Normalkah Mual dan Muntah Saat Hamil Muda?

Simak penjelasan tentang mual dan muntah selama hamil terutama hamil trimester 1 di tautan berikut ini. Penjelasan meliputi penyebab mual dan muntah dan bagaimana mengatasi secara sederhana di rumah. Selain itu saya jelaskan juga tanda-tanda bahaya yang harus dikenali agar tidak terlambat dalam mencari pertolongan ke fasilitas kesehatan.

Tak lupa, kiat-kiat bagaimana berselancar di tengan gelombang rasa yang mengaduk-aduk lambung. Bagaimana memilih makanan dan jenis apa yang sementara sebaiknya dihindari.

https://republika.co.id/berita/qlc3qg483/normalkah-mual-dan-muntah-saat-hamil-muda

BAGAIMANA MERAWAT JAHITAN PASCA PERSALINAN NORMAL?

“Dapat jahitan berapa?” tanya seorang ibu kepada anak perempuannya yang baru saja melahirkan.

Kok bayimu kecil jahitannya banyak yah? Bayiku kemarin lahirnya tiga setengah kilo tapi aku gak ada jahitan, tuh”, celoteh Gina seorang ibu muda kepada sahabatnya lewat percakapan whatsapp.

“Dokter, nanti jahitan saya bakal jadi daging, tidak ya?”

“Awas, jangan jongkok atau duduk di bawah, ntar jahitannya gak jadi, lho”

“Jangan makan ikan, bikin jahitan basah. Lama sembuhnya!”

*****

Waah, bicara tentang jahitan memang seolah tak ada habisnya. Uniknya, dari jaman puluhan tahun yang lalu  sampai sekarang tema yang dibahas kesannya itu-itu saja.  Padahal, ini bukan jahitan model baju yang memang ada musimnya. Baju jaman tahun 90an berbeda dengan model jaman tahun 2020 seperti sekarang.  Sama sekali bukan.  Yang dibicarakan ini adalah jahitan pasca persalinan, khususnya persalinan normal.  Ternyata bukan hanya operasi yang pakai jahitan.  Lantas apa yang mesti dijahit pada persalinan normal?

Pada persalinan normal, bayi lahir melalui vagina sebagai jalan lahir.  Rata-rata bayi mempunyai berat lahir lebih kurang 3000 gram.  Kepala merupakan bagian bayi dengan diameter terbesar, yaitu antara 9 – 9,5 cm.  Kepala dengan diameter di atas 9,5 cm, masuk kategori “besar”.  Selain itu komposisi kepala sebagian besar merupakan bagian keras (tulang).  Otomatis dinding vagina yang terdiri dari otot harus “melar” sesuai dengan diameter kepala bayi.  Meskipun di lain pihak, ukuran kepala bayi pun bisa menyesuaikan dengan jalan lahir.  Bagaimana caranya? Allah menciptakan tengkorak bayi bukan satu tulang utuh, melainkan beberapa tulang yang saling menyambung membentuk kepala.  Sambungan tersebut dinamakan sutura.  Pertemuan beberapa sutura membentuk bagian yang kita kenal sebagai ubun-ubun.  Dengan adanya sutura ini, maka kepingan-kepingan tulang tengkorak bisa saling tumpang tindih.  Peristiwa ini disebut “penyusupan” (moulage).  Akibatnya ukuran kepala bisa agak mengecil, atau bahkan bisa tampak tidak simetris (peyang).

Kepala Bayi Lahir

Lahirnya kepala akibat adanya dorongan yang berasal dari kontraksi ditambah tenaga mengejan ibu.  Dorongan ini tidak main-main, karena bisa mencapai tekanan sebesar 30-50 mmHg!  Akibatnya bisa terjadi robekan pada jalan lahir.  Yang paling rentan adalah bagian perineum, yaitu area antara pintu vagina dan anus.  Area ini memang tipis dan sangat teregang sehingga mudah robek.  Pada persalinan pertama kali, perineum masih kaku, sehingga  menyulitkan lahirnya kepala.  Karena itu terkadang dokter/bidan membantu melebarkan dengan menggunting bagian perineum (episiotomi).  Pada persalinan berikutnya perineum sudah lebih lentur, sehingga episiotomi hampir tidak diperlukan lagi.  Namun demikian, robekan spontan masih sering sekali terjadi.  Nah, robekan perineum inilah yang mesti diperbaiki dengan jahitan.

Robekan pun ada gradasinya.  Dari yang paling ringan, grade 1 sampai yang paling berat, grade 4.   Pada gradasi yang paling berat ini, robekan bukan hanya mengenai perineum, namun sampai ke rektum dan otot lingkar anus. 

Apakah yang harus dilakukan di rumah untuk merawat jahitan perineum ini?

