Tag Archive | ASI Eksklusif

MENJADI AYAH ASI , HARUS BAGAIMANA? (Menyambut Pekan ASI Sedunia)

Breastfeeding Father

Anggota keluarga baru telah hadir. Rumah yang tadinya sepi mendadak ramai oleh tangis bayi. Kesibukan kantor terlupakan. Bayi merampas hampir 100 persen waktu ibu. Pekerjaan ibu baru hanya nguplek di dalam kamar. Setelah adzan subuh, bayi baru merem, setelah semalaman bergadang. Ibu pun masih sedikit pusing karena tidur bangun setengah jam sekali. Tapi apa daya, jam 6 pagi sudah waktunya mandi. He..he..siapkan ember, air hangat, baju bayi dan perlengkapannya. Bayi yang masih tidur pun digotong ke meja mandi. Di dalam air hangat biasanya mereka akan melek dan segar. Setelah mandi, dan menyusu sampai kenyang, barulah makhluk mungil itu tidur nyenyak.

Kesibukan baru yang menyita waktu tersebut bukannya tak menimbulkan masalah. Mulai dari sang ibu baru yang terampas “me time” nya, stres mendengarkan tangisan bayi yang melengking-lengking, apalagi kalau pemberian ASIX juga tak selancar yang diharapkan. Eh, ternyata sang ayah baru pun bisa juga bermasalah. Suami merasa tak dapat perhatian lagi dari istri. Ia merasa istri lebih sibuk dengan bayinya daripada melayaninya seperti waktu-waktu sebelumnya. Singkatnya, si ayah “cemburu” dengan anaknya sendiri. *lho*

Padahal, ada banyak yang bisa dilakukan ayah baru dalam menangani bayi baru lahir tersebut. Dengan turun tangannya suami, ada beberapa manfaat :

  1. Suami jadi terlibat penuh dalam pengurusan bayi mereka. Bukankah adanya bayi juga hasil “kerjasama” suami istri?
  2. Suami tidak merasa disisihkan, karena ia pun turut merasakan sibuk dan repotnya mengurus bayi baru
  3. Istri jadi punya waktu untuk beristirahat dan mengurus dirinya (baca : merawat dan merias diri)
  4. Kemesraan suami istri akan muncul sejalan dengan lebih longgarnya waktu istri.

Pertanyaannya, apa saja yang bisa dilakukan oleh suami? Banyak, ini diantaranya :

