Stop !!! Jangan Masukkan Apa pun ke Dalamnya

Alih-alih keputihan hilang, yang ada malahan kemerahan dan kesakitan. 

Lho, bagaimana bisa?

Jadi siang itu masuklah seorang ibu berusia 30 an ke ruang praktek.  Wajahnya menyiratkan rasa nyeri.  Lantas mengalirlah cerita dari mulutnya.  Ini bermula dari sebuah penawaran tentang sebuah benda yang bisa menghilangkan keputihan.  Bahkan tak hanya itu, benda tersebut dinyatakan bisa mengencangkan serta merapatkan mrs.V (bukan miss V ya, karena ibu ini sudah mempunyai beberapa orang anak).  Dan yang menurut saya unik adalah cara pemakaiannya.  Begini, benda tersebut dipegang dan dimasukkan ke dalam mrs.V dan diputar-putar sebanyak 7 kali putaran.  Setiap malam.  Maka keesokan harinya yang terjadi adalah – menurut si pasien saya ini – dari dalam mrs. V keluarlah kotoran-kotoran yang berwarna putih, bentuknya tidak jelas, seperti sepihan-serpihan kecil begitu.  Demi melihat seperti itu, makin yakinlah si ibu bahwa penggunaan alat tersebut berfungsi membersihkan vagina.  Ditambah lagi, cairan yang biasanya membasahi organ kewanitaannya tersebut mendadak lenyap.  Terasa kesat dong, begitulah logikanya.  Begitu berlangsung berbulan-bulan lamanya.  Dan alat menyerupai batu kristal lonjong berwana hijau tosca keabuan tersebut makin lama makin tipis.

Apakah batu kristal hanya untuk  yang sudah menikah? Ternyata tidak.  Untuk gadis penggunaannya adalah dengan merendam batu tersebut beberapa menit dan kemudian air rendaman digunakan untuk membasuh kemaluan.  Efeknya konon sama, yaitu keluar kotoran dari miss V.

“Kalau sudah tipis nanti bisa beli lagi ke saya ya,bu”, pesan si penjual meyakinkan. Bagaimana tidak yakin lha wong penjualnya adalah petugas kesehatan yang kesehariannya berdinas di puskesmas setempat.  Maka berbekal keyakinan itulah dibelinya lagi kristal kedua meski dengan harga yang tidak bisa dibilang murah.  Beberapa lama makin tipislah kristal itu sebagaimana yang pertama.  Sampai di suatu malam, kristal tipis tersebut patah saat digunakan.  Mungkin karena saking tipisnya. Dicobanya mengambil patahan tersebut ke dalam vagina namun tidak berhasil.  Dan keesokan harinya dirasakannya bagian dalam organ intimya tersebut sangat nyeri, bahkan berdarah! Makin nyeri tatkala buang air kecil terkena aliran urine.  Sugguh menyiksa!

Sehingga sampailah beliau di hadapan saya.  Menempuh berkilometer jarak dari luar kota Jakarta. Alhamdulillah ada jalan bebas hambatan yang memperpendek jam tempuh. Dan  saat pertama kali  memeriksa, sungguh saya dibikin  terkejut demi mendapati dinding vagina yang iritasi berat, rapuh dan berdarah di beberapa tempat.  Bukan itu saja, nyerinya pun hebat sehingga ia menjerit tatkala disentuh.  Akhirnya pasien diputuskan dirawat, dikompres, diberi obat dan bertahap sisa-sisa serpihan diambil satu persatu.  Alhamdulillah pada hari ketiga, si ibu sudah dapat meninggalkan rumah sakit.

Sisa patahan kristal itu, saya simpan sampai sekarang.  Tak lupa saya mewanti-wanti agar jangan sekali-kali menggunakannya lagi.  Dan orang-orang terdekatnya yang ia ketahui memakai barang yang sama supaya dicegah melanjutkan pemakaian.

Memang kasus di atas adalah yang terberat yang pernah saya jumpai.  Sebelumnya kasusnya hanya infeksi sedang sampai ringan yang bisa diatasi dengan rawat jalan saja.

Hal yang mirip namun berbeda di bahan yang dipakai, kembali saya temui di ruang praktek.  Bahkan dalam sehari ada dua kasus, yang satu sudah menikah dan yang kedua masih gadis.  Kali ini bahan yang dimasukkan adalah butiran-butiran Manjakani (Quercus infectoria).  Tanaman ini memang dipercaya dapat mengurangi keputihan dan mengesatkan vagina.  Padahal dalam Wikipedia tidak disebutkan sama sekali fungsi tersebut.  Yang ada adalah fungsi anti infeksi, anti jamur dan anti peradangan. Reaksinya sama yaitu iritasi berat dalam vagina.  Si gadis pun – yang hanya menelan butiran-butiran sebesar merica tersebut – mengalami hal yang sama ditambah dengan nyeri pelvik.

Quercus_infectoria aka manjakani wikipedia

Manjakani (Quercus infectoria) sumber wikipedia

Kasus-kasus seperti ini tampaknya akan selalu berulang, dengan penggunaan aneka bahan.  Ada yang berbentuk batang kayu, disebut sebagai “tongkat” dan ada juga yang berupa pengasapan.