  1. Jaga kebersihan. Ini meliputi cebok sehabis buang air kecil dan – terutama – buang air besar.  Jangan khawatir, karena saluran untuk BAB dan BAK ini sama sekali berbeda dengan perineum dan vagina. Memang awalnya terasa nyeri dan sedikit bengkak, namun jangan menjadi penghalang untuk membersihkan dengan baik. Bersihkan dengan baik sampai ke lipatan-lipatan, karena sisa kotoran (feses) mungkin saja akan tersangkut di sana.  Jangan khawatir apabila teraba benang, karena benang itu akan rontok nantinya. 
  • Jangan tahan BAB.  Kerjakan buang air besar pada waktunya. Pada umumnya para ibu habis bersalin tidak langsung BAB pada keesokan hari pasca bayi lahir.  Ada 2 penyebab, pertama mungkin dilakukan pembersihan poros usus (rectum) dari feses menjelang persalinan, atau kemungkinan kedua karena kekhawatiran nyeri dan “jahitan terbuka” sehingga menahan BAB.  Yang bermasalah adalah tindakan menahan BAB ini, karena semakin ditahan konsistensi feses akan semakin keras.  Akibatnya saat  feses akan keluar akan makin terasa nyeri.
  • Cukup minum, jangan kurang dari 2500 cc per hari.  Kebutuhan cairan minimal ini wajib dipenuhi dan kalau bisa lebih.  Manfaatnya banyak.  Pertama, terjadi peningkatan kebutuhan cairan karena ibu dalam kondisi menyusui.  Selain cairan basal untuk metabolisme tubuh, juga tambahan cairan untuk bahan dasar ASI.  Kedua, cairan yang cukup akan mencegah terjadinya sembelit, sehingga akan memudahkan proses BAB
  • Diit tinggi protein.  Protein adalah zat pembangun, termasuk perbaikan jaringan yang rusak (baca: penyembuhan luka).  Karena itu tidak tepat bila ibu pasca bersalin jadi korban mitos “harus pantang telur dan ikan laut supaya lukanya tidak basah”.  Perlu dipahami, bahwa luka di areal perineum ya tidak mungkin kering.  Tapi justru di sinilah letak kebesaran Allah SWT, karena di areal basah dan tidak steril tersebut malah cepat sembuh.  Hal ini dimungkinkan karena daerah tersebut sangat kaya akan pembuluh darah.  Jadi yang perlu dipastikan kondisinya adalah kebersihan dan kecukupan protein.
  • Konsumsi suplemen.  Sesuai dengan namanya, maka suplemen sifatnya adalah melengkapi dan menambahkan.  Biasanya berupa multivitamin atau vitamin C dosis tinggi.  Suplemen ini akan membantu kebugaran ibu dan membantu proses penyembuhan. Seperti kita ketahui, bagi seorang ibu setelah selesai menjalani proses persalinan yang melelahkan bukan lantas bisa santai-santai rebahan, tapi tugas berat lain justru menanti.  Menyusui dan merawat bayi baru lahir sangat menyita waktu dan energi.  Karena itu penting keberadaan suplemen ini, disamping makan bergizi dan istirahat yang cukup
  • Konsumsi obat penghilang nyeri.  Memang ini tidak wajib, tetapi peranannya cukup penting.  Kenapa? Dengan tidak merasakan nyeri, in syaa Allah, seorang ibu akan bisa makan dengan nikmat dan beristirahat – walau sebentar – dengan nyaman.  Demikian juga dalam proses BAB, BAK beserta istinja’ (cebok)nya akan bisa bersih karena tidak merasakan nyeri.  Sehingga secara tidak langsung akan membantu proses penyembuhan.
  • Tetap bergerak.  Lho, katanya harus cukup istirahat. Kok malah disuruh tetap bergerak?  Begini, yang dimaksud tetap bergerak di sini adalah ibu tidak harus bedrest.  Tetaplah beraktivitas seperti biasa, jangan takut bergerak.  Tenang, jahitan tidak akan lepas hanya karena berjalan cepat, BAB jongkok, atau duduk di lantai.  Bahkan ibu dianjurkan melakukan olahraga ringan, semisal senam nifas.  Salah satu keuntungan bergerak atau mobilisasi adalah melancarkan sirkulasi darah,  yang pada akhirnya akan mempercepat penyembuhan.

Semoga setelah membaca tulisan ini, para ibu tidak takut dan khawatir lagi dalam menyikapi jahitan pasca persalinan normal. Wallahu a’lam

Salah Kaprah Lahiran Sesar

Di jaman sekarang, persalinan melalui operasi sesar sudah jamak.  Tidak dianggap aneh dan menakutkan lagi.  Walaupun persalinan normal melalui jalan lahir masih lebih baik dan lebih menguntungkan untuk ibu dan bayi.  Namun di masa pandemi, para dokter cenderung menghindari proses persalinan yang lama. 

Karena itu, para ibu yang terpaksa, mau tak mau harus menjalani operasi sesar demi keselamatan diri dan bayinya tidak perlu galau berlebihan.  Aneka mitos dan “katanya” yang bertebaran jangan terlalu dihiraukan.  Alih-alih ketakutan, lebih baik bertanya sampai jelas kepada dokter. 

Di bawah ini ada beberapa “mitos” terkait operasi sesar yang masih banyak penganutnya di kalangan para ibu.  Mari kita bedah satu persatu.

  • Persalinan operasi sesar enak di awal (karena tidak sakit), tapi tidak enak di belakang  (sakitnya pas sudah selesai operasi)

SALAH. Pasca sesar pasti dikasih obat penghilang nyeri oleh dokter.  Kalau pun sudah pakai obat tapi masih nyeri, maka tinggal lapor saja ke dokter sehingga dapat dilakukan penyesuaian dosis dan/atau jenis obat. Perlu dipahami juga bahwa untuk persalinan kedua dan seterusnya maka akan terasa nyeri seperti kontraksi yang berasal dari proses pengecilan rahim.  Nyeri ini jamak disebut after pain atau “his pengiring”.  Hanya pada persalinan pertama yang bebas dari after pain. Meski pada sebagian kecil pasien saya masih menjumpainya

  • Persalinan sesar lebih nyeri dibandingkan persalinan normal

SALAH.  Lho kok bisa operasi tidak nyeri? Ya, ini masih berhubungan dengan jawaban mitos nomor 1.  Nyeri pada operasi sesar dikendalikan sepenuhnya dengan obat-obatan.  Malahan, ada pasien yang karena banyak sekali alergi dengan obat penghilang nyeri, maka saya tawarkan untuk menghentikan semua obat pain killer, dan hasilnya…tetap tidak terasa nyeri.  Meski tanpa obat.  Rupanya bagi pasien tersebut, penderitaan akibat alergi jauh lebih berat dibandingkan dengan penderitaan nyeri operasi .