  1. Memberikan dukungan penuh kepada istri untuk menyusui bayi secara eksklusif. Jadi, suami harus ada di pihak istri dalam menghadapi ujian dari keluarga dan para tetua di keluarga dan lingkungan tempat tinggal. Lho, memangnya ujian kenaikan tingkat? He..he…tentu saja tidak. Namun sudah umum diketahui dan dialami bahwa godaan memberikan sufor kebanyakan justru datang dari keluarga sendiri. Melihat bayi menangis, ibu masih belum luwes dalam posisi menyusui, ASI yang baru keluar sedikit, bahkan ASI yang cukup banyak namun masih bening. Itu semua bisa jadi alasan untuk migrasi ke sufor. Pembenarannya pun bermacam-macam. “Cuma sedikit, kok” atau “ASInya sih tetap dikasih, sufornya buat tambahan saja” atau “Dikasih dotnya sekedar kalau pas ibunya lagi mandi saja”
  2. Menggendong bayi dan membawanya ke ibunya saat mau disusui di malam hari. Untuk yang ini, mau tak mau memang kaum suami harus belajar menggendong bayi. Tak perlu takut, bayi tak serapuh yang dibayangkan. Tubuh bayi juga cukup lentur. Yang penting diperhatikan adalah, jangan lupa untuk menyangga leher dan kepala bayi. Jangan menggendong dengan posisi tegak tanpa menyangga kedua bagian itu. Saat menggendong dengan posisi bayi berbaring, letakkan leher bayi di lekukan siku tangan kita. Istri pasti bahagia melihat suami mau turun tangan menggendong bayi sehingga dirinya bisa mandi dengan nyaman.
  3. Bayi bangun di malam hari tak selalu minta susu. Terkadang ia mengompol. Bisa juga merasa gerah atau kebalikannya, kedinginan. Bisa juga sekedar rewel karena sulit memulai tidur. Bagaimana mengetahui keinginan bayi tersebut? Memang diperlukan eksplorasi. Namun test sederhana ini bisa diterapkan untuk mengetahui apakan bayi ingin menetek atau sekedar rewel. Taruhlah jari di sudut mulut bayi, usapkan dengan lembut dan lihat reaksi bayi. Bila ia menoleh dan menyorongkan mulutnya ke arah jari kita maka ia memang ingin menyusu.
  4. Bila bayi bangun karena mengompol, tak perlulah membangunkan istri. Belajar mengganti popok sendiri tak terlalu sulit. Baik popok kain maupun diaper sekali pakai. Jangan pula beranggapan bahwa kalau sudah pakai diaper maka bayi akan dijamin nyenyak dan tak perlu ganti popok semalaman. Apalagi kalau bayi BAB. Bayangkan sendiri dengan diri kita, nyamankah tidur dengan feses di dalam diaper??
  5. Beri istri kejutan spesial. Jangan mentang-mentang mau menunjukkan jadi ortu yang baik mengurus anak lantas melupakan hobi dan kesenangan berdua. Tak ada salahnya membawakan istri makanan kesukaannya, atau oleh-oleh yang lain. Bisa juga, “menculik” istri barang 1 atau 2 jam untuk pergi jalan-jalan keluar. Kalau istri mau nyalon sebentar guna luluran atau sekedar potong rambut pun. Monggo. Ingat ya….jangan lebih dari 2 jam. Dan pastikan ada stok ASI perah yang cukup untuk persediaan
  6. Beri istri kado spesial. Tak ada salahnya membawakan oleh-oleh spesial untuk istri. Sehelai daster cantik, sebuah buku novel, atau chicken soup ibu-ibu baru, bisa jadi kejutan yang menyenangkan. Ingat saja kado-kado dari para penjenguk…rata-rata yang diberi kado adalah bayinya. Hanya sedikit – kalau bisa dikatakan tidak ada – yang ingat akan ibunya. Nah, kado buat ibunya datang dari suami tercinta…ehm.

SELAMAT MERAYAKAN PEKAN ASI SEDUNIA

diadaptasi dari sleepingshouldbeeasy.com

Penghargaan untuk Para Ibu! Hak Menyusui pun Dijamin Undang-Undang

UNDANG-UNDANG

REPUBLIK  INDONESIA

NOMOR 36 TAHUN 2009

TENTANG

KESEHATAN

PASAL 126

(1) Upaya kesehatan ibu harus ditujukan untuk menjaga kesehatan ibu sehingga mampu melahirkan generasi yang sehat

dan berkualitas serta mengurangi angka kematian ibu.

(2) Upaya kesehatan ibu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, dan

rehabilitatif

(3) Pemerintah menjamin ketersediaan tenaga, fasilitas, alat, dan obat dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan ibu

secara aman, bermutu, dan terjangkau.

PASAL 128

(1) Setiap bayi berhak mendapatkan air susu ibu eksklusif sejak dilahirkan sampai 6 (enam) bulan, kecuali atas indikasi

medis.

(2) Selama pemberian air susu ibu, pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara

penuh dengan penyediaan waktu dan  fasilitas khusus.

(3) Penyediaan fasilitas khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diadakan di tempat kerja dan tempat sarana umum.

PASAL 129

(1) Pemerintah bertanggung jawab menetapkan kebijakan dalam rangka menjamin hak bayi untuk mendapatkan air susu

secara eksklusif.