Untuk mencegahnya, perlu pengertian yang benar bagaimana sebetulnya organ intim kita itu bekerja. Sesuai dengan janji Allah yaitu menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (Al Qur’an surat At Tin ayat 4) , maka kaidah tersebut berlaku juga dalam penciptaan organ reproduksi atau yang kita kenal dengan organ intim.  Allah menciptakan keseimbangan asam basa dalam saluran vagina guna mempertahankannya tetap higienis.  Kondisi higienis tercapai bila pH vagina tetap rendah atau bersifat asam sehingga bakteri dan parasit pathogen yang menyebabkan infeksi tidak bisa berkembang biak.  Bagaimana caranya? Tidak perlu memasukkan apa pun ke dalam vagina karena Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah memerintahkan mikroba di dalam vagina sebagai “pasukan pembersih”.  Mereka adalah bakteri Doderlein sp. yang menghasilkan asam laktat sehingga pH vagina menjadi rendah.  Tugas kita hanyalah menjaga kesehatan sehingga daya tahan tubuh tinggi serta menjaga kebersihan lingkungan vagina.  Jangan mengganggu “tugas” bakteri Doderlein tersebut dengan memasukkan benda asing ke dalam vagina!

Lactobacillus_sp_01

Bakteri Doderlein dalam Sebuah Sel Epitel Vagina (sumber wikipedia)

Pada kondisi tertentu, terkadang kita perlu penjagaan ekstra.  Misalnya di saat haid, dimana adanya darah yang terus menerus akan meningkatkan pH dan memudahkan tumbuhnya jamur serta bakteri jahat.   Di saat rawan tersebut diperlukan nutrisi yang berkualitas, menjaga kebersihan dengan mengganti pembalut secara teratur serta bila perlu membasuh kemaluan dengan cairan yang mengandung asam laktat.  Saat rawan yang lain adalah saat kita sedang sakit, stress fisik dan/atau psikis, malnutrisi, atau anemia.  Dalam kondisi demikian, konsumsilah suplemen untuk menjaga daya tahan tubuh.

Jadi seharusnya bagaimana kondisi vagina yang sehat itu?

Ingat Allah memang menciptakan banyak kelenjar di sepanjang saluran kelamin.  Kelenjar-kelenjar  tersebut fungsinya memroduksi cairan sebagai pelumas.  Sehingga keadaan di dalam vagina memang selalu basah.  Kebasahan inilah yang muncul dalam berbagai gradasi.  Terkadang basah minimal, terkadang basah maksimal, berfluktuasi sesuai kadar hormon siklus haid.  Cairan masih dianggap normal apabila tidak sampai berlebihan, warnanya jernih atau agak putih, tidak berbau, tidak menimbulkan gatal, pedih, atau rasa panas di alat kelamin .    Yang perlu kita lakukan di saat cairan normal adalah membersihkan alat kelamin dengan air bersih, atau boleh juga dengan cairan pembersih mengadung asal laktat.  Bila tidak terpaksa tidak usah menggunakan panty liner.  Pastikan celana dalam terbuat dari bahan yang menyerap keringat.   Namun apabila merasa bahwa cairan keputihan ini adalah cairan yang abnormal, jangan ragu-ragu untuk pergi ke dokter.  [nin]

Iklan

1000 HARI PERTAMA KEHIDUPAN – periode emas yang tentukan masa depan

Galau dengan kondisi negeri ini? Ternyata kita bisa berperan serta memperbaiki kualitas anak bangsa.  Generasi idaman.  Generasi yang bukan saja pintar, namun lebih penting lagi adalah berakhlak mulia.   Takut kepada Allah sehingga ia akan taat kepada aturan agama dan selalu ingin berbuat baik kepada umat manusia dengan cara yang halal.

first-1000-days from www.farmacist.info

LOGO 1000 hari

 

Cita-cita besar, harus dipersiapkan dengan benar. Begitulah kaidahnya.  Bukan pekerjaan main-main.  Untuk itu proses persiapannya mencapai 1000 hari.  Terdiri dari 270 hari masa di dalam kandungan ditambah dengan usia 2 tahun pertama.  Mengapa kok sampai /  atau kok cuma 1000 hari?  Karena dalam 1000- hari tersebut adalah

1. Masa tercepat dalam perkembangan struktur otak manusia, meliputi proliferasi neuron, myelinisasi, diferensiasi (kompleksitas), dan konektivitas (sinaptogenesis).

2.Masa peletakan dasar status kesehatan dan tumbuh kembang (fisik dan psikis)

  1. Tumbuh kembang otak di masa janin akan mempengaruhi kemampuan dasar seperti penglihatan dan pendengaran, dan berkembang ke tingkat yang lebih tinggi di saat lahir.  Misalnya daya adaptasi, mempertahankan diri, atensi dll
  1. Masa dimana kebutuhan nutrisi terpenting harus terpenuhi
  1. Masa dimana otak sangat sensitif terhadap kekurangan nutrisi

(sumber : http://www.unicef-irc.org)

Jadi dasarnya adalah nutrisi…nutrisi…dan nutrisi.  Terutama di trimester 1 dimana si ibu biasanya mengalami penurunan nafsu makan, mual, muntah, pusing, dan macam-macam rasa tidak enak yang lain.  Padahal di masa itu pula terjadilah pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat pada buah kehamilan.  Bayangkan saja, mudigah yang hanya seukuran sebutir beras (7 minggu)  ternyata jantungnya sudah berdenyut sebanyak 160 kali permenit.  Dan di usia itu pula otak dan susunan saraf mulai dibentuk, jantung dan sistim peredaran darah mulai berfungsi, demikian pula sistim pencernaan, sistim ekskresi (pembuangan), dan sistim panca indra.