  • Persalinan normal lebih nyaman karena pasca lahiran bisa langsung jalan dan bergerak bebas

BENAR.  Nah, kenikmatan mobilisasi dini pasca persalinan normal memang tidak terbantahkan.  Bahkan sekurangnya dalam waktu 6 jam pasca persalinan normal diharapkan sudah bisa BAK sendiri di kamar mandi.  Pada pasien operasi sesar hal ini laksana mimpi.  Jangankan jalan, duduk pun menunggu minimal 12 jam pasca operasi.  Berdiri dan berjalan baru diijinkan minimal 18 jam pasca operasi.  Ini salah satu faktor ketidaknyamanan yang mesti diinformasikan sebelumnya.  Apa penyebabnya? Ternyata bukan karena operasi, melainkan karena proses pembiusan yang melalui rongga sumsum tulang belakang.  Apalagi bila proses pembiusan tidak bisa sekali masuk.  Biasanya karena ibu gemuk atau kelainan pada tulang belakang (skoliosis).  Dampak yang dikhawatirkan adalah sakit kepala dikarenakan kebocoran cairan serebrospinalis.  Bagaimana kalau sudah mentaati jadwal mobilisasi namun tetap merasakan nyeri kepala? Tenang. Hal yang pertama adalah lapor kepada dokter, karena biasanya akan diberikan obat tambahan.  Kedua, lebih banyak berbaring daripada posisi tegak.  Ketiga, banyak minum.  Dan keempat, kalau suka boleh minum kopi (Coffeelover pun bersorak gembira)

  • Habis operasi dilarang makan ikan laut dan telur

SALAH .  Ini termasuk mitos kuno dan awet.  Kuno, karena mitos ini sudah beredar semenjak saya masih kuliah. Dan awet, karena sampai jaman millennial begini masih juga bertahan.  Hitung2 sudah puluhan tahun usianya.  Jadi begini, untuk mendukung penyembuhan luka operasi yang paripurna dibutuhkan zat pembangun, yaitu protein. Utamanya protein hewani.  Nah, sumber utama protein hewani adalah telur, daging, ikan.  Bagaimana kalau pemasok utama protein malah dipantang? Apalagi kalau ditambah dengan anemia.  Sungguh pasangan yang serasi (pantang protein dan kurang darah) untuk menghasilkan infeksi luka operasi.  Catatan, ini bahkan berlaku untuk persalinan normal yang ada jahitan. Ada pun mitosnya berbunyi sebagai berikut, “Jangan makan telur dan ikan laut, ntar lukanya basah”.

  • Habis operasi tidak boleh pakai gurita/korset

SALAH.  Ibarat balon besar, setelah dikempeskan makan akan berkerut kisut keriput.  Demikian juga dengan perut bumil setelah 9 bulan lebih teregang maka setelah bayi lahir akan menggelambir dan keriput.  Saat berjalan, gelambiran dinding perut tersebut akan bergoyang-goyang.  Tidak jarang, goyangan tersebut menimbulkan sensasi nyeri.  Tindakan memfiksasi dinding perut dengan gurita atau korset akan membuat lebih nyaman.  Memasang gurita/korset tidak perlu seerat mungkin namun sampai senyamannya saja.  Jangan khawatir akan luka operasi, karena Allah yang akan menyembuhkannya.  Akan tetapi jangan mengharapkan pula bahwa setelah memakai gurita perut akan langsing seketika.

  • Habis operasi tidak boleh IMD

BENAR.  Kalau yang dimaksud Inisiasi Menyusu Dini (IMD) adalah setelah bayi lahir langsung dipeluk oleh ibunya, dikeringkan dan dibersihkan di atas dada ibu, bahkan sampai diadzankan tetap di atas dada ibu.  Pada persalinan sesar, hal ini tidak dapat dilakukan atau dilakukan namun tidak optimal.  Kenapa? Karena pada  pelaksanaan operasi, dokter kebidanan bekerja di perut ibu sedangkan dokter anestesi mengawasi dan memastikan si ibu dari bagian atas.  Dokter anak, yang bertanggung jawab atas kondisi bayi juga tidak bisa mengawasi dengan baik.  Sehingga pelaksanaan dan area utk IMD menjadi sangat minimal.  Lagipula tidak semua dokter mengikhlaskan area kerjanya ‘dibajak’ oleh bayi yang sedang proses IMD.  Jangan berpikir negatif dulu, semua itu karena para dokter wajib bertanggung jawab sepenuhnya atas kondisi pasien.  Sehingga diambil jalan tengah yaitu menunda proses IMD sekitar 30 menit. Memang tak sempurna, tapi masih lebih baik dibandingkan tidak sama sekali. Namun bila yang bersalin adalah ibu terkonfirmasi positif Covid19 maka proses IMD ditiadakan, demi keselamatan bayi yang baru lahir. Meskipun demikian pemberian ASI Eksklusif tetap diperbolehkan dengan ibu mengenakan masker dan face shield

  • Darah nifas pasca operasi sesar lebih sedikit/lebih cepat berhenti dibandingkan dengan lahiran normal

BENAR, tapi bisa juga salah.  Sering saya temui ibu pasca sesar yang melaporkan dengan sedikit heran karena merasa nifasnya lebih cepat selesai.  Apalagi bila si ibu juga sudah pernah melahirkan normal sehingga bisa membandingkan.  Mungkin saja benar, karena pada saat berlangsungnya sesar ada tahapan membersihkan dinding rahim juga.  Mungkin tindakan ini yang menyebabkan nifas lebih cepat selesai.  Meskipun tak jarang juga yang  mengatakan bahwa nifasnya sama saja dengan persalinan sebelumnya yang berlangsung normal.