(2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah

PASAL 200

Setiap orang yang dengan sengaja menghalangi program pemberian air susu ibu eksklusif sebagaimana dimaksud dalam pasal 128 ayat (2), dipidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah)

Penjelasan:

Pasal 128  ayat (1) : yang dimaksud dengan “pemberian air susu ibu eksklusif” dalam ketentuan  ini adalah pemberian hanya air susu ibu selama 6 bulan dan dilanjutkan sampai dengan 2 (dua) tahun dengan memberikan makanan pendamping ASI (MP-ASI) sebagai tambahan makanan sesuai dengan kebutuhan bayi.

Yang dimaksud dengan “indikasi medis” dalam ketentuan ini adalah kondisi kesehatan ibu yang tidak memungkinkan memberikan air susu ibu berdasarkan indikasi medis yang telah ditetapkan oleh tenaga medis.

Sehingga….. tidak memberikan ASI eksklusif bisa dikategorikan melanggar hak bayi dan dengan demikian melanggar undang-undang!

Wahai kaumku, Selamat hari ibu!

ASI, Pemikiran dan Fakta-Fakta (1) Kumpulan QN

  • Mengapa para ibu di era terkini (termasuk para muslimahnya) , saat baru melahirkan bayinya, yang terpikir adalah : “susu formula merk apa, ya yang terbaik untuk kuberikan kepada bayiku?”  Rupanya gempuran iklan dan promosi membuat ‘lupa’ terhadap fasilitas eksklusif dari Allah SWT, yaitu ASI (uneg-uneg berdasarkan pengalaman) @Jasmine : gak nyadar ,kalau susu terbaik ada pada dirinya………..korban iklan ………….kasihan ya.. ;@ Intan 0812: aku gak gt kok dr….. gak kepikiran
    itu mah ibu2 yang mau gampang aja kali ; @Dinithea: aku gak kok :) malah hunting cari dokter yg mau inisiasi dini ; @ lembarkertas : masak sih Mbak? Aku nggak gitu kok. Ibu yang nggak tahu manfaat ASI aja kalee… emang berapa persen responden yang bilang seperti itu? (pengin tahu mode on) :); @wulan : kalo sampelnya para MPers hipotesis saya 90% pro-ASI. pintar2 dan kritis2. orang2 yg sadar teknologi biasanya sadar pengetahuan juga.
    lain lg klo sampelnya d RS swasta yg kurang kuat program ASInya dan terinfiltrasi merk susu bayi tertentu =(
  • (BERITA GEMBIRA BUAT FANS ASI EKSKLUSIF! )  Ternyata, sejak bulan November 2009 telah disahkan UU no 36 thn 2009 ttg kesehatan khususnya ttg ASI. Intinya menyatakan bahwa semua pihak diminta untuk mendukung pemberian ASI secara eksklusif kpd bayi baru lahir hingga usia 6 bulan. Selanjutnya dari pasal 200 UU tsb tertulis konsekwensi bila tdk mendukung ASI yg ditetapkan pada pasal 135 akan di beri sanksi hukuman 1 tahun kurungan atau denda 100jt ( utk perorangan). Bila institusi atau rumah sakit akan dikenakan 3 x lipatnya.
    Dikutip dari majalah IDAI bln april 2010 halaman 44 (copas dari MISS)
  • “Dalam dunia perhewanan: anak kucing menyusu kepada induk kucing, anak kelinci menyusu kepada induk kelinci, demikian juga anak macan menyusu kepada induk macan. Cuma anak manusia yang tidak selalu minum susu manusia.  Kalau ibunya tidak mau kasih ASI, jadinya minum susu sapi.  Kalah dong sama anak hewan?”  (pertanyaan retoris dr. Utami Roesli, SpA, MBA, pakar ASI dan IMD saat presentasi di PIT POGI 18) Komentar : @ Diahluvummi : beuhhhh
    dalem…:D
    klo ASInyah kaga’ keluar, gmana dr?
    hmm, pake ibu susu?
    trus, yang lebih bagus…susu sapi atau susu kedelai? @Jaraway : siipplahhh.. jangan mau anak kita jadi anak sapi..ehehehehe..
    asi eksklusif seperti apa yang disunnahkan rosulullaah saw.. 2 tahun..=); @Intan : itu mah alesannya ibu2 yang ga mau kasih asi… secara alami keluar kok.. hanya saja harus dirangsang.. dan untuk beberapa orang perlu diatur makanannya… ya kan dok? @Saya : definisi ‘kaga keluar’ itu perlu diluruskan. Sering disangka, bahwa segera setelah bayi lahir, ASI langsung mengucur deras dan bayi akan menyedot dengan lahap. Padahal kenyataannya, ASI baru akan keluar dengan deras kalau ada rangsang hisap dari bayi. Sering disangka bahwa bayi baru lahir itu dalam kondisi kehausan sehingga harus dapat kucuran ASI yang deras padahal sebenarnya bayi sudah membawa cadangan cairan dan zat gula yang cukup untuk 24 jam pertama kehidupannya. Sehingga sering disimpulkan bahwa ASI yang keluar baru setetes atau baru keluar setelah beberapa jam bayi lahir, sudah langsung disebut KAGA KELUAR, dan akhirnya bayi diberi susu sapi. Tentang susu kedelai…ini dipakai pada bayi yang mengalami intoleransi (alergi) laktosa (protein susu hewani). Ibu susu…seperti yang dijalankan pada masa Rasulullah adalah salah satu alternatif bayi tetap dapat ASI, meski bukan dari ibunya sendiri. Hayo…siapa mau jadi ibu susu??? ; @Diancambai : setuju mbak… yang penting kemauan para ibunya.
    Namun ada kalanya ada sebagian ibu yang mungkin mengalami trauma pasca melahirkan ataupun hal psikologis lainnya yang erat dengan hormon penunjang air susu, sehingga ketika ia stress air susunya menurun produksinya. lama-lama hilang.
    Dian pikir, kita juga tidak boleh menjudge para ibu yang sebenarnya ingin menyusui, namun kondisi tak memungkinkan.contohnya yang kena sydrome pasca melahirkan, ataupun akibat buru-buru kb [ibu saya hanya menyusui adek saya 2 bulan, karena KB tau-tau asi nya berhenti, padahal dengan saya beliau sampai 1 tahun dan dengan adek saya yang bungsu 2.5 tahun].

