014 – Empat tahun kemudian…

Keluarga dr. Mueen pindah ke Solo.  Ini setelah ia menuntaskan pendidikan pasca sarjana di UGM dan kemudian dilanjutkan dengan Program Pendidikan Dokter Spesialis Anestesi di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) di Solo.  Aya dan Zaina pun beranjak remaja.  Mereka pun menutup aurat dengan sebaik-baiknya.  Adik-adiknya yang lahir di Indonesia tampaknya mesti belajar bahasa Arab, dikarenakan dalam keseharian mereka menggunakan bahasa Indonesia dan Jawa.  Meski demikian orang tuanya tetap berusaha berbahasa Arab demi memeliharan bahasa ibu terhadap anak-anak mereka.  Aahhh…anak-anak memang mempunyai penyerapan yang cepat sekali dalam soal bahasa.

2018 – bulan Agustus

Setelah berjuang menempuh pendidikan yang keras dan melelahkan, menjalani semester demi semester di rumah sakit Dr. Moewardi dan rumah-rumah sakit lain di kota sekitar Solo, tibalah dr. Mueen di penghujung pendidikan.  Waktu kelulusan sudah dekat.  Tinggal 1 kali ujian akhir maka gelar dokter spesialis anestesi pun segera disandang.  Sebuah keahlian yang akan sangat dibutuhkan di Gaza.  Betapa tidak, di Gaza, dengan tiba-tiba seseorang bisa ditembak oleh snipper.  Anak sekolah bisa terluka atau dilukai dalam perjalanan pergi-pulang sekolah.  Maka Al Shifa Hospital – rumah sakit terbesar di Gaza City – setiap hari menerima banyak sekali kasus yang membutuhkan tindakan bedah, dan dengan sendirinya membutuhkan dokter ahli bius.  Belum lagi operasi-operasi yang lain.  Dokter yang dibutuhkan haruslah dokter yang handal dan tersertifikasi. Artinya, keahliannya diperoleh dari jalur pendidikan resmi sebuah perguruan tinggi terakreditasi.  Dokter Mueenlah salah satunya, in syaa Allah.  Perlu diketahui bahwa banyak dokter di Gaza, dikarenakan sulitnya akses pendidikan dan perjalanan ke luar negeri, maka mereka belajar sebuah keahlian secara mandiri, dari ilmu yang diberikan oelh teman sejawatnya yang lebih senior.  Demikianlah….

Suka atau tidak suka, Aya dan adik-adiknya harus kembali ke Gaza.  Palestina menunggu kedatangan mereka kembali.  Merekalah generasi harapan untuk meraih kemerdekaan.  Meskipun, siapakah yang suka kembali ke tempat penuh peperangan dan bom setelah merasakan hidup nyaman di Indonesia? Ucapan dan perasaan Aya dan Zaina sungguh manusiawi……  Namun orang tuanya telah menyiapkan dan mengondisikan hal ini terus menerus.  Sejak lama mereka memompakan semangat itu.  Dan kenangan tentang Indonesia, bahasa, suasana, makanan, dan orang-orangnya tidak akan terlupakan oleh mereka.  In syaa Allah.

Palestina Merdeka!!!

#catatan silaturrahim dengan mahasiswa Palestina penerima beasiswa BSMI

 

 

Ibu Hamil Kembar Berpuasa di Bulan Ramadhan.

Selamat datang di bulan istimewa.  Ramadhan Great Sale!! Allah mengobral pahala, obral ampunan yang semestinya diburu oleh setiap orang .  Kehadirannya dinantikan dan terasa berat di saat usainya.  Setiap orang ingin mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dari bulan berkah ini.  Tak terkecuali para ibu hamil.  Bahkan terkadang mereka seolah “lupa” bahwa di dalam tubuhnya terdapat sesososk makhluk hidup yang keberlangsungan pertumbuhannya 100 % dari ibunya.  Di bawah ini adalah cuplikan dari tanya jawab dari majalah OASE yang saya gawangi, terkait hal tersebut  

 