39-3c3afc738dfec7e0a4cb7b7c997fd36a from sarihusada

1000 HARI

sumber : sarihusada.jpg

Hikmahnya, rasa mual membuat calon ibu tidak makan sembarang makanan. Ada keinginan kuat terhadap makanan tertentu yang biasanya tidak doyan sebenarnya adalah alarm kebutuhan tubuh terhadap nutrisi tertentu.  Karena itu sikapilah dengan bijak segala rasa di trimester 1.  Boleh tidak suka nasi, namun gantilah dengan berbagai macam karohidrat yang lain.  Boleh saja tidak suka susu, namun gantilah dengan produk susu atau sumber protein dan kalsium yang lain.  Jangan “Maunya cuma mie ayam”…atau “cuma makan buah mangga setiap hari”.

Camkan prinsip-prinsip di bawah ini :

  1. Janin makan apa yang dimakan ibu  (penjelasan : ibu makan makanan sampah, maka janin pun makan makanan sampah)
  2. Nutrisi janin 100% bergantung dari ibu
    (penjelasan : janin tidak punya alternatif lain.  kalau cadangan di tubuh ibu mencukupi maka diambil oleh janin. namun bila cadangan di tubuh ibu kurang maka janin juga akan kekurangan. kekurangan salah satu jenis nutrisi bisa berdampak serius mengingat trimester 1 adalah masa pembentukan)
  3. Ibu membutuhkan makanan yang sehat dan halal,  mengandung asam folat, zat besi, kalsium dan kaya nutrisi yang lain
    (penjelasan : pastikan bahwa apa yang kita makan adalah bergizi dan terpenting adalah halal.  jangan sekali-kali memasukkan zat haram ke tubuh kita yang akhirnya juga akan masuk ke tubuh janin.  halal tidak hanya pada zat makanannya namun juga cara bagaimana makanan tersebut diperoleh)
  4. Diit ibu selama hamil akan mempengaruhi selera makan bayi (penjelasan : ibu suka manis, maka anak juga cenderung suka manis dan seterusnya.  ibu suka pilih-pilih makan atau malas makan bergizi dan lebih suka jajanan, maka jangan heran kalau anak juga mewarisi sifat yang sama)
  5. Kesehatan seorang anak sampai dengan masa dewasanya dipengaruhi oleh kualitas dan kehalalan nutrisi ibu (penjelasan : kualitas dan kehalalan nutrisi ibu tidak hanya mempengaruhi kesehatan anak di masa kanan-kanak saja, namun bisa mempengaruhi sampai ke masa dewasa.  apakah dia akan mengidap hipertensi atau diabetes atau bahkan bersifat antisosial dan psikopat…ternyata semua dipengaruhi sejak masa dalam kandungan)

Dan ingat surat An Nisaa ayat 9

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

Wallahu a’lam [nin]

Ketemu Gadis Berbahasa Inggris di Masjid Huxie (2)

 

Masjid Huxi adalah tujuan berbuka selanjutnya, dengan pertimbangan lokasinya tidak jauh dari hotel.  Bahkan resepsionis mengatakan, “Very close from here”.

Meskipun sudah memegang alamat, yaitu di : 3 Lane, 1328 Changde Road, Putuo District, Shanghai (上海市普陀区常德路1328弄3).

tetap harus konfirmasi ke bagian navigator hotel.  Minta navigator menulis alamat tersebut dalam bahasa dan huruf China.  Baru ditunjukkan ke sopir taksi.  Ini penting mengingat sopir taksi hanya bicara bahasa China, sehingga kita tidak bisa berkomunikasi apa pun selama perjalanan.

Khusus di masjid Huxi, porsi yang disiapkan bisa sampai 300-400an setiap harinya.  Dan dananya juga murni dari swadaya jamaah!  Bedanya dengan di masjid Pu Dong, di Huxi ada pemisahan ruang makan antara jamaah laki dan perempuan.  Laki-laki menempati tempat yang tetap yaitu di sebelah ruang sholat utama, sedangkan kaum wanita biasa menempati beranda depan masjid atau di beranda lantai 2.  Seorang teman menengarai masjid ini berdasarkan banyaknya tanaman baik asli maupun sintetik.  Contohnya, di beranda depan dipercantik dengan adanya naungan pergola dan hiasan tanaman rambat sintetis. Beranda lantai 2 labih cantik lagi dengan tulisan Allahu Akbar yang tersusun dari rangkaian bunga.