    Kadang-kadang komentar sinis juga tak boleh kita lontarkan pada ibu-ibu yang mungkin juga tak mau anak-anaknya diberi susu sapi ya kan mbak pritta ya ? hehehe

    *sekedar wacana, karena dian punya sahabat yang merasa sedih sekali dikomentari tak mau kasih asi, padahal secara psikologis dia lagi trauma… ^_^ ; @ saya : betul,mbak Dian…ini introspeksi juga buat para dokter, bidan, termasuk petugas KB. Karena seharusnya mereka semua memberikan dorongan kepada para ibu yang ‘baby blues’ atau yang kemampuan memberikan ASI nya masih di level awal. he..he..he…soalnya iklan sufor itu sedemikian bombastis lho. Demikian juga para provider KB seharusnya memberikan informasi tentang jenis2 kontrasepsi yang dikhususkan buat ibu menyusui supaya ASInya tidak berhenti. Masih banyak ya Pe Er kita….! ; @ iraprajuritkecil : Alhamdulillah, udah lewat fase gigit2 pd… Biar bengkak, meriang, tetep ASI. Sekalipun udah coba merah, dibeliin training cup dan botol , hamzah gak mau. Mending minumdi gelas. Tapi akhirnya brenti gigitin, dan kembali meng-ASI dengan damai. Ajaib emang kekuatan pikiran tuh. Oh yang lebih oke, suami saya bu… Dia yang marahin suster waktu hamzah baru lahir gara2 dikasih sufor. Sekarang, dia yg banguntengah malam kalo istrinya kecapekan nyusuin… Dia pijitin, dia juga yang timang2 bayi kalo gak tidur2…. The best breastfeeding father deh; @hilyahfamily : Bu dokter, saya IRT yang bukan berbasis ilmu kedokteran, sangat berminat jadi kaunselor laktasi. Bagaimana caranya?
    Saya agak miris melihat kawan dan adik2 yang mudah sekali beralih ke sufor karena alasan kerja atau kuliah. Alhamdulillah saya punya 5 anak dan semuanya full asi tanpa sufor.