  • Habis operasi tidak boleh mandi dulu sampai balutan dibuka

SALAH, tapi bisa juga benar.  Kapan boleh mandi guyur dengan membasahi balutan belas operasi, sebenarnya tergantung dari jenis pembalut yang digunakan.  Ada pembalut yang bersifat tahan air (water proof), ada juga yang tidak.  Karena itu harus ditanyakan terlebih dahulu kepada dokter/bidan, kapan boleh mandi guyur.  Namun yang saya temui justru sebaliknya.  Si ibu sudah dipesan boleh mandi seperti biasa di rumah, namun ternyata tetap tidak berani melakukannya.  Dengan alasan, “takut”.

  • Jarak dengan kehamilan berikutnya tidak boleh terlalu dekat

BENAR, kalau menginginkan persalinan berikutnya mencoba menjalani VBAC (vaginal birth after caesarean section) atau persalinan pervaginam (normal) pasca persalinan sesar.  Berapa tahun jarak yang ideal? Tidak usah terlalu lama, cukup menyelesaikan pemberian ASI selama 2 tahun baru kemudian hamil lagi.  Sehingga jarak minimal antar kelahiran adalah 2 tahun 9 bulan.  Bagaimana bila “kebobolan”? Bila perhitungan “spacing”nya adalah kurang dari 18 bulan, maka persalinan berikutnya tetap dengan operasi sesar.  Perlu diketahui bahwa prosedur VBAC hanya bisa dilaksanakan apabila persalinan sesar baru 1X dijalani.  Apabila sesar sudah 2X maka VBAC menjadi kontra indikasi

SEKALI SESAR TETAP SESAR

SALAH.  Dengan adanya kesempatan untuk VBAC , maka adagium “Sekali Sesar Tetap Sesar” menjadi tidak berlaku.   [nin]

NB. Tulisan ini sudah dimuat di Republika Online https://republika.co.id/berita/qgj14i483/pahami-mitos-terkait-persalinan-caesar


HAMIL TERSEMBUNYI (cryptic pregnancy)

Seperti namanya, hamil tersembunyi (cryptic pregnancy) ini memang benar-benar tersembunyi, alias tidak disadari oleh si wanita.  Meskipun tampaknya tidak mungkin, namun nyatanya peristiwa ini beberapa kali terjadi.  Yang terbaru dan sempat viral, ada di sini

Saya jadi teringat kejadian yang dialami tetangga (almarhumah) sebelah rumah, puluhan tahun silam.  Beliau seorang ibu dengan perawakan gemuk yang selalu tampak riang gembira. Anaknya 1 orang duduk di kelas 6 SD.  Siapa sangka bahwa saat malam hari ia pergi ke klinik karena diare, mendadak di pagi harinya kami dengar kabar bahwa beliau melahirkan bayi perempuan.  Meskipun kelahiran itu disambut dengan gembira – karena tidak nyangka bakal punya anak lagi setelah 12 tahun – namun tak urung  tetangga sekitar heboh juga. Bagaimana mungkin tidak menyadari adanya kehamilan? Kemana saja selama sembilan bulan?

*****

Sebenarnya apa yang terjadi?  

Cryiptic pregnancy sebetulnya adalah kehamilan normal seperti biasa hanya saja tidak disadari oleh si wanita. Pertanyaannya, mengapa sampai tak disadari?

Ada beberapa kondisi yang membuat seseorang tidak menyadari adanya kehamilan, yaitu :

  1. Siklus haidnya panjang, sehingga yang bersangkutan sering mengalami terlambat haid
  2. Atau kondisi sebaliknya, selama hamil masih mengalami haid meskipun darahnya sedikit/hanya berupa vlek
  3. Saat trimester 1, tidak mengalami mual muntah, atau gangguan lain sebagaimana umumnya wanita hamil.  Ada juga yang mengistilahkan dengan “hamil kebo”
  4. Gerak janin dan pembesaran perut juga tidak terlalu ditengarai.  Bisa karena gemuk, atau karena tidak terlalu perhatian. Orang di sekelilingnya pun biasanya juga tidak menengarai.  Kalaupun ada yang bertanya apakah dirinya hamil, sudah pasti akan dibantah oleh si ibu.
  5. Diduga ada masalah psikologis yang mendasari sehingga sebenarnya di alam bawah sadar si ibu “menolak hamil”

Apa akibat yang bisa ditimbulkan dari Cryptic Pregnancy ini?

  1. Karena tidak menyadari bahwa dirinya hamil, sudah pasti si ibu tidak datang ke layanan kesehatan untuk kontrol hamil. Bisa saja ada anemia atau hipertensi yang tidak terdeteksi .
  2. Janin pun ada potensi terlantar.  Tumbuh kembangnya tidak terkotrol.  Adanya gangguan dan komplikasi kehamilan tidak bisa diketahui
  3. Saat tiba hari persalinan, tidak ada persiapan yang dilakukan sebelumnya.  Sehingga keluarga mungkin terkaget-kaget.   Bisa saja terjadi kelainan letak, atau komplikasi persalinan lain yang tidak terdeteksi atau diantisipasi sebelumnya.
  4. Di jaman millennium dimana sebuah berita bisa diketahui orang banyak dalam hitungan detik, maka kasus seperti ini sangat mudah menjadi viral. Apalagi kalau judul beritanya dibuat bombastis, dan diberi bumbu-bumbu penyedap oleh wartawan.  Ini menuntut kebijakan dan kedewasaan kita dalam menyikapinya. Berpikirlah seribu kali sebelum menyebarkan sebuah berita. Atau istilahnya “saring sebelum sharing”. 

Wallahu a’lam (nin)

Hamil Semu

Kisah pertama

Pada suatu hari di ruang praktek, seorang ibu setengah baya datang mengantar anak perempuannya.  Baru saja duduk, ia langsung laporan. “Dok, ini bagaimana anak saya hamil sudah sepuluh bulan namun belum ada tanda-tanda mau lahir? Tolong diperiksa ya, dok. Karena ada sepupu dan tetangga yang usia hamilnya lebih muda dari dia sudah pada lahir bayinya”, ibu bercerita setengah mengadu setengah memohon.