Komposisi takjil berupa teh tawar hangat, kurma, roti (bisa Nan diiris 8 atau semacam roti tawar yang tebal) dan kuah.  Kuah ini gunanya untuk mencelupkan roti dan dimakan dengan sumpit.  Setelah roti habis kuahnya diminum.  Kuah selalu berasa gurih, bisa kuah tomat, kuah kacang merah atau  semacam barley berkuah putih.  Karena selama tiga kali berbuka di masjid Huxie saya tidak menemukan nasi, maka insiden sumpit tidak terjadi.

Di masjid ini saya berkenalan dengan muslimah muda Shanghai, yaitu Fatimah dan Aminah. Kaum muslimin biasanya mempunyai 2 nama, yaitu nama china dan nama islam.  Nah, kedua gadis ini sungguh tipikal wanita Tiongkok yang makin elok dengan hijabnya.  Pakaiannya khas anak muda jaman sekarang, celana jins, sepatu kets, kemeja lengan panjang dipadu cardigan.  Dan keuntungannya….mereka bisa bahasa Inggris!  Ini cukup melegakan mengingat sejak kemarin saya bicara body language terus.  Dari kedua mereka saya dapat info tentang sebuah masjid lagi yang bisa dijadikan destinasi berbuka.  Masjid Fu You Road, namanya.  Supaya jelas saya minta mereka menuliskan dalam bahasa dan huruf China.  Dan saya terpukau mengamati betapa lincah jemari tersebut mengukirkan huruf Hanzi yang mirip kaligrafi.

Masjid Huxi Persiapan Menjelang Berbuka

Persiapan berbuka di Masjid Huxie

Masjid Huxi Tampak Depan dan Toko Daging Halal

Tampak Depan Masjid Huxi dan Toko Daging Halal di Sebelah Kiri

 

Diajari Pakai Sumpit di Masjid Fu You Road

Berbekal alamat dari Fatimah, sampailah kami ke masjid Fu You Road yang beralamat di 378 Fuyou Rd, Huangpu Qu.  Masjid ini terbilang kuno karena dibangun pada 1870.  Lokasinya pun berada di kawasan kota tua, tak jauh dari taman yang berasal dari dinasti Ming, yaitu Yu Garden

Masjid Fu You Road

Tampak Depan Masjid Fu You Road

 

Masjid Fu You Road Sholat Wanita

Ruang Sholat Wanita di Masjid Fu You Road

Keseluruhan masjid bernuansa kayu, bahkan lantainya pun dari parquette.  Demikian pula ruang makan yang terletak di sebelah ruang sholat utama.  Hanya ada satu ruang makan sehingga jamaah laki dan perempuan berada di ruang yang sama.  Saya semeja dengan ibu Aisyah, yang selalu mengira saya berasal dari Malaysia.  Sudah dijelaskan bahwa saya dari Indonesia, dan ia pun juga berkali-kali melafalkan kata Indonesia, namun di kesempatan berikutnya yang tercetus adalah Malaysia lagi…Malaysia lagi!

Di masjid Fu You Road ini makanan berbuka lebih banyak dan terkesan mewah.  Ada sepiring besar kweetiau yang gemuk-gemuk, roti Nan tergeletak di meja dalam keadaan sudah diiris 8 bagian, semangkuk besar mie daging sapi, dan sepaket buah-buahan warna-warni.  Saya katakana warna-warni karena memang banyak warna, antara lain anggur merah dan hijau masing-masing 2 butir, ceri merah dan hitam juga masing-masing 2 butir, sebuah leci, seiris jeruk dan seiris kiwi.  Nah, bisa dibayangkan kan, betapa colorfulnya.  Bisa ditebak, baru meneguk teh dan menelan sepotong roti dicelup kuah mie maka kenyanglah saya.  Sementara orang-orang makan dengan lahap dan diakhiri dengan meneguk kuah mie lagsung dari magkuk.  Ibu Aisyah mengamati saya makan rupanya gemas, langsung saja dia pegang tangan saya dan mengajari cara memegang sumpit.

“Ayo dipraktekkan”, kira-kira demikian katanya.

“Seandainya mangkuk ini ada tutupnya tentu sudah kubawa pulang mie sapi ini”, batin saya.  Ini karena melihat orang lain sudah beranjak pergi untuk menunaikan sholat maghrib berjamaah.  Bagaikan bisa membaca pikiran saya, bu Aisyah datang membawa kantung plastik dan tutup mangkuk.  Cekatan dibereskannya mangkuk saya, dimasukkan ke kantung plastik.

“Nah, siap dibawa pulang,” ujarnya sambil menggamit lengan saya menuju ruang sholat.

Aah…..persaudaraan Islam tak kenal sekat wilayah dan bahasa.  Yang ada hanyalah keimanan dan ketaqwaan yang sama. [nin]

 

Belajar Pakai Sumpit di Shanghai (1)

Tadinya terasa berat saat suami meminta saya untuk mendampingi beliau presentasi makalah ilmiah di Shanghai.  Pasalnya acara tersebut berlangsung di bulan Ramadhan.  Terbayang puasa yang lebih panjang waktunya, pun saat berbuka tidak bisa makan dengan bebas karena khawatir dengan kehalalannya.