  • STOP!!  Iklan susu formula untuk anak di bawah usia 1 tahun, di tahun 2011. Demikian janji ibu Menkes di pertemuan Strategic Alliance for Achieving MDG’s di Unpad, 22 Oktober 2010.  Untuk itu akan diterbitkan sebuah PP yang akan mengatur pembatasan iklan tersebut. Hal ini dilatarbelakangi oleh kenyataan, hanya sekitar 22% ibu bersalin yang memberikan ASI Eksklusif untuk bayinya.  (Kompas 23/10/210)

[ASIX] Berbagi Pengalaman dengan Ibu PNS

Siapa bilang ibu bekerja tak bisa memberikan ASI eksklusif? Berikut ini sharing pengalaman dari salah seorang (mantan) pasien saya yang bekerja sebagai PNS. Hikmah yang bisa diambil :
1. Memang memberikan ASIX di era sekarang tidak mudah dan penuh tantangan. Tapi tantangan tersebut bukannya untuk dihindari, melainkan dicari jalan keluarnya.
2. Kerjasama dan kekompakan dengan suami sangat penting untuk menghadapi badai tantangan itu.

SEMOGA MENGINSPIRASI!

“Saya amat senang menjadi pasien di JIH sejak program kehamilan s/d melahirkan. Sejak hamil, dr.Prita sudah memeriksa payudara saya apakah memiliki puting keluar atau tidak. Sementara di RS lain, teman saya tidak mendapatkan pemeriksaan seperti ini. Awalnya saya tidak tahu sama sekali tentang ASI eksklusif, saya hanya diperingatkan oleh dr.Prita agar TIDAK memberikan susu formula kepada anak saya dan melarang KERAS penggunaan botol dot. Tentu saja hal ini bertentangan dengan iklan tentang susu formula yang sudah sangat populer dan melekat pada masyarakat kita.

Alhamdulilah suami saya sangat mendukung saya untuk program ASI eksklusif ini, dan dialah yang banyak mencari tahu di internet dan majalah tentang ASI eksklusif. Suami saya banyak belajar dari AIMI ASI yaitu Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia yang mana anjurannya sejalan dengan nasihat dari dr.Prita. Dalam komunitas ibu menyusui ini, sangat disarankan (bahkan diwajibkan) untuk melakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini) sesaat setelah lahir. Kemudian dilanjutkan dengan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan. Hanya ASI. Tidak susu formula, air putih, apalagi makanan lainnya seperti pisang dll. Tindakan IMD ini saya dapatkan pada JIH sesaat setelah lahir. Setelah proses melahirkan secara normal yang saya alami, masih dengan dipenuhi darah, bahkan tali pusar antara saya dan anak saya masih belum dipotong, saya langsung dianjurkan oleh dr.Prita untuk meletakkan bayi mungil saya di sekitar payudara. Dan proses ini berlangsung selama kurang lebih 1 jam. Anak saya mendapatkan cairan emas (kandungan kolostrum) pada masa awal pemberian ASI. Sungguh hal ini sangat tidak tergantikan dengan susu formula terhebat sekalipun.