Maka wanita muda usia 27 tahun itu pun saya persilakan berbaring di tempat tidur periksa.  Pada pemeriksaan perut, ternyata tidak teraba puncak rahim.  Ah, mungkin karena gemuk, dinding perut tebal, jadi tidak jelas perabaan rahimnya, batin saya.  Memang dari tulisan di rekam medik tertera berat badan 85 kg. Cukup gemuk untuk tinggi badan sekitar 155 cm.  

Agak kaget juga saat saya lakukan pemeriksaan USG, karena ternyata rahim berukuran normal.  Artinya tidak ada kehamilan. Di luar rahim pun tidak diketemukan janin.  Wah, jangan-jangan pseudocyesis  alias hamil palsu.  Untuk lebih meyakinkan  lagi, saya minta periksa laboratorium test pack.  Apa boleh buat, ini salah satu bukti otentik untuk ditunjukkan kepada pasien.  Dan betul ternyata…..test pack menunjukkan garis 1 alias negatif!

*****

Kisah kedua

Di kamar bersalin, saat menulis laporan usai menolong sebuah persalinan, ibu pasien mendekat tampak ingin mengucapkan sesuatu.  “Dok, itu kemenakan saya kan sedang hamil”, ujarnya sambil menunjuk ke seorang wanita di sebelah pasien.  “Tapi anehnya, dia dilarang periksa ke dokter”. Padahal hamilnya sudah jalan 5 bulan…”

“Lho siapa yang melarang? Kalau dilarang ke dokter, ya periksa ke bidan juga tidak apa-apa”, saya jawab sambil terus menulis

“Dok, dia kan hamil setelah berobat ke orang pintar. Nah, orang pintar itulah yang melarang dia periksa.  Katanya, kalau sampai ketahuan dia periksa kehamilan maka janinnya akan hilang!”

“Waduh!  Saya malah khawatir.  Yang begitu itu justru harus periksa, bu”.

“Apa yang dikhawatirkan, dok”, desak si ibu penasaran.

“Saya khawatir……………..ponakan ibu jadi korban penipuan!”

Dan beberapa pekan kemudian – entah bagaimana caranya – ibu pasien itu berhasil mengajak sang kemenakan berkonsultasi.  Rupanya dia curiga juga karena sudah hampir hamil 6 bulan kok perut tidak tampak membuncit.  Dan, terbuktilah kekhawatiran saya.

*****

Pseudocyesis  (hamil semu), dikenal juga dengan hamil palsu  (pseudopregnancy) adalah suatu kondisi dimana seorang wanita merasa dia sedang hamil, padahal tidak.  Anehnya, wanita tersebut mengalami gejala yang umum dialami  oleh perempuan hamil.  Misalnya terlambat haid, perut membesar, mual dan muntah. Bahkan bisa terasa juga “gerakan janin”.  Ditambah lagi, orang-orang di sekelilingnya juga mempercayai “kehamilannya” itu. 

Ketahuannya cukup mudah, yaitu tatkala ia datang ke dokter atau bidan maka tidak didapatkan pembesaran rahim atau bunyi jantung janin. Ibu bidan yang curiga biasanya juga merujuk ke dokter kandungan untuk diperiksa USG. 

Kasus pseudocyesis ini sebenarnya adalah kasus gangguan psikologis.  Kalau di negara barat kejadiannya cukup jarang , yaitu sekitar 6 kasus dari 22 ribu kehamilan.  Mungkinkan di negeri-negeri Asia lebih sering? Biasanya terjadi pada wanita yang sangat mendambakan kehamilan,  diperberat dengan lingkungannya, yaitu orang-orang di sekitarnya yang selalu menanyakan apakah dirinya sudah hamil belum? Nah, yang punya hobi tanya-tanya “sudah isi belum” hanya untuk iseng pengisi waktu, hendaknya mengganti pertanyaan dengan yang lebih mutu ya.  Bisa juga dialami oleh wanita yang sering keguguran, atau baru kehilangan  orang yang dicintainya.  Terlalu sering ditanya kehamilan atau punya beban psikis yang berat karena tak kunjung hamil juga bisa membuat seseorang “pendek pikiran”. Ambil jalan pintas pergi ke dukun alias orang pintar.  Makanan empuk, setelah berbagai persayaratan aneh yang tidak gratis, akhirnya “bisa hamil” namun dengan syarat seperti yang saya jelaskan di atas.  Anehnya, dukun seperti itu banyak juga pasiennya.  Nah, di sinilah diperlukan penguatan akidah.  Mendatangi dukun ini berbahaya.  Jangan sekali kali dilakukan dan jangan mendorong orang lain untuk berbuat syirik

“Barangsiapa mendatangi ‘arrâf lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, tidak akan diterima darinya shalat 40 hari”. [HR. Muslim]

Referensi: https://rumaysho.com/6787-hukum-mendatangi-tukang-ramal-dan-membaca-ramalan-bintang.html

Penjelasan ‘arraf adalah  orang yang mengaku bisa tahu tempat barang yang dicuri, barang hilang, atau sesuatu yang belum terjadi

Namun bisa juga, seorang wanita mengira dirinya hamil, namun setelah diperiksa ternyata bukan  pembesaran rahim melainkan tumor . Nah, yang seperti ini tugas dokter (bukan orang pintar)  untuk tindakan selanjutnya. [nin]  

AIR KETUBAN ATAU AIR SENI?