Namun tugas pantang ditolak.  Maka berselancarlah kami  di dunia maya untuk mencari nama dan lokasi masjid di Shanghai.  Rencananya, bertitik tolak dari masjid itulah kami harapkan ada info tentang penyedia makanan halal atau rumah makan muslim.

Shanghai, kami datang!

Kota terbesar sekaligus tersibuk di China ini bagaikan belantara gedung pencakar langit.  Baik gedung perkantoran maupun apartemen seakan berlomba saling tinggi.  Tak heran bila Shanghai menduduki peringat kelima kota dengan pencakar langit terbanyak.  Meskipun pemerintah sudah berusaha menghidupkan paru-paru kota dengan membuat hutan dan taman yang banyak, namun tak urung kesan hutan beton lebih mendominasi.  Bagusnya, warga lebih memilih menggunakan MRT dibandingkan kendaraan pribadi.  Ini tak lepas dari mahalnya pajak mobil yang bahkan bisa melebihi harga mobil tersebut.  Ongkos taksi juga tidak murah.  Tarif buka pintu antara 14-16 Yuan (28-32 ribu rupiah).  Motor sangat sedikit, dan itu pun motor listrik.  Tanpa suara dan tanpa asap knalpot.  Sebaliknya sepeda sangat banyak.  Ada sepeda pribadi, namun yang lebih banyak adalah sepeda umum.  Maka menjadi sangat memprihatinkan saat mengingat bahwa negeri kita ini sangat dibanjiri oleh motor dan nantinya mobil buatan Tiongkok sementara di negeri asalnya justru tidak dipakai.

 

Makan dengan Tangan Jadi Pusat Perhatian di Masjid Pu Dong

Hari kelima Ramadhan pun kami lalui di Shanghai.  Awal Juni, masuk subuh pada jam 3.15 dan maghrib jam 18.54 waktu setempat.  Karena itu puasa berlangsung selama 16 jam, sedikit lebih panjang waktunya dibandingkan dengan di tanah air.  Namun dengan suhu antara 22-26 derajat celcius, Alhamdulillah tidak ada perbedaan yang bermakna dalam hal haus dan lapar.

Semua masjid di Shanghai pada dasarnya menyediakan makan untuk berbuka puasa.  Jumlahnya pun tak tanggung-tanggung, sampai ratusan porsi.  Dananya berasal dari infaq para jamaah.

Masjid Pu Dong adalah masjid yang pertama kami kunjungi.   Masjid ini beralamat di 375 Yuansheng Road, Pudong District, Shanghai (上海市浦东新区源深路375号).  Sedikit nyasar yang menyebabkan harus jalan kaki balik arah, kami tiba saat adzan magrib menjelang.  Petugas sudah melambai-lambaikan tangan agar kami segera bergegas.  Berbeda dengan di negeri kita, tidak ada lesehan di sini.  Kami ditunjukkan untuk segera masuk ke sebuah ruangan yang ternyata adalah ruang makan.  Penataannya mirip kantin mahasiswa.   Penuh sesak dan hiruk pikuk.   Sayangnya saya tak mengerti apa yang mereka obrolkan.  Jamaah pria dan wanita berada dalam satu ruangan bahkan satu meja.    Sementara itu di meja sudah tersedia takjil berupa seiris semangka, seiris melon, roti, dan semangkuk kuah.  Tak lupa ada teh di gelas plastik.  Roti dan kurma langsung digeletakkan begitu saja di meja yang sudah dialas plastik tipis.

Masjid Pu Dong Couple

Masuknya waktu maghrib ditandai dengan aba-aba dari imam dan didahului dengan doa berbuka puasa.  Tidak ada adzan di sini.  Saat imam selesai berdoa, makanan segera diserbu.  Orang-orang makan dengan cepat.  Roti dicemplungkan ke kuah, dimakan dengan sumpit.  Sisa kuah diminum langsung dari  mangkuknya.  Rampung takjil dilanjutkan dengan sholat maghrib secara cepat dan jamaah segera masuk lagi ke ruang makan yang tadi untuk makan malam.  Kali ini meja sudah dibersihkan dari sisa takjil, berganti dengan makan malam.  Menunya berupa nasi, sayur kangkung, ayam masak mentega, tumis mentimun dan semangkuk kuah tomat.  Keseluruhan hidangan tersebut disajikan dalam sebuah ompreng (nampan stainless seperti di rumah sakit jaman dulu). Dan tidak sama sekali yang namanya sendok atau garpu. Hanya sumpit semata.  Sekali duakali saya masih bisa “memungut” mentimun dengan sumpit.  Tapi nasi? Lolos terus. Tak kurang akal, saya pun makan pakai tangan.  “Muluk” bahasa jawanya.  Bukannya dulu almarhum Haji Agus Salim juga percaya diri makan dengan tangan di suatu jamuan internasional a la Barat?

Masjid Pu Dong Makan Malam Bakda Isya

Tapi ternyata perbuatan saya itu jadi perhatian ibu-ibu tua teman semeja.  Dia kasak kusuk bertanya ke teman-temannya yang lain sesama ibu.  Sepertinya mereka mencari sesuatu.  Naah…akhirnya dapat! Disodorkanlah seperangkat sumpit kepada saya.