Selanjutnya proses pemberian ASI berjalan normal sebagaimana mestinya. Namun tantangan berikutnya yang saya hadapi adalah saya harus kembali masuk kantor setelah masa cuti saya selesai. Mulailah segala perlengkapan dan pengetahuan kami siapkan. Mulai dari memerah ASI sebulan sebelum masuk kerja. Dan sesuai dengan anjuran dokter dari klinik Laktasi, lebih baik memerah dengan tangan karena dapat langsung merasakan jika ada gumpalan pada payudara. Jika dengan tangan, kita cukup menekan pada “pabrik” nya saja. Berbeda hal nya jika dengan breast pump. Payudara dihisap/disedot hanya dari puting saja. Selain itu, kami mulai belajar bagaimana proses menyimpan ASI perahan. Dari fresh setelah di perah, disimpan pada kulkas biasa (bukan freezer) beberapa saat, kemudian dipindahkan ke freezer. Karena ASI hasil perahan TIDAK boleh mengalami perubahan suhu yang drastis. Misalnya setelah perah, langsung dimasukkan ke freezer. Atau sebaliknya, dari freezer langsung dihangatkan untuk diminum.

Pada awal hari masuk kerja, anak saya di rumah bersama ibu saya. Dan kami sudah mulai melatihnya dengan pemberian melalui Cup Feeder (seperti gelas sloki kecil). Namun anak saya susah dan menangis saat proses minum susu melalui Cup Feeder. Hal ini berlangsung selama sekitar 3 hari. Dan tentu saja, ibu saya mulai putus asa karena tidak ingin cucu kesayangannya kekurangan asupan gizi, dan mulai menawarkan kepada saya agar diberikan melalui dot. Saya dan suami memberikan support pada ibu, dalam hal ini yang mengasuh anak saya ketika saya bekerja. Support ini sangat penting, karena butuh kesabaran yang ekstra untuk memberikan ASI tidak melalui dot. Hingga kami mengganti dari Cup Feeder menjadi Advanced Softcup Feeder. Dengan alat ini, anak saya lebih mudah meminum susu serta ibu saya juga lebih mudah dalam proses pemberian susu. Adapun beberapa alat yang dapat digunakan sebagai alternatif pengganti dot adalah: sendok, pipet, cup feeder/gelas sloki atau softcup feeder.

Alhamdulillah proses ini berjalan dengan baik, bahkan anak saya tidak suka diberikan minum melalui dot, dan saat ini pada usia 5 bulan, dia sudah bisa minum melalui gelas kecil. Adapun proses memerah ASI ini HARUS dilakukan secara rutin. Tidak menunggu sampai payudara terasa keras, baru mulai memerah. Saya sendiri sebisa mungkin setiap 2-3 jam disempatkan waktu untuk memerah. Hal ini mudah saya lakukan jika di kantor. Kadang di ruang menyusui ataupun di dalam toilet. Bahkan saat di pesawat sekalipun, saya pernah memerah dalam toilet pesawat. Dan dilanjutkan saat pesawat mendarat di toilet bandara. Semakin sering ASI diperah, semakin banyak juga produksinya.

Insya Allah ASI ekslusif dapat berhasil jika mendapat dukungan dan kerja sama yg baik antara suami, istri dan pengasuh. Sebelum diberikan kepada pengasuh, anak HARUS sudah dilatih terlebih dahulu untuk meminum ASI melalui cup feeder, jadi kita tinggal melatih pengasuhnya saja. Proses latihan ini memang tidak sebentar, perlu kesabaran. Namun, Insya Allah usaha dan niat baik akan menghasilkan hasil yang baik.

Sekian pengalaman saya selama 5 bulan ini, semoga bermanfaat bagi yang membaca, saya berharap dapat terus memberikan ASI kepada anak saya sampai usianya 2 tahun, semoga Allah membantu saya dan para ibu menyusui lainnya, amin. “

Cerita lainnya bisa dilihat di sini
http://jih.co.id/testimoni-pasien/?wpcrp=1#hreview-5

Gambar : salah satu slide dari presentasi DR. dr. Utami Roesli pada PIT Fetomaternal, 2011

Apa Bedanya Melahirkan Jaman Dulu dan Jaman Sekarang?