Assalamu’alaikum Wr Wb,

Pertama-tama, saya ucapkan salam jumpa kepada Dokter Prita Kusumaningsih, Sp.OG selaku pengasuh rubrik Kesehatan Wanita majalah OASE. Saya Ibu Vira dari Bintaro, Tangerang. Saat ini sedang hamil anak pertama dengan usia kandungan 4 bulan. Dari hasil USG, insya Allah calon bayi kami kembar. Yang ingin saya tanyakan apakah saya dapat melakukan puasa Ramadhan? Terus terang dok, saya ingin sekali puasa Ramadhan, namun  ada rasa khawatir terhadap perkembangan janin yang saya kandung. Apakah berpuasa Ramadhan akan berpengaruh terhadap kesehatan fisik saya dan bagaimana pula asupan gizi calon bayi yang saya kandung serta  perkembangannya selama Ramadhan? Sedikit informasi dok, di usia 0-2 bulan kehamilan saya yang lalu, saya sempat bedrest karena mual secara  terus-menerus dan tidak mampu masuk makanan apapun selain yang berbentuk cair (hanya air dan sedikit jus).  Mohon penjelasannya dok? Atas jawabannya, saya ucapkan terima kasih.

 

Wa’alaikum salaam wr. Wb

Saya yakin pertanyaan bu Vira juga menjadi pertanyaan banyak ibu hamil yang berkeinginan menjalankan ibadah puasa.  Sedangkan tak sampai sebulan lagi kita akan memasuki bulan suci, Ramadhan Kariim.

Mengenai manfaat puasa tentu kita semua sudah mengetahuinya, dan sudah banyak pula bahasan yang mengupas tentang hal ini.  Apalagi di dalam agama kita, puasa tidak hanya bermanfaat secara medis, namun terkandung pula nilai ibadah yang sangat besar.  Sehingga sungguh beruntunglah mereka yang mendapatkan kesempatan untuk menjalankan ibadah spesial ini. 

Memang, meskipun termasuk dalam golongan yang diperbolehkan untuk tidak berpuasa, keinginan untuk menjalankan ibadah puasa di kalangan ibu hamil saya tengarai  cukup tinggi.  Semoga hal ini memang dilandasi oleh semangat ketaqwaan dan bukan karena rasa “malas” dikarenakan sudah terbayang-bayang akan kewajiban mengganti hari-hari puasa yang banyak di saat-saat ke depan. Hasil penelitian di beberapa negara, puasa yang dijalankan oleh ibu hamil yang SEHAT, ternyata tidak menimbulkan dampak buruk bagi janin yang dikandungnya.

Ibu Vira, saya perkirakan nanti di bulan Ramadhan usia kehamilan ibu sudah menginjak bulan ke 5.  Artinya, ditinjau dari segi usia kehamilan, sudah memasuki masa ‘aman’. Namun ada beberapa faktor lain yang perlu dipertimbangkan apabila ibu memutuskan untuk menjalankan puasa, antara lain: berapa berat badan ibu sebelum hamil? Dan berapa kilogram pertambahan berat badan selama 5 bulan ini? Apakah kenaikan berat badan tersebut sudah sesuai, mengingat pada saat hamil 0-2 bulan yang lalu ibu mengalami penurunan berat badan?  Apakah ibu menderita anemia (kurang darah)? Apakah nafsu makan ibu baik dan kebutuhan terhadap makanan bergizi dapat dipenuhi dengan baik? Apabila jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut positif, maka Insya Allah ibu boleh mencoba berpuasa.

Sebenarnya, kehamilan kembar sendiri sudah masuk kategori kehamilan risiko tinggi.  Oleh karena itu, selain menjawab pertanyaan-pertanyaan saya di atas, komunikasikan keinginan ibu untuk berpuasa kepada dokter yang merawat kehamilan selama ini.  Karena bagaimana pun juga beliaulah yang paling mengetahui kondisi kesehatan ibu.

 

Apabila ibu sudah mendapatkan ‘lampu hijau’ untuk menjalankan ibadah puasa, maka perlu diingat beberapa rambu-rambunya, yaitu :

  • Segeralah berbuka dan lambatkanlah makan sahur.
  • Perhatikan kecukupan gizi dan kebutuhan cairan.
  • Waspadai tanda-tanda dehidrasi dan hipoglikemia (penurunan kadar gula darah), yaitu keluar keringat dingin, gemetar, lemas tak bertenaga, sakit kepala atau pusing berkunang-kunang. Apabila ibu mengalami kondisi tersebut, segeralah berbuka.  Jangan merasa sayang dengan puasa yang sudah dijalani sebagian dan merasa ‘nanggung’.

 

Nah, ibu Vira, semoga setelah membaca jawaban saya ini dan setelah berdiskusi dengan dokter, ibu dapat mengambil keputusan yang tepat.  Selamat beribadah di bulan Ramadhan.

Wassalaamu’alaikum wr. wb