“Ayo makan pakai ini.  Jangan pakai tangan”, begitu mungkin ucapannya dalam bahasa Tiongkok. “Ayo terimalah sumpit ini!” si ibu tua terus mendesak.

Haaaa…..rupanya mereka mengira saya makan dengan tangan karena tidak kebagian sumpit.   (nin)

Kisah Panjang Hijab di Kamar Operasi

Tulisan kisah nyata ini merupakan salah satu penugasan di Wonderful Writing Class yang dipandu oleh penulis kondang pak Cahyadi Takariawan dan istri beliau, bu Ida Nur Laila. 

Yang ingin bisa “Menulis Semudah Bernafas” silakan ikut WWC gelombang berikutnya…

Prita Kusumaningsih “Jadi berapa meter kain yang dibutuhkan?” “Jenis bahannya sudah dicek belum? Warnanya juga harus sama persis, lho”. “Bagaimana kalau kita pinjam saja sepasang baju dan celana itu barang sehari? Buat contoh ke penjahit” “Kamu jadi kan, bicara dengan ibu kepala ruangan kemarin?” Itulah sebagian kasak kusuk kami, mahasiswi berhijab Fakultas Kedokteran semester 9 […]

melalui KISAH PANJANG HIJAB DI KAMAR OPERASI — Wonderful Writing Class

Mencari Makanan Halal di Ljubljana

Di Ljubljana dimana muslim hanya sekitar 5% maka urusan makanan halal harus disikapi dengan serius.  Atas pertimbangan ini pula, kami memilih menginap di hotel Grand Union  tak jauh dari kawasan kota tua di Center.  Hotel ini agak mahal, namun menyediakan daging halal pada hidangan sarapannya.  Daging tersebut didatangkan dari Turki. Daging halal ditempatkan terpisah, sayang petunjuknya terlalu kecil.  Kami baru menemukannya setelah mengitari seisi restoran dan itu pun atas petunjuk petugas.

Resto Balkan

Tempat makan halal yang pertama kali kami kunjungi setelah menginjakkan kaki di kota Ljubljana adalah resto bergaya Balkan, tepatnya Bosnia.  Resto ini kami dapatkan atas petunjuk Muri, si supir taksi bandara. Berlokasi di Cesta Andreja Bitenca no 70.  Lokasinya sangat sepi, jauh dari jalan raya.  Berada di tengah kawasan perumahan yang rimbun dan nyaman.  Restonya tidak terlalu besar namun cukup apik dan homy.  Pelayannya ramah, profesional dan menguasai bahasa Inggris.  Di salah satu sisi dinding tertutup dengan foto masjid di Bosnia.   Menu yang kami nikmati siang itu adalah Bosanski Lonac.  Makanan berkuah berisi daging dan sayuran semacam caserole ini nikmat dimakan hangat bersama roti.

Bosanski Lonac

Bosanski Lonac

 

Di sisi depan resto terdapat mushola.  Lengkap dengan toilet dan tempat wudhu pria/wanita.  Jadi, sambil makan siang bisa sekalian sholat di mushola tersebut. Dan tepat di depan pintu mushola terdapat sebuah ruangan yang ternyata adalah kantor dari sebuah yayasan foundation dari Qatar.  Kami berkenalan dengan Elvira dan Sanela, dua muslimah asal Bosnia yang bekerja di sana.

“Islam di sini ada dua golongan,”ujar Sanela.  Ada golongan formal, yaitu mereka yang menjalankan perintah agama dengan tertib, misalnya memakai hijab seperti kamu ini.  Dan satu lagi golongan non formal”.  Mungkin maksudnya Islam KTP seperti istilah di negeri kita.  “Apa pun Sanela, mereka itu saudara kita”, kata saya dalam hati.

Doner Kebab Halal

Tak jauh dari GR, kependekan dari Gospodasko Raztavisce sebutan lokal untuk gedung konferensi tempat acara diselenggarakan,  ada kios Doner kebab.   Penjualnya Imran, anak muda muslim asal Kroasia.   Ia menjamin daging kebabnya halal.  “Saya mendatangkan khusus dari Jerman”, ujarnya.   Kiosnya sangat ramai.  Karenanya, meski sudah dibantu seorang asisten Imran tampak selalu sibuk melayani pembeli.  Akhirnya kami jadi sering ke kios Imran.  Beli Doner Kebab cukup 1 buah saja dimakan berdua karena ukurannya cukup besar.  Kalau sedang santai kami pilih jadi pembeli terakhir sekedar bisa mengobrol.   Terkadang kami minta tolong ditelponkan taksi.

20160930_171938

Imran di Kios Doner Kebab

Imran sepertinya ia masuk golongan non formal sesuai istilah Sanela.  Itu karena saat hari Jum’at ia tak beranjak dari kiosnya, melayani antrian pembeli.