Kalau proses persalinannya memang dari sejak jaman ibu Hawa sampai bunda Maryam hingga ke abad 21 sih tidak ada bedanya.  Namun bagaimana penanganan terhadap ibu yang sedang bersalin dan bayi yang baru dilahirkan itulah yang berbeda.

Perbedaan-perbedaan yang saya inventarisasi di bawah ini, termasuk yang saya alami sendiri tentunya.

20 TAHUN YANG LALU…….

  1. Ibu menjalani proses persalinan sendirian, tanpa didampingi oleh suami atau keluarga dekat lainnya.
  2. Setelah bayi lahir dan tali pusat dipotong, langsung dibawa ke kamar bayi untuk dimandikan.
  3. Setelah mandi dan dibedong, bayi diletakkan di boks dalam kamar bayi yang berjendela kaca. Ibu dan keluarga lainnya ‘menonton’ bayi dari balik kaca bak ikan dalam akuarium.
  4. Bayi diserahkan kepada ibu untuk disusui hanya dalam jam-jam tertentu.
  5. Di luar jam menyusui, apabila bayi menangis maka diberikan susu formula dalam botol.
  6. Saat pulang dari rumah sakit/rumah bersalin, susu formula dalam kaleng yang masih tersisa dibawakan kepada ibu, sehingga ibu dapat melanjutkan pemakaiannya di rumah.
  7. Ibu pulang ke rumah setelah 3 hari dalam perawatan
  8. Di rumah, terkadang masih dikekang dengan berbagai peraturan, misalnya: tidak boleh keluar rumah sebelum 40 hari, tidak boleh duduk bersimpuh di lantai, tidak boleh tidur di pagi atau siang hari (lengkap sudah penderitaan si ibu : semalaman bergadang, lemes dan pegalnya usai bersalin masih mendera, menyusui bayi, eh… paginya tidak boleh tidur)

SEKARANG……

  1. Ibu menjalani proses persalinan dengan pendampingan dari suami atau keluarga dekat yang lain. (ibu lebih tenang dengan dukungan doa dan semangat dari orang terdekatnya, sehingga proses persalinan berjalan lebih lancar)
  2. Setelah bayi lahir, tali pusat tidak langsung dipotong, dilakukan pembersihan lendir seperlunya kemudian bayi langsung ditengkurapkan di dada ibu sehingga kulit ibu dan kulit bayi saling bersentuhan (inisiasi menyusu dini).  Tali pusat baru dijepit dan dipotong setelah berhenti berdenyut.
  3. Ayah bayi memperdengarkan adzan di telinga bayi saat bayi di dada ibunya (sungguh sebuah momen yang paling dramatis…)
  4. Bayi dibiarkan menempel di dada ibu sambil merangkak mencari payudara guna mendapatkan ASI
  5. Setelah berlangsung kira-kira 1 jam maka bayi diangkat dan dibersihkan serta dilakukan penimbangan dan pengukuran panjang badan. Bayi tidak dimandikan saat baru lahir. Tali pusat dipotong saat  ini (oleh bidan atau ayah bayi)
  6. Bayi berada sekamar dengan ibu selama 24 jam (rawat gabung = rooming in).
  7. Bayi tidak diberikan apa pun kecuali ASI, hatta saat itu ASI belum keluar (ASI eksklusif).
  8. Ibu dan bayi pulang ke rumah setelah minimal 36 jam dalam perawatan.

TETAPI… IRONISNYA, beberapa kebiasaan keliru masih dipertahankan di era digital ini (meskipun beralasan “ini disuruh orang-orang tua”), antara lain:
1. Pakai jimat (gunting, peniti, pemotong kuku, pistol, granat, bom…lho..ibu hamil kok malah jadi teroris?)
2. Berpantang makanan tertentu
3. Tidak boleh minum es
4. Buat selamatan di usia tertentu
5. Bayi harus dapat susu formula karena ASI saja tidak akan cukup (“lihat saja betapa lahap si bayi menghisap ASI”. Padahal, semakin disedot produksi ASI akan semakin berlimpah)

(nin)