Di akhir masa kehamilan, selalu saya pesankan kepada para bumil untuk mewaspadai kemungkinan terjadinya KETUBAN PECAH DINI (KPD), yakni pecahnya selaput ketuban yang diikuti dengan rembesan air ketuban namun tidak segera diikuti dengan terjadi persalinan. Kondisi ini dapat memicu terjadinya infeksi, karena sejatinya selaput ketuban berfungsi sebagai barrier atau penghalang kontak antara janin dan dunia luar yang penuh kuman . Normalnya, ketuban baru pecah tatkala bayi akan lahir, bahkan pada banyak kasus diperlukan tindakan khusus untuk memecahkan selaput ketuban itu, namanya “Amniotomi”.

Rupanya, peringatan saya itu membuat “parno” juga. Tidak apa-apa sih sepanjang parnonya masih dalam konteks kewaspadaan. Saya mewanti-wanti bukan tanpa alasan. Tidak sedikit kasus KPD datang dengan disertai demam atau ketuban sudah keruh. Ini pertanda infeksi ! Ternyata memang ketuban sudah dirasakan merembes sejak satu hari sebelumnya. Bahkan lebih. Kenapa tidak langsung datang ke RS begitu pertama kali mendeteksi adanya rembesan? Macam-macam kemungkinannya.

  1. Ibu merasa keluar ketuban sebelum persalinan itu wajar dan normal. Baru tergerak untuk berangkat tatkala sudah “mules” teratur namun sementara itu infeksi sudah berproses.
  2. Merasa belum keluar “tanda”. “Tanda” yang dimaksud adalah – biasanya – keluarnya darah lendir
  3. Si ibu tidak menyadari bahwa cairan yang keluar dari jalan lahirnya adalah ketuban. Dikiranya air seni atau keputihan biasa. Umumnya yang bikin rancu begini adalah bila cairan ketuban keluarnya sedikit-sedikit . Beda bila cairan ketuban keluar langsung banyak. Biasanya saya bertanya, apakah air sampai menembus baju? Membasahi sprei? Atau bahkan berceceran di lantai?

Nah untuk mencegah terjadinya KPD yang berujung ke infeksi, maka penting kiranya kemampuan untuk membedakan apakah cairan yang keluar dari jalan lahir itu adalah cairan ketuban, cairan keputihan, atau air seni. Mari kita pelajari sifat masing-masing cairan tersebut.

Cairan ketuban, konsistensinya adalah AIR. Warnanya bisa jernih, atau agak putih seperti air tajin/cucian beras. Kalau misalnya keluar air berwarna hijau atau kuning kehijauan, maka itu pertanda air ketuban telah bercampur dengan mekonium (feses awal) bayi. Bahaya! Segera ke RS

Air ketuban tidak berbau, atau ada sedikit aroma amis. Saat keluar prosesnya tidak bisa ditahan, dan akan keluar terus menerus, baik sedikit maupun banyak.

Bedanya dengan keputihan. Keputihan sifatnya lendir. Jadi terasa agak lengket, terkadang (tidak selalu) ada gumpalan seperti tepung. Warna bisa putih atau kekuningan. Umumnya keputihan tidak sampai menembus ke baju atau sampai berceceran ke lantai.

Sedangkan air seni, sudah pada mafhum semua untuk kekhasan warna dan baunya. Selain itu yang penting diamati atau dirasakah adalah adanya sensasi “kebelet” . Meskipun terkadang menetes, tetapi umumnya pengeluaran air seni masih bisa ditahan.

Bila masih sulit, ada beberapa tes untuk membedakan cairan-cairan tersebut.

  • cobalah berubah posisi dari berbaring ke duduk atau berdiri. Bila saat perubahan posisi tersebut air dirasa semakin mengalir, maka kemungkinan besar itu ketuban
  • air ketuban sifatnya basa. Bila di rumah ada pH meter atau kertas lakmus maka bisa dilakukan uji asam basa pada cairan yang dicurigai. Namun ingat, jangan sampai terkontaminasi dengan air sabun ya, karena bisa menyebabkan reaksi basa palsu.
  • jalan yang terbaik adalah mengunjungi fasilitas kesehatan apabila merasa ada cairan yang keluar lalu ragu atau sulit untuk menentukan jenis cairannya.

HABIS LAHIRAN HARUSKAH PAKAI GURITA?

“Sudah pakai korset eeeh…kok pas dibuka perutnya masih besar yah?”

“Kalau lahirnya sesar boleh gak sih pakai gurita?”

“Aku disuruh pakai bengkung (stagen) ….biar rahimnya gak turun. Duuuh…ribetnyaa!”

“Dokter, memang kalau kita habis lahiran wajib gitu pakai korsetnya?”

Begitulah aduan kasus para ibu yang baru saja selesai melahirkan. Di Indonesia, memang sudah jamak para ibu memakai gurita pasca bersalin.  Di negara lain, belum tentu.  Ambil contoh seperti Pakistan dan Bangladesh, mereka tidak mengenal gurita. Para wanita di Pakistan biasa mengenakan celana panjang.  Di lain pihak banyak wanita yang tidak memerlukan pakaian khusus pasca bersalin.

Lalu pertanyaannya, sebetulnya apakah fungsi gurita atau korset tersebut? Benarkah bisa membuat perut kembali langsing dan singset seperti sediakala?  Untuk menjawabnya kita ibaratkan sebuah balon, saat balon besar dikempiskan, maka kita akan jumpai balon kempes yang keriput.  Nah, demikian juga dengan dinding perut.  Setelah teregang selama berbulan-bulan, maka tatkala bayi lahir elastisitas kulit tidak bisa langsung pulih.  Jangan kaget melihat tampilan dinding perut setelah bersalin yang sungguh tidak sedap dipandang.  Warnanya jadi lebih gelap, goyor, keriput, berkerut kerut.  Sangat jauh berbeda dengan kondisi sebelum hamil. 

Apakah pemakaian gurita bisa mencegahnya? 