Resto Habibi

Masih di Dunajska Cesta no 105/107, berjarak lebih kurang 1 kilometer dari RG terdapat sebuah restoran Timur Tengah.  Resto Habibi namanya.  Pemiliknya, Ahmad, pemuda Mesir yang menikah dengan mualaf Ljubljana.  Usia restoran ini baru 6 bulan.  “Belum ada website.  Kami baru punya facebook”, saat kami utarakan sulitnya mencari resto halal. Hidangannya sebagaimana resto Timur Tengah pada umumnya dengan harga yang tidak terlalu mahal.  Meski rasa nasi Bryani tidak sama dengan aslinya namun karena baru ketemu nasi, kami pun bersantap dengan nikmat.  Di resto ini kartu kredit saya (dari bank besar plat merah) bisa berfungsi.

resto-habibie-bryani.jpg

 

Alhamdulillah, sambil menunggu pesanan siap,  kami bisa mendirikan sholat jamak qashar.  Untuk itu Ahmad menyediakan dua sajadah.  Sholat dikerjakan di ruangan yang berkarpet karena tidak terdapat mushola.

Hidangan Kongres

Bagaimana dengan hidangan makan siang di kongres? Mengingat kongres Sport Medicine ini berskala Internasional, banyak juga para pakar yang datang dari negeri Islam, seperti Malaysia, Brunei Darussalaam, Iran, dan tentu saja Turki dan Qatar sebagai negara pendukung utama.  Untuk itu panitia menyediakan  makan siang di dalam kotak dengan kode warna.  Disediakan 3 warna kotak, yaitu merah, biru, dan hijau.  Kotak merah berarti mengandung babi, kotak biru mengandung daging non babi, dan kotak hijau adalah hidangan vegetarian.   Isi  berupa roti burger isi daging (atau sayur khusus untuk vegetarian), muffins, minuman kotak, dan buah. [nin]

 

 

Tur Jalan Kaki di Ljubljana (2)

Hari kedua di Ljubljana adalah hari bebas buat saya. Sendirian lagi! Ini karena suami mengikuti sebuah workshop sedangkan saya tidak. Sementara kongres baru resmi dibuka pada malam harinya.

Maka di pagi hari yang menggigil dan berkabut itu saya menghangatkan diri sejenak di kafe sebelah dengan secangkir teh sembari merancang itinerary.  Kemana enaknya? Dan naik apa? Peta kota sudah bolak balik dibuka.  Sayangnya Tourist Guide Book yang kemarin dicomot dari bandara ternyata berbahasa Jerman.  Duuh…. Siapa yang bisa ditanya?

Di depan gedung Ljubljana Exhibition and Convention Centre (warga setempat menyebutnya GR singkatan dari Gospodarsko raztavische) terdapat sebuah kios majalah.  Penjualnya bernama Dunja, seorang wanita setengah baya yang ternyata ramah dan yang terpenting…bisa bahasa Inggris!  Atas petunjuk Dunja inilah,  saya pun mulai menyusuri jalan Slovenska Cesta .

“Lurus saja, kira-kira 1 kilometer lantas belok kiri”, begitu pesannya.  Tak lupa ia tambahkan, “Tenang saja, di kota ini semua serba dekat.

Dan ternyata, kata-kata “serba dekat”, “cepat saja”, “tidak makan waktu lama” banyak diucapkan oleh warga setempat.  Baik oleh sopir taksi, penjaga kios, resepsionis hotel, maupun oleh pramusaji rumah makan.  Ini untuk menunjukkan betapa kecil kota ini, sehingga kita tidak perlu khawatir tersesat.

Menyusuri trotoar, jalan kaki sendirian adalah hal yang sudah jarang saya kerjakan di Jakarta.  Maka kesempatan ini betul-betul saya nikmati.  Jalan kaki dengan nyaman dan santai.  Saat tungkai mulai pegal tinggal istirahat sejenak di bangku-bangku yang tersedia di pedestrian.  Seperti umumnya kota di Eropa, pedestrian di Ljubljana bersih dan indah. Tampak ada sesuatu yang cantik dan menarik, berhenti dulu buat difoto.  Kalau mulai ragu karena tak kunjung sampai, cukup mampir ke kios terdekat sekadar  memastikan jalan. Alhasil setengah jam saya baru tiba di tujuan.

20160929_100457

Pedestrian Slovenska Cesta

Memasuki jalan Copova Ulica sepanjang lebih kurang 100 meter, tibalah saya di kawasan kota tua atau Center.  Terdapat sebuah plasa yaitu Presernov Trg tempat  orang banyak berkumpul.  Di tengah terdapat sebuah patung laki-laki berwarna hijau.  Itulah patung Preseren, seorang penyair yang salah satu puisinya “Zdravljica”  diadaptasi menjadi lagu kebangsaan Slovenia.

preseren-square-or-presernov-trg

Preseren Square. Tampak patung Preseren di kejauhan

Tak jauh dari patung, terdapat jembatan yang menjadi landmark kota, yaitu Triple Bridge.  Dinamakan demikian karena jembatan putih ini terdiri dari tiga jembatan yang menyatu di pangkalnya dan pecah tiga di ujungnya. Triple Bridge dibangun pada 1929 sampai 1932 oleh arsitek Joze Plecnik ini kecil dan pendek saja. Di bawahnya mengalir tenang sungai Ljubljanica yang airnya berwarna hijau tenang.  Sesekali kapal kecil cantik dan sarat penumpang melintas, membelah sungai dan membuat itik-itik yang berenang berebutan menepi.  Di pinggir sungai berderet meja kursi restoran tertata cantik.   Sementara  tanaman rambat menutupi dinding bangunan yang memagari sungai.  Dedaunan yang mulai berubah warna pertanda musim gugur telah tiba.  Ingin mengabarkan keindahan ini kepada suami, namun apa daya alat komunikasi tak berfungsi.