Pemakaian gurita, korset, atau setagen fungsinya untuk  memfiksasi perut. “Membekap” perut sehingga dinding perut yang masih goyor tidak bergoyang goyang tatkala beraktivitas.  Terkadang goyangan dinding perut itu membuat nyeri.  Mungkin nyeri luka operasi atau nyeri kontraksi pengiring saat proses pengecilan rahim.  Dengan mengenakan korset, rasa nyeri berkurang.  Namun jangan kaget tatkala korset dibuka! Laaaah…kok perut masih besar? Memang gurita atau korset tidak berfungsi untuk mengecilkan.  Ini perlu dipahami.  Tapi kalau tampak ramping mungkin iya, untuk sementara saja. Ada pun kalau ingin perut kembali ramping secara nyata, maka jalan keluarnya adalah olahraga.  Bukan kamuflase dengan korset atau gurita.  Olahraga berupa senam nifas sudah bisa dikerjakan semenjak 24 jam pasca persalinan.  Adapun olahraga berat yang bersifat aerobik atau pembentukan otot, sebaiknya dimulai paling cepat setelah 6 pekan.

Berapa lama pakai korset atau gurita?

Ini pun tidak ada ketentuan yang pasti. Senyamannya saja.  Pemakaian bisa hanya 3 atau 7 hari atau sampai masa nifas selesai.  Tidak ada kewajiban memakainya sampai 40 hari atau bahkan 2 bulan. 

Pemakaian korset/gurita juga tidak ada hubungannya dengan cara persalinan.  Karena efek dinding perut goyor terjadi baik pada persalinan normal maupun sesar.  Memang kalau lahirannya secara operasi sesar ada bekas luka operasi di perut bawah, namun luka tertutup rapih.  Tidak masalah untuk pemakaian gurita sejak hari pertama pasca operasi.

Pemakaian korset/gurita juga tidak ada kaitannya dengan “rahim turun”. Pertama, sangat jarang ada kejadian rahim turun (prolaps rahim) pada wanita muda pasca persalinan, dan pemakaian korset juga tidak bisa mencegah (kalau pun terjadi) rahim turun.

Di beberapa daerah ada kebiasaan untuk mengaplikasikan “tapel”, yaitu ramuan rempah ditempelkan di perut.  Ramuan tersebut menimbulkan efek hangat.  Yang sederhana biasanya berupa campuran minyak kayu putih, kapur sirih dan jeruk nipis.  Sepanjang tidak ada efek alergi silakan saja kalau mau menggunakannya.  

Cara Benar Hitung Siklus Haid

Wanita diciptakan Allah dengan penuh keistimewaan yang tidak dimiliki oleh laki-laki. Salah satunya adalah adanya haid yang datang dengan teratur sebagai pertanda dimulainya aktivitas hormon-hormon kewanitaan .  Setelah mendapatkan haidnya yang pertama (menars) maka seorang gadis dinyatakan sudah baligh. 

Proses terjadinya haid tidak sederhana, bahkan bisa dibilang sangat kompleks.  Melibatkan beberapa organ tubuh dan beberapa jenis hormon yang masing-masing saling berinteraksi.  Ketidaksesuaian dari interaksi tersebut dapat berdampak ke proses terjadinya haid.  Bisa saja terjadi haid berkepanjangan atau bahkan tidak haid untuk beberapa lamanya. 

Berikut ini kriteria yang disepakati untuk sebuah haid yang normal.

Lama haid        : 3-7 hari

Banyaknya       : 2-5 pembalut per hari

Siklus                  : 21-35 hari

Untuk mengetahui haid seseorang termasuk normal atau tidak, maka harus diketahui cara menghitung siklus haid.  Meskipun saat ini sudah banyak aplikasi penghitung siklus haid, namun seyogyanya aplikasi tetap sebagai sarana untuk memudahkan saja.  Cara penghitungan yang sebenarnya tetap wajib diketahui.

Kebanyakan wanita menghitung siklusnya dari selesai haid.  Ini salah.  Cara yang benar adalah menghitung dari hari pertama haid sampai ke H-1 haid berikutnya. Diulangi menghitung sampai minimal 3 siklus. Baru setelah itu kita bisa tahu siklus pribadi kita.  Setelah ini silakan pakai aplikasi lagi

Selain siklus, kenali juga “bahasa tubuh” menjelang, saat, dan sesudah haid.  Apa yang dirasakan, baik secara fisik maupun psikis.  Kenali juga “model” darah yang keluar, baik warna, konsistensi, maupun baunya.  Ini akan memudahkan mendeteksi tatkala ada yang tidak normal.

Dianjurkan tidak berganti-ganti merk pembalut.  Dan lebih dianjurkan lagi memakai pembalut yang ramah lingkungan, yaitu pembalut kain. Untuk pembalut ini nanti ada tulisan tersendiri [nin]

Kiat Segera Hamil Pasca Nikah

Tak jarang sepasang suami istri muda datang berkonsultasi untuk – istilah mereka – promil (program hamil).  Mereka berdua masih muda, baik usia biologis maupun usia pernikahan.  Jadi terkadang saya godain, “Kenapa mesti cepat-cepat, nikmati saja dulu bulan madu kalian”.

Lain hari pasutri dengan istri sudah menjelang 40 tahun, bahkan lebih dengan usia pernikahan belasan tahun juga akhirnya berkonsultasi untuk promil. Nah, beda dengan pasangan muda tadi, kalau pasangan senior begini harus diseriusin.

Sebetulnya kapan waktu yang tepat untuk berkonsultasi masalah belum adanya kehamilan ini? Kalau menurut definisinya, pasangan subfertil (kekurangsuburan) itu adalah setelah menikah selama 1 tahun, serumah, hubungan intim teratur tanpa kontrasepsi namun  belum hamil.  Apalagi bila usia istri sudah di sekitaran 30 tahun, maka tidak perlu menunggu sampai 1 tahun. Kira-kira 6 bulan pasca nikah belum hamil, dianjurkan segera datang ke dokter kandungan.

Lalu apa kiat agar kehamilan segera datang?  