multi-color-leaves

warna warni daun rambat musim gugur

Puas memandangi sungai, saya beralih ke deretan penjual suvenir.  Tempatnya masih di pinggiran sungai.  Sebenarnya hanya lapak-lapak sederhana berupa  meja-meja terbuka semacam bazaar di negeri kita.  Aneka benda dijual di sana.  Mulai yang murah meriah, seperti kartu pos, gantungan kuci, magnet kulkas, sampai kerajinan kayu, botol hias dan keramik.  Awasss….jangan lapar mata! Dalam hati mulai menghitung-hitung…siapa saja yang bakal dikasih oleh-oleh.  Inilah kelebihan bangsa Indonesia saat di luar negeri….yang dipikirkan adalah buat tangan untuk orang-orang rumah, kantor, keluarga besar…dan seterusnya.

 

suvenir-kaca

Deretan Botol Hias sebagai Suvenir

Kebelet? Tenang saja karena di setiap ujung jembatan disediakan toilet.  Perlu turun tangga untuk menuju toilet tersebut.  Bersih dan gratis.  Oya, sistim pelistrikan  hemat  efisien yang berlaku di Ljubljana awalnya membuat saya kaget.  Jadi lampu di toilet dan menyala berdasarkan sensor gerak.    Bila sedang kosong otomatis ruang toilet akan gelap.  Kagetnya karena saat memasuki ruangan, tiba-tiba lampu menyala sebelum kita menyentuh steker (yang memang tidak ada).  Dan saat di dalam toilet pastikan jangan sampai berdiam diri terlalu lama karena lampu bisa tiba-tiba mati sendiri.  Ha..ha…betul-betul kaget saat mengalami untuk pertama kalinya.

 

kafe-dan-suvenir-di-tepi-sungai

restoran di tepi sungai Ljubljanica

Capek keliling, akhirnya saya masuk ke Tourist Information Centre di ujung Preseren Trg.  Tadinya saya cuma mau cari Tourist Information Book yang versi Inggris yang ternyata banyak sekali bertumpukan di rak brosur  .  Mendadak saya terpikir untuk ikut tur.  Ada banyak sekali pilihan tur.  Mau seharian, atau jam-jaman, mau jalan kaki atau naik sepeda, atau naik kapal, semua tersedia programnya.  Mau tur kuliner, jalan ke kastil, wisata museum, wisata alam, sejarah…Pakai guide orang atau digital….tinggal pilih saja.  Rupanya wisata digarap habis-habisan di kota kecil ini.  Dengan memperhitungkan waktu tersedia dan uang euro yang tidak banyak, maka pilihan jatuh ke tur keliling center selama 2 jam dengan biaya 10 euro.    Cukuplah sampai sore hari saat saya harus kembali ke GR untuk menjemput suami.  (bersambung)

Catatan tentang ponsel.

Belajar dari pengalaman keluar negeri sebelumnya, termasuk waktu umroh, maka saya manfaatkan paket kuota yang ditawarkan oleh provider telepon seluler.  Karena saya pengguna T**koms*l maka sebelum berangkat sudah saya isi pulsa “secukupnya”, yang dalam hitungan keseharian di Indonesia lumayan mahal.  Saya pun mendaftar untuk paket roaming hemat yang tersedia.  Namun apa daya, ternyata komunikasi tak berfungsi.  Kecuali di tempat-tempat dengan wifi gratis.  Awalnya, dipikir salah settingan hape.  Kotak-katik sana sini bahkan sampai dipandu dari Jakarta saking gapteknya.  Tetap gagal berkomunikasi.  Mengandalkan SMS bisa bangkrut.  Apalagi kalau sampai berbicara.  Biaya melambung fantastis.  Sampai akhirnya tiba waktu kepulangan kuotanya tetap tidak berfungsi.  Dan ternyata di Indoneisa setelah ditanyakan provider tersebut di atas, rupanya memang tidak tersedia layanan kuota hemat untuk negeri Slovenia.  Lalu bagaimana dengan ratusan ribu yang sudah kami relakan untuk daftar kuota???? Raib begitu saja tanpa ada kejelasan!!

Pelajaran yang bisa diambil : jangan sekali-kali daftar kuota dan membayar sejumlah biaya apabila TIDAK ADA PENAWARAN dari provider yang bersangkutan.  Risikonya, uang tidak kembali seperti yang saya alami.

Alhamdulillah….di Ljubljana dalam sehari ada 1 jam Wifi gratis di seluruh penjuru kota.  Cirinya, tiba-tiba bertubi-tubi masuk pesan WA.  Sayangnya terkadang saya tidak menyadarinya, sehingga pas mau membalas pesan-pesan tersebut ternyata waktu sudah habis.