Dari pihak wanita (sebelum nikah):

  1. Ketahui dan catat siklus haid. Haid yang teratur 90% menunjukkan siklus ovulatoir (mengeluarkan sel telur/subur)
  2. Konsumsi asam folat 2 bulan sebelum terjadi pembuahan
  3. Stop konsumsi junk food
  4. Olahraga teratur
  5. Pertahan berat badan di IMT normal.  Kalau BB berlebih, segera turunkan dengan jalan olahraga, kurangi konsumsi karbohidrat dan gula
  6. Vaksinasi TT, anti HPV, Anti Hepatitis B
  7. MCU Pra Nikah

Dari pihak pria (sebelum nikah)

  1. Stop merokok
  2. Olahraga teratur
  3. Kendalikan berat badan di IMT normal
  4. MCU Pra Nikah

Setelah menikah

  1. Tetap dengan kebiasaan baik sejak sebelum nikah
  2. Hubungan intim teratur, 2-3 hari sekali
  3. Pertahankan BB di IMT normal .  Ini serius, karena banyak pasangan muda yang berat  badannya langsung meroket setelah menikah
  4. Jangan terlalu memasang target, yang ujung-ujungnya ada semacam kompetisi antar pasutri.  Kenapa saya belum hamil padahal saya nikah duluan? Kenapa mereka yang nikah belakangan malah sekarang sudah hamil?

Di atas semua kiat dan usaha, ada Allah Sang Pemilik kehidupan.  Dialah yang MahaBerkehendak , karena itu doa dan ibadah harus ditingkatkan oleh suami istri. Wallahu a’lam [nin] 

8 Kondisi yang Mengharuskan Anda ke Dokter Kandungan

Di saat wabah COVID19 ini segala aktivitas yang tidak penting dianjurkan untuk ditunda. Ini semata-mata untuk mengurangi peluang paparan dengan virus Corona, yang dengan demikian diharapkan akan memutus rantai penularan Covid19. Termasuk yang dianjurkan untuk ditunda adalah kunjungan ke dokter kandungan, baik untuk kontrol kehamilan maupun kasus lainnya. Apakah ke dokter kandungan termasuk golongan aktivitas yang kurang penting? Apakah kontrol hamil itu tidak penting? Bagaimana kalau terjadi “apa-apa” atau “kenapa-kenapa” terhadap janin saya?

Tenang. POGI, organisasi profesi para dokter obgin telah memberikan rambu2. Ada 8 kondisi terkait kehamilan yang mengharuskan bertemu langsung dengan dokter, seperti pada gambar di bawah ini.

  1. Muntah hebat terutama yang terjadi pada kehamilan trimester pertama. Mual dan muntah tersebut menyebabkan bumil merasa lemas tak bertenaga, tidak ada keinginan makan sama sekali, bahkan mengalami penurunan berat badan lebihd ari 5% berat badan awal.
  2. Perdarahan baik sedikit maupun banyak dari jalan lahir, tidak pandang usia kehamilan. Apakah itu disertai rasa nyeri maupun tidak.
  3. Kontraksi atau nyeri perut hebat. Kontraksi bersifat seperti kram/nyeri haid yang terasa nyeri yang hilang timbul. Atau nyeri perut yang menetap tidak kunjung hilang
  4. Pecah ketuban, berarti keluar air dari jalan lahir. Air keluar tanpa bisa ditahan, baik sedikit maupun banyak. Karena air (bukan lendir), maka biasanya mengakibatkan basah, bisa sampai ke baju, sprei, atau bahkan mengalir ke lantai
  5. Bila ibu hamil didapatkan hipertensi/preeklamsia maka wajib kontrol secara teratur. Minimal lakukan komunikasi intensif dengan RS/dokter. Bisa dengan sarana aplikasi meeting online atau tatap muka. Di rumah pantaulah gejala pada tubuh. Bila pembengkakan tungkai, tangan, dinding perut, nyeri kepala, nyeri ulu hati segeralah berkonsultasi
  6. Ada perubahan dalam pola gerak janin. Adalah normal apabila janin untuk sesaat atau beberapa saat tidak terasa gerak. Mungkin dia tidur. Bila dalam kurun waktu lebih dari 2 jam tidak terasa gerak, cobalah makan, bersantai (jangan lakukan aktivitas fisik), dan berikan rangsang bunyi. Bila tidak juga terasa gerakan maka segera hubungi RS. Atau bila yang terasa adalah gerakan pasif, yaitu saat ibu berubah posisi maka terasa janin seperti ikut bergerak “jatuh”. Bila ibu diam janin juga diam. Kondisi ini harus segera diperiksakan ke RS
  7. Kejang. Nah, kalau terjadi kejang atau tidak sadar, maka keluarga WAJIB membawa ke RS. Karena bumil sendiri sudah tidak berbuat apa2.

Demikianlah penjelasan tentang kondisi2 emergensi yang mengharuskan bumil bertatap muka dengan dokter. Bila terpaksa harus ke RS, sadarilah bahwa risiko terpapar lebih besar, karena itu wajib pakai masker. Seringlah cuci tangan pakai sabun. Jangan pegang sana pegang sini yang tidak perlu. Dan ingatlah untuk selalu jaga jarak. Beberapa RS sudah memasang sekat pembatas antara petugas dan pasien. Janganlah tersinggung. Juga jangan “baper” bila menjumpai dokter langganan yang selama ini ramah dan banyak ngobrol tiba2 pakai kostum astronot, bicara seperlunya saja, dan pemeriksaan berjalan cepat. Penggunaan masker ini penting karena selain mencegah terpapar dengan droplet (titik ludah mikro) juga mencegah kita menyentuh area wajah yaitu mulut, hidung dan mata, yang menjadi jalan masuk virus. Selebihnya #dirumahsaja dan tetap berdoa